Pesona Sekretaris Cupu Ku

Pesona Sekretaris Cupu Ku
9. Tugas Sekretaris pribadi.


Luna berjalan masuk kedalam kantor Marvin lalu menuju pintu didalam kantor itu dan mulai mengetuknya.


"Tok..tok...tok...."


Luna menghentikan ketukannya waktu tidak ada tanggapan dari dalam ruangan.


Cukup lama dia diam karena merasa mulai gugup harus berdiri lama sambil menunggu reaksi orang yang berada dibalik pintu untuk menyuruhnya masuk kedalam.


Karena gugup kalau harus terus menunggu seperti itu Luna mencoba menekan handel pintu didepannya yang ternyata tidak terkunci.


Luna terdiam mengetahui hal itu.Rasa gugup dan bingung semakin merayapi tubuhnya tapi sekilas dia ingat pesan si bodyguard sebelum dia masuk keruangan Marvin tadi.


'Tuan Marvin meminta anda untuk membangunkan beliau waktu anda datang karena beliau ada rapat pagi ini'.


Mengingat hal itu Luna memutuskan membuka handel pintu yang sepertinya merupakan ruangan pribadi Marvin dikantornya.


Dengan sedikit gemetar Luna berjalan masuk kedalam ruangan yang terlihat remang dan Luna harus membiasakan dulu pandangannya dengan kacamata tebal yang dipakainya untuk memastikan suasana ruangan itu.


Setelah mulai terbiasa Luna bisa melihat sosok yang sedang tidur diatas ranjang yang berada ditengah ruangan itu sebagai Marvin.


Dengan langkah pelan Luna berjalan menghampiri ranjang lalu berhenti ditepinya bermaksud mulai membangunkan pria yang masih tertidur nyenyak disana.


Luna mengepalkan kedua tangannya menahan diri untuk tidak menyentuh pria itu waktu membangunkannya karena melihat bagaimana sekarang penampilan Marvin yang sangat menggoda imannya dengan hanya selimut yang menutupi sebagian tubuh atasnya yang sedang terlelap dengan nafas teratur.


"Tu..tuan Marvin bangun ini sudah pagi",panggilnya lirih khawatir kalau dia memanggil keras pria itu akan murka padanya karena terkejut.


Tapi mungkin karena Luna memanggil terlalu pelan atau memang Marvin yang terlalu lelap tertidur panggilan Luna barusan tidak berpengaruh apa-apa.


Luna menghela nafasnya keras dan mencoba mengumpulkan semua keberaniannya sebelum kembali membangunkan pria itu.


"Tuan Marvin bisakah anda bangun dari tidur anda sekarang karena hari sudah pagi dan anda pagi ini ada rapat penting dengan klien anda...".


Seketika sebuah tangan besar langsung menarik tubuh Luna membuat Luna langsung terjatuh keatas ranjang dengan cukup keras sampai membuatnya terpekik karena terkejut.


"Auw!!Tuan Marvin apa yang anda lakukan lepaskan saya!", teriaknya dengan mencoba mendorong tubuh Marvin yang mengunci tubuh Luna dibawah kungkungannya.


"Oh Shittt!!tidak bisakah kau belajar membangunkan orang dengan cara yang lebih baik!",bentaknya dengan bangun dari posisinya membuat Luna hanya terdiam karena syok dan bingung dengan reaksi Marvin barusan.


"Bukankah Anda yang memerintahkan saya untuk membangunkan anda karena anda ada rapat penting pagi ini",protes Luna tidak mau disalahkan oleh Marvin karena sepertinya cara membangunkannya barusan membuat pria itu terkejut sampai secara reflek menariknya.


"Aku ingat tapi bukan berarti kau membangunkan aku seperti membangunkan segerombolan tentara!.


Marvin menatap Luna dengan sangat kesal mengingat bagaimana barusan Luna bicara dengan nada keras didekat telinganya hingga membuatnya terkejut.


"Maaf tuan saya sudah mencoba memanggil anda dengan lembut tapi anda tidak mau bangun karena itu...".


