
"Mau makan malam dulu sebelum kita pulang",tawar Marvin pada Luna setelah selesai melakukan pertemuan dengan beberapa investor dan rekan bisnis pria itu untuk membahas kerjasama selama satu hari ini.
Luna terdiam karena merasa sedikit ragu mendengar tawaran yang diberikan Marvin padanya.
"Aku lapar sekarang,apa kau tidak setelah bekerja seharian?",tanya Marvin lagi dengan menyandarkan tubuhnya di jok mobil.
"Saya ...kruyuk...'.
Luna langsung menghentikan ucapannya yang ingin bilang tidak kepada pria itu karena ternyata perutnya lebih dulu jujur mengatakan apa keinginannya sekarang dibanding mulutnya.
"Kalau begitu kita makan dulu sebelum pulang".
Setelah mengatakan itu Marvin meminta sopirnya untuk membawanya ke restoran langganannya.
"Ayo turun"ajak Marvin dengan membukakan pintu mobil untuk Luna mengajaknya turun.
"terimakasih tuan..".
"Marvin bukankah kau seharusnya memanggil aku Marvin kalau sudah tidak dikantor",terang Marvin dengan meraih tangan Luna untuk membantunya keluar dari mobil.
"Terimakasih Vin",ulang Luna pada Pria itu yang membuat Marvin lega mendengarnya.
"kalau begitu ayo kita kedalam",ajak Marvin yang diangguki oleh Luna dan ikut Marvin masuk kedalam restoran.
"Kamu ingin makan apa?",tanya Marvin waktu pelayanan memberikan menu padanya.
"Aku ingin pasta saja karena sepertinya pasta disini terlihat sangat lezat",jawab Luna.
Mendengar itu Marvin mengatakan pesanan mereka pada pelayan yang masih berdiri disamping meja mereka,dalam bahasa Italia karena restoran yang mereka masuki memang restoran Italia.
"Kau bisa berbahasa Italia?",tanya Luna setelah pelayan itu pergi.
"Ya...karena ayahku orang Italia",jelasnya dengan menatap kearah Luna yang terlihat kagum mendengar itu.
"Pantas saja wajahmu sangat tampan. Apa mungkin itu karena ayah mu yang punya darah Italia".
"Apa aku terlihat seperti itu dimatamu?",tanya Marvin masih tetap menatap Luna.
"Jujur saja iya..".
"Lalu bagaimana denganmu?".
"maksud mu?".
"Dari mana orang tuamu berasal karena kulihat warna rambutmu tidak biasa".
"Ini".
Tanpa sadar Luna menyentuh rambut dikepalanya.
"Iya...itu warna asli atau...".
"Ini berasal dari ibuku yang mewariskannya".
"Jadi asli?".
"Iya...apa tidak bagus? Karena jujur aku sangat menyukai rambutku . Karena ini salah satu yang membuat aku seolah dekat dengan ibuku yang sudah tidak ada lagi ".
"Tidak, itu sangat cantik warnanya seolah seperti cahaya bulan kalau berada dalam kegelapan".
Wajah Luna langsung bersemu merah mendengar ucapan Marvin dalam menggambarkan rambutnya, tapi Luna ingat Marvin juga mengatakan hal itu waktu malam mereka bersama dengan menyentuh setiap helai rambutnya dengan lembut.
"Terimakasih pujiannya",balas Luna dengan memalingkan wajahnya ketempat lain agar Marvin tidak bisa melihat wajahnya yang merah sekarang.
"Ini pesanan anda tuan silahkan dinikmati",ucap pelayan pada mereka berdua dalam bahasa Italia hingga membuat percakapan mereka yang mulai akrab terputus sementara.
"Ayo makan sekarang sebelum menjadi dingin",perintah Marvin pada Luna yang dijawab gadis itu dengan anggukan.
Luna memasukkan sesendok pasta kedalam mulutnya lalu terdiam.
"Bagaimana?",tanya Marvin waktu melihat ekspresi Luna waktu merasakan pasta yang ada dimulutnya.
"Enak..ini benar benar enak lain kali aku ingin pergi kesini lagi untuk memakan ini lagi",ucapnya dengan mulut masih berisi pasta.
