
Luna melangkahkan kakinya keluar dari mobil Marvin lalu mengikuti pria itu masuk kebangunan Apartemen elit yang akan menjadi tempat tinggal mereka.
"Kita akan tinggal disini?".
"Iya... mulai sekarang sampai perjanjian kita berakhir".Terang Marvin dengan berjalan masuk kedalam Apartemen mewah yang akan menjadi tempat tinggal mereka mulai hari ini.Luna mengamati sekeliling ruangan.
'Sangat mewah 'batin Luna waktu melihat ruangan didalam Apartemen yang akan menjadi tempat tinggalnya selama menjadi istri Marvin Fox.
"Ada dua kamar tidur dengan fasilitas kamar sesuai standar hotel berkelas".
terang Marvin lagi yang hanya diangguki oleh Luna.
"Terimakasih tuan Marvin",balas Luna dengan melangkahkan kakinya ke area dapur yang menyatu dengan ruang tamu tempat mereka berdiri sekarang untuk membuka kulkas dan mengambil air minum dari dalamnya.
"Sebenarnya aku tidak ingin kita saling mengusik selama menjalani pernikahan ini tapi karena selain istri kontrakku kau juga bekerja sebagai sekretaris pribadiku jadi kau ingat bukan apa tugas yang harus kau lakukan sebagai sekretaris ku".
Luna langsung menoleh dengan masih memegang gelas minum ditangannya waktu mendengar ucapan Marvin.
"Maksud anda?".
"Selama ini aku lebih banyak tidur dikantor untuk memudahkan pekerjaanku karena itu biasanya para sekretaris pribadiku harus datang lebih pagi dari jadwal sebenarnya kekantor karena mereka harus membantuku mempersiapkan semua keperluanku setiap harinya".
Luna terdiam menunggu Marvin melanjutkan lagi bicaranya dengan perasaan yang mulai tidak menentu karena sempat melupakan masalah ini waktu dia menyetujui saran pernikahan kontrak yang diucapkan Marvin kemarin.
"Tapi karena kita akan tinggal bersama terutama selama masa kontrak pernikahan ini jadi aku akan mengusahakan untuk bisa pulang setiap hari supaya kau tidak perlu lagi berangkat lebih pagi seperti biasanya untuk membantuku bersiap".
"Jadi meski kita sudah menikah saya tetap menjadi sekretaris pribadi anda,begitu maksud anda tuan Marvin?".
"Tentu saja,pernikahan kita kemarin tidak merubah apapun dalam status hubungan kita".
Tanpa sadar Luna menarik nafas keras mendengar hal itu karena merasa dadanya terasa nyeri.
"Baiklah,hanya melakukan pekerjaan saya seperti biasa bukan dan kita juga tetap saling menyebut secara formal seperti ini bukan?".
"Ya ...untuk masalah itu senyaman dirimu saja Luna".
"Lalu bagaimana kalau ada acara kantor atau kalau kita harus pergi bertemu klien yang mengharuskan kita sebagai pasangan".
"Itu akan kuhitung sebagai bonus lembur untukmu".
Sebenarnya Luna merasa tidak suka mendengar pengaturan yang dilakukan Marvin tapi....untuk sementara dia akan menurut minimal sampai semua masalah yang dihadapinya bersama Daddynya beres.
"Baiklah apapun itu akan saya turuti tuan Marvin asal semuanya atas nama pekerjaan!".
Meski sudah berusaha menganggap semuanya biasa saja tapi Luna tetap tidak bisa menahan emosinya terus menerus menghadapi pria dengan pemikiran diluar nalarnya itu.
Marvin sedikit terhenyak mendengar jawaban bernada sarkas yang dilontarkan Luna padanya lalu menatap kearah Luna yang juga sedang menatap kearahnya membuat tatapan mereka bertemu dan terkunci meski hanya sesat karena Luna segera mengalihkan tatapannya kearah lain.
"Saya ingin istirahat dikamar saya sekarang,apa tidak masalah?".
"Ya hari ini kau boleh tetap dirumah untuk istirahat".
"Lalu anda?".
Luna langsung menoleh lagi kearah Marvin mendengar kalimat terakhir yang diucapkan pria itu.