Marvin menatap Luna tajam tanpa perduli bagaimana kondisinya sekarang yang sedang bertelanjang dada membuat bola mata Luna membulat sempurna melihat pahatan deretan otot otot liat ditubuh milik Marvin yang berada sangat dekat dengannya sekarang.


"Apakah Sasa tidak mengatakan padamu bagaimana seharusnya kau membangunkan aku kemarin?!".


"Aku tau kau sekretarisku tapi apa kau tau apa posisimu?".


Luna menggeleng.


"Sekretaris pribadi dan sepertinya Sasa tidak mengatakan arti pribadi itu padamu kemarin".


lagi lagi Luna hanya menjawab dengan gelengan perkataan Marvin.


"Baiklah meski aku tidak suka kau menjadi sekretaris pribadiku tapi biar kukatakan tugasmu sebenarnya.Kau harus mengurusi semua urusan pribadiku dari mulai bangun tidur sampai aku akan tidur lagi apa kau paham!".


Kali ini Luna benar benar tidak bisa tidak terlihat terkejut mendengar definisi pekerjaannya sebagai sekretaris pribadi seorang Marvin yang tidak jauh beda dengan tugas seorang istri tanpa status mungkin itu istilah yang benar atau istri tanpa urusan ranjang atau jangan jangan itu juga termasuk mengingat bagaimana penampilan Sasa kemarin dihadapan pria didepannya ini.


Secara reflek Luna menyilang kan kedua tangannya kedepan dada karena sempat memikirkan hal itu.


Melihat apa yang dilakukan Luna Marvin mengerutkan keningnya heran.


"Kenapa kau menutupi tubuhmu seperti itu?".


"I..itu tuan Marvin saya hanya sekretaris anda tidak lebih jadi saya keberatan kalau harus juga melayani anda dalam urusan ranjang",ucapnya secara jujur yang membuat Marvin terdiam lalu tiba tiba tertawa keras bahkan saking kerasnya mungkin suara tawanya bisa terdengar sampai keluar ruangannya.


"Sepertinya kau perempuan yang lugu",ucapnya dengan ekspresi menggoda kearah Luna.


Mendengar asumsi itu Luna segera menggeleng.


"Tidak saya pernah berkencan dengan pria'Dan pria itu anda',batin Luna. Tapi saya tidak suka berhubungan dengan sembarang pria", tegasnya.


Marvin hanya menaikkan alisnya mendengar hal itu tanpa berniat menjawab pernyataan Luna dan memilih beringsut turun dari ranjang yang hampir membuat Luna terpekik karena berpikir Marvin tidak mengenakan apapun dibagian bawah tubuhnya saat itu.


Marvin kembali menoleh kearah Luna waktu mendengar Luna seolah akan berteriak.


"Ada apa lagi apa kau pikir aku sekarang telanjang?!".


Luna hanya bisa menjawab pertanyaan bernada kesal dari Marvin dengan gelengan dan tanpa sadar merasa lega karena pria itu masih menutupi bagian kursial tubuhnya meski tetap terlihat menonjol dibalik boxer yang dikenakannya.


"Dari pada kau hanya memandangi tubuhku seperti perawan tua sekarang lebih baik kau siapkan pakaian yang akan aku pakai hari ini".


Marvin mengatakan hal itu dengan berjalan masuk kedalam kamar mandinya.


Setelah pintu kamar mandi tertutup tanpa sadar Luna menarik nafas lega karena dia merasa cukup syok dengan semua kejutan yang dialaminya barusan.


"Hufft hampir saja aku seperti orang gila hanya karena melihat bagian atas tubuhnya yang polos jadi aku sempat beranggapan dia juga tidak menutupi bagian bawahnya tadi".


Cukup lama Luna terdiam diposisinya sekarang sampai dia sadar dengan perintah yang diberikan Marvin tadi padanya.


Dengan bergegas Luna turun dari ranjang dan berjalan menuju walk in kloset pria itu.


Luna segera mencari barang barang yang akan dipakai Marvin hari ini.Meski Marvin tidak mengatakan dia akan memakai pakaian seperti apa tapi kalau soal masalah penampilan Luna yang memang biasanya sangat perduli dengan penampilannya jadi merasa tidak kesulitan untuk memadu padankan barang yang akan dikenakan Marvin hari ini dikantor.