Pesona Sekretaris Cupu Ku

Pesona Sekretaris Cupu Ku
26.Kamu Sudah Menjadi Milikku.


"Huaaammm".


Luna menggeliatkan tubuhnya kebiasaannya sebelum bangun dari tidurnya setiap pagi.


"Sudah bangun".


Seketika gerakan tangannya yang merentang lebar terhenti diudara dan dia langsung membuka matanya waktu mendengar suara Marvin yang sangat dekat dengan telinganya.


"Aaaap....".


Teriakan Luna terhenti oleh pagutan Marvin yang tiba tiba di bibirnya dan hanya bisa membelalakkan matanya antara terkejut dan syok mendapat sambutan seperti itu pagi ini dalam kondisi masih setengah sadar.


"Morning Kiss",ucap Marvin setelah melepaskan penyatuan bibir mereka.


"A..apa maksudmu kenapa...kau bisa berada dikamarku sekarang?!",Luna bicara dengan nada setengah berteriak karena kesal Marvin menciumnya tiba tiba seperti barusan.


"Kamarmu?Bukannya ini kamar kita?Jangan bilang kau lupa dengan apa yang sudah kita lakukan tadi malam?!",jawab Marvin merasa sedikit kesal mendapat reaksi seperti itu dari Luna.


Mendengar apa yang dikatakan Marvin Luna hanya bisa mengerjabkan kerjabkan matanya antara bingung dan syok waktu ingat apa yang sudah terjadi antara dirinya dan pria disamping nya ini tadi malam.


"Apa maksud ekspresimu itu?!",tanya Marvin dengan menatap lurus kearah Luna.


Luna segera menggelengkan kepalanya.


"Aku seperti bermimpi tadi malam jadi....".


"Itu nyata dan kalau kau masih merasa tidak percaya apa perlu kita melakukannya lagi sekarang untuk membuat ingatanmu tentang semalam pulih".


Marvin mengatakan itu dengan berguling keatas tubuh Luna,membuat Luna sangat terkejut dan reflek menekan dada polos Marvin dengan kedua telapak tangannya.


"Vin tunggu! A...aku ingat semua.Aku hanya terkejut karena belum terbiasa ada seorang pria disampingku!",terang Luna.


"Benarkah hanya itu karena kalau kau benar tidak ingat aku akan dengan senang hati mengulang lagi semua yang sudah kita lakukan semalam pagi ini, sayang",balas Marvin sengaja mengatakan itu didekat telinga Luna.


"Ja..jangan sekarang karena kita akan terlambat kerja, selain itu milikku juga masih sakit",terang Luna dengan wajah memerah waktu mengatakan kalimat terakhir itu pada Marvin.


Mendengar itu Marvin bangkit dari posisinya yang mengungkung Luna dan Luna sudah berpikir Marvin akan pergi meninggalkannya tapi ternyata dia salah karena tiba tiba Marvin menyingkap selimut yang dipakai Luna untuk menutupi tubuhnya.


"Vin!A..apa yang....".


"Diamlah aku hanya ingin memeriksa milikmu .Apakah parah atau tidak",ucap Marvin dengan menundukan wajahnya kearah bagian bawah tubuh Luna dan bermaksud menyentuhnya tapi dengan reflek Luna merapatkan kedua kakinya waktu tangan Marvin hampir menyentuh bagian itu.


"I..itu tidak papa nanti juga akan sembuh sendiri",jawab Luna dengan wajah semakin memerah waktu mengatakannya.


"Bukalah Luna...."bujuk Marvin dengan menyentuh kan tangannya dikedua kaki Luna dan memintanya untuk membuka agar dia bisa melihat bagian itu.


"Sudah kubilang itu akan sembuh sendiri nanti seperti waktu itu jadi kau tidak perlu memeriksanya".


"Tapi aku ingin melihatnya sendiri separah apa itu. Agar aku bisa tau sudah sekasar apa aku tadi malam padamu",paksa Marvin dengan merenggangkan kedua kaki Luna.


Dengan pasrah serta wajah sangat merah Luna terpaksa membiarkan Marvin memeriksa bagian paling pribadi tubuhnya itu sekarang.


"Ternyata benar, lain kali aku berusaha lebih lembut lagi waktu bercinta denganmu",gumamnya dengan mengulurkan jemarinya untuk menyentuh bagian bawah tubuh Luna yang terlihat sedikit bengkak dan merah.