"Aku akan kembali kekantor tapi tenang saja aku kan pulang seperti ucapanku tadi.Nanti aku akan memberitaumu kapan kau boleh membangunkan aku besok pagi".
Setelah Marvin pergi Luna masuk kekamar yang diberikan untuknya oleh Marvin.
Kamar yang ditempati Luna seperti yang dikatakan Marvin sangat mewah dan nyaman benar benar sesuai selera Marvin selama ini yang selalu berkelas.
Untung saja kamar dan Apartemen yang dipilih Marvin benar benar sangat nyaman. Jadi meski kesal dengan sikap aneh Marvin padanya yang sangat berbeda dari pria yang sempat menghabiskan satu malam panas dengannya. Luna tetap tidak bisa menolak kemewahan yang diberikan pria itu padanya sekarang karena selain nyaman itu juga merupakan tempat paling aman untuknya sekarang.
Luna memilih beristirahat dan tidak ingin memikirkan apapun sekarang karena dia merasa sangat lelah dan tidak lama dia tertidur.
Luna terbangun cukup pagi karena sudah tidur sejak Marvin pergi tanpa bangun lagi.
Setelah bangun dia segeraembersihakan diri dan bersiap sebelum Marvin menghubunginya untuk memerintahkannya melakukan pekerjaan sebagai sekretarisnya.
Benar saja waktu Luna memeriksa ponselnya ada pesan dari Marvin yang meminta Luna untuk dibangunkan lebih cepat setengah jam dari biasanya karena dia akan menghadiri pertemuan dengan klien pagi ini.
"Hufft,apa tidak ada pikiran lain selain pekerjaan diotaknya itu dari bangun tidur sampai tidur lagi hal yang pertama kali dia ingat adalah pekerjaan dasar pria menyebalkan.Untung saja ini hanya pernikahan kontrak kalau ini pernikahan sebenarnya mungkin belum genap satu bulan aku sudah minta bercerai karena posisiku kalah dengan pekerjaannya".
Luna menggerutu sambil berjalan menuju kamar Marvin dan bermaksud langsung membuka handel pintu tapi dia terkejut karena handel itu sudah terputar dari dalam dan karena terkejut waktu pintu itu tiba tiba terbuka.
Luna yang sedang dalam posisi tidak stabil langsung oleng kedepan hingga menubruk tepat dibadan Marvin yang berada diambang pintunya.
"Bruk!!".
"UPS...".
Melihat Luna yang oleng kearahnya Marvin langsung melingkarkan tangannya ketubuh Luna agar mereka berdua tidak terjatuh.
"Maaf tuan Marvin".
Ucapnya dengan berusaha menegakkan tubuhnya yang berada dalam pelukan Marvin.
Marvin masih tidak bergerak dari posisinya dan seolah juga tidak mendengar apa yang baru saja Luna katakan karena pikirannya lebih fokus kesesuatu yang terasa sangat familiar dihidungnya sekarang sampai Luna sendiri yang mundur kebelakang baru Marvin tersadar dari lamunannya barusan.
"Maaf...",ucap Luna dengan memalingkan wajahnya dari pria itu karena tidak ingin Marvin mengetahui rasa gugup yang sekarang dirasakannya akibat tabrakan tubuh yang baru saja terjadi itu.
"Oh...lupakan saja",balas Marvin dengan berjalan menjauh dari depan pintunya untuk mempersilahkan Luna masuk kedalam kamarnya.
"A..anda sudah siap?".
Tanya Luna sedikit terkejut karena melihat pria itu terlihat sudah rapi berpakaian sekarang.
"Oh ..i..iya..aku harus pergi kesuatu tempat selama dua hari pagi ini karena itu aku..".
"Anda akan dinas?!".
Luna langsung menatap kearah Marvin, yang dijawab anggukan oleh Marvin.
"Iya selama dua hari,jadi ...".
"Kenapa anda baru bilang sekarang?!".
"Hah!itu aku lupa tadi malam, karena pulang ku sudah cukup malam dan aku mengirimimu pesan sebelum jadwalku yang ini keluar".
Entah mengapa Marvin merasa sedikit gugup diberi pertanyaan Luna dengan nada seperti itu hingga tanpa sadar dia menjelaskan hal yang sebenarnya pada perempuan itu.