"Kau suka?",tanya Marvin yang langsung diangguki oleh Luna
"Kalau begitu makanlah yang banyak dan lain kali aku akan mengajakmu kesini lagi supaya kau bisa mencoba menu lainnya.Karena menu lain disini juga sama enaknya seperti yang ini".
"Apa kau akan mengajakku lagi kesini?",tanya Luna tidak percaya.
Marvin mengangguk.
"Iya..apa kau tidak mau?",tanyanya balik.
Luna cepat cepat menggeleng",Tidak tentu saja aku mau kalau kau mengajakku kesini lagi".
"Syukurlah kupikir kau tidak mau makan malam bersamaku lagi lain kali",balas Marvin.
"Kenapa kau bicara begitu?",tanya Luna bingung.
Marvin menggeleng,"Tidak ada,nanti aku juga ingin mengajakmu menikmati restoran lain yang tidak kalah bagusnya seperti ini".
Luna hanya mengangguk sambil terus menyuapkan makanan kemulutnya sampai makanan miliknya habis.
"Sepertinya tanpa sadar aku sangat lapar tadi karena itu makanan milikku tidak bersisa lagi",ucapnya pada Marvin dengan mendorong piring kosong miliknya kesamping.
"Itu pasti karena aku tadi cukup membuatmu lelah dengan Harus mengikutiku bertemu banyak orang dan tidak semua dari mereka pengertian bukan",balas Marvin dengan membersihkan sisa saus dimulut Luna dengan serbet miliknya membuat Luna terkejut melihat apa yang Marvin lakukan itu.
"Vin apa yang...!".
"Ada saus menempel disudut bibirmu dan kau tidak bisa melihatnya jadi aku berinisiatif membantumu.Apa kau keberatan?".
Sebenarnya Luna merasa malu dengan sikap manis yang baru saja Marvin lakukan padanya itu tapi dia hanya bisa menggeleng untuk menjawab alasan pria itu. Karena Luna tau kalau Marvin tidak ingin melakukannya dia bisa menegur tentang adanya saus dimulut Luna barusan tapi dia tidak melakukan itu dan malah berinisiatif melakukannya sendiri.
"Oh kalau begitu terimakasih",balas Luna tidak ingin semakin merasa tidak nyaman sekarang.
"Apa kau sudah selesai?",tanya Marvin bermaksud untuk mengajak Luna pergi dari restoran itu.
Luna mengangguk dan mulai berdiri,"Ayo kita pulang",ajak Luna sebelum Marvin mengajaknya pergi dia mengatakan itu lebih dulu membuat Marvin mengangkat sebelah alisnya.
"Sepertinya kau tipe perempuan yang cukup berinisiatif",ucap Marvin tiba tiba dengan mengikuti Luna bangkit dari duduknya dan mengajaknya keluar.
Luna ingin bertanya apa maksud ucapan Marvin tapi karena sekarang mereka sedang berjalan kearah luar restoran jadi dia mengurungkan niatnya, karena tidak ingin terlihat tidak sopan didepan pengunjung lain yang mereka lewati waktu keluar.
"Malam ini istirahatlah lebih cepat karena aku yakin kau pasti sangat lelah",ucap Marvin waktu mereka sudah berada didalam mobil dan sedang dalam perjalanan pulang kerumah.
"Kau juga karena aku yakin kau lebih lelah dari aku yang hanya sekretarismu".
Marvin menyandarkan tubuhnya ke jok mobil lalu mulai bicara lagi dengan menoleh kearah Luna.
"Aku ingin tapi sepertinya aku tidak bisa karena masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan nanti dirumah".
"Apakah harus malam ini kau mengerjakannya?",tanya Luna reflek dan langsung memalingkan wajahnya karena malu waktu sadar kalau pertanyaannya barusan bisa dimaknai lain oleh Marvin.
Marvin diam melihat ekspresi Luna sekarang dan tiba tiba merasa ingin sedikit menggoda perempuan itu yang terlihat malu karena pertanyaan nya sendiri barusan.
"Apa kau ingin aku menundanya malam ini?",Tanya balik Marvin yang membuat Luna langsung kembali menoleh kearah pria itu karena pertanyaan bernada jebakan yang balas diberikan Marvin untuknya akibat pertanyaannya.