"Apa benar begitu?",tanya Marvin dengan menatap kearah Luna yang mulai terengah karena jemari Marvin bukan hanya menyentuh bagian itu dengan niat memeriksa tapi lebih kemenggoda.


"Vin...",desis Luna karena merasa gairahnya mulai tersulut karena gerakan jemari Marvin dibagian bawah tubuhnya sekarang.


"Aku akan memeriksanya dengan cara lain",ucap Marvin dengan suara parau lalu perlahan mulai menundukkan wajahnya kebagian bawah tubuh Luna dan mulai menyesap bagian itu pelan tapi cukup membuat Luna terpekik dan reflek mengangkatkan bagian bawah tubuhnya hingga membuat Marvin semakin mudah menguasai inti tubuh Luna dengan lidah dan bibirnya tanpa berusaha menahan nahannya lagi meski Marvin tau setelah ini pasti bengkak dibagian itu akan semakin parah, tapi dia sudah terlanjur merasakannya dan tidak akan bisa berhenti sebelum apa yang sudah mereka mulai sekarang berakhir dengan teriakan mereka setelah mencapai puncak bersama seperti tadi malam.


Marvin mengangkat wajahnya dari bagian itu dan menatap Luna tanpa suara seolah minta persetujuan dari Luna untuk kembali menyatukan penyatuan dengan perempuan itu sekarang.


Luna langsung menarik Marvin kearahnya sebagai tanda persetujuan dari permintaan Marvin.


Dan akhirnya pagi itu apa yang mereka lakukan tadi malam terulang kembali dengan sama panas seperti tadi malam, mereka baru mengakhiri semuanya setelah mereka berdua berhasil mencapai puncak dengan pelepasan dahsyat seperti tadi malam.


"Makasih sayang dan sekarang kamu benar benar milikku seutuhnya,jangan lupakan itu lagi",ucap Marvin dengan menarik Luna kedalam pelukannya setelah merasakan pelepasan dahsyat dari penyatuan mereka barusan.


"Hemmm",gumam Luna sebagai jawaban ucapan Marvin dan memilih membalas pelukan pria itu sekarang.


"Istirahatlah saja hari ini dirumah karena kau pasti lelah setelah apa yang kita lakukan ini".


Mendengar itu Luna langsung mengangkat tubuhnya menatap Marvin.


"Tidak aku harus tetap pergi kerja hari ini Vin".


"Tapi milikmu akan terasa sakit karena apa yang sudah kita lakukan tadi malam dan barusan".


"Aku tidak papa.Nanti akan membaik sendiri",jawab Luna lagi.


"Tapi kenapa kau tidak ingin istirahat saja dirumah dan tetap mau bekerja?",tanya Marvin heran.


"Tidak ada alasan apapun tapi akan tidak pantas rasanya kalau aku tidak pergi kerja sementara aku masih karyawan baru dikantormu.Apa kata pegawai lain nanti tentang aku".


"Kau tidak perlu memikirkan itu, karena kau memilikiku".


"Itu sekarang karena kita baru mulai menjalin hubungan tapi tidak tau untuk beberapa bulan lagi apakah kau tetap akan mengatakan itu setelah bosan denganku. Sementara aku sudah terlanjur terlena dengan kenyamanan yang kau berikan lalu apa yang bisa aku miliki lagi kalau itu terjadi".


"Sepertinya kau hanya diam saat kita bercinta saja",gerutu Marvin dengan bangkit dari posisinya diikuti Luna.


"Tapi itu benar bukan Vin.Apa kau bisa menjamin kau akan menyukaiku seterusnya".


Marvin menoleh kearah Luna"Aku tidak suka berjanji tapi aku lebih suka membuktikan setiap kata yang keluar dari mulutku jadi apapun asumsimu tentang perasaanku dan hubungan kita sekarang aku tidak perduli".


Luna ingin membalas lagi ucapan Marvin tapi gagal karena tiba tiba Marvin berdiri dari posisi duduknya ditepi ranjang lalu tanpa aba aba langsung membopong tubuh polos Luna membuat Luna terpekik karenanya.


"Vin apa yang...".


"Sekarang berhentilah bicara dan ayo kubawa kau kekamar mandi untuk membuat rasa nyerimu itu berkurang".


"Tapi kau tidak perlu menggendongku.Aku bisa berjalan sendiri Vin".


Mendengar jawaban Luna Marvin langsung menatap Luna tajam.


"Menurutlah sekarang!",perintahnya yang dengan patuh langsung diiyakan Luna.