Pesona Sekretaris Cupu Ku

Pesona Sekretaris Cupu Ku
12.Mari Buat Kesepakatan.


"Apa maksud ucapan anda itu tuan Marvin?Menikah dengan anda? Apa anda masih waras?!".


Luna tidak bisa menahan kekesalannya lagi pada pria dihadapannya itu sekarang.


"Tidak?".


"HAH!!!".


Luna semakin bingung dengan jawaban yang diberikan Marvin padanya.


"Maksud anda?".


"Aku memang sudah tidak waras sekarang,apa kau puas!".


*Ini gila,sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang.D*ia kabur dari tempat ayahnya karena menolak pernikahan yang diperintahkan padanya ,tapi sekarang dia terjebak dengan pria yang sudah menghabiskan satu malam bersamanya lalu diajak menikah oleh pria itu.Apakah memang dunia ini sudah tidak normal sekarang karena pria sekelas Marvin Fox menawarkan pernikahan padanya.Andai dia berpenampilan sebagai Luna yang asli itu mungkin normal tapi ini....Luna pikir otak Marvin memang benar benar bermasalah sekarang karena itu dia mengajaknya menikah.


"T..tuan Marvin anda pasti sedang stres karena tekanan berat dari apa yang tadi diucapkan mama anda karena itu sekarang anda mengusulkan hal gila ini pada saya.Saya akan membantu anda sebagai sekretaris anda tapi untuk menikah dengan anda saya rasa itu tidak mungkin bukankah Anda sendiri sudah menikah sekarang.Lalu bagaimana nanti status saya juga istri anda".


"Apa kau tidak dengar apa yang tadi kukatakan tentang perempuan brengsek yang sudah terpaksa harus kunikahi itu!".


Luna hanya bisa menggeleng melihat emosi Marvin waktu menjawab tentang istrinya itu.


"Itu sebuah pernikahan yang terpaksa aku lakukan tanpa aku pernah bertemu dengan perempuan itu,jadi apa itu bisa disebut pernikahan?".


Luna tidak tau bagaimana menanggapi keluhan Marvin kali ini karena dia merasa heran bahwa ada perempuan yang bisa menolak dijodohkan dengan pria seperti Marvin Fox.


Andai calon suaminya waktu itu seperti pria didepannya ini Luna pasti tidak akan pernah menolak pernikahan yang dipaksakan oleh ayahnya waktu itu.


"Lalu....apa anda juga harus menikah dengan saya untuk membalas mama anda tuan Marvin?Apa tidak bisa dengan cara lain.Misalnya saya berpura pura saja menjadi istri anda seperti keinginan awal Anda tadi".


"Aku juga berharap itu cukup untuk membuat mamaku berhenti mengganggu ku soal keinginannya untuk memiliki cucu dan entah apa lagi nanti.Tapi bagaimana kalau tidak?.Kepalaku terasa sakit sekali sekarang nona Luna karena selalu mendengar hal ini berulang kali".


"Maaf membuat anda semakin tidak nyaman sekarang apa ada yang bisa saya lakukan agar bisa membuat anda membaik sebagai sekretaris anda?".


"Kurasa melakukan pernikahan kontrak denganku untuk sementara sampai mamaku tidak lagi memaksaku untuk mencoba mencari perempuan brengsek itu akan membuat perasaanku membaik dalam waktu yang cukup lama mengalahkan obat apapun".


Kali ini Luna tidak lagi marah pada sosok Marvin tapi lebih keiba dan bingung.


"I..itu tuan...".


"Maukah kau memikirkan hal ini nona Luna?".


"Tuan Marvin tapi kita tidak saling mengenal apalagi mencintai jadi bagaimana bisa kita menikah?".


" Ini hanya pernikahan kontrak untuk sementara jadi kurasa kita tidak perlu saling mencintai karena aku juga tidak butuh itu. Sementara untuk saling mengenal kurasa kita bisa melakukannya dengan berjalannya waktu.Apalagi sekarang kau menjadi sekretarisku jadi kurasa itu tidak akan sulit bukan?".


"Tapi apa anda tidak bisa minta tolong dengan perempuan lain selain saya untuk menjadi istri pura pura anda?Apa harus saya?".


"Ya...".


"Kenapa?".


"Karena hanya kau yang bisa membuat mamaku terkena serangan jantung mendadak kalau kita benar benar menikah".


Tanpa sadar Luna menarik nafas keras mendengar ucapan Marvin.


"Saya tidak ingin terlibat dalam masalah keluarga anda tuan tapi sepertinya anda sudah membuat saya terlibat sekarang jadi....".


"Apakah saya bisa memikirkannya lebih dulu tuan Marvin karena jujur saja meski ini hanya pernikahan kontrak tapi tetap saja ini sebuah pernikahan paling tidak saya harus menyiapkan mental saya untuk sementara menyandang status sebagai nyonya Marvin Fox".


"Baiklah kau bisa memikirkannya dulu tapi aku harap itu tidak akan lama dan yang pasti aku tidak ingin setelah memberimu waktu kau malah berubah pikiran".


"Saya tetap berhak berubah pikiran tuan Marvin karena setelah saya setuju menikah dengan anda banyak hal yang akan berubah dalam hidup saya nantinya".


"Aku hanya butuh statusmu.Untuk hal lainnya kau tetap sebagai dirimu".


"Lalu bagaimana dengan tempat tinggal bukankah kalau kita sudah menikah kita harus tinggal bersama.Maksud saya tinggal disatu rumah".


"Itu betul tapi kita akan tidur dikamar terpisah.Atau kalau anda merasa itu masih kurang privasi untuk anda, mari kita berbagi lantai berbeda dalam satu rumah".


Luna terdiam mendengar ucapan Marvin karena dia merasa seolah Marvin sudah lama merencanakan hubungan mereka ini meski Luna yakin itu tidak benar.


"Lalu apa itu berarti kita tidak perlu saling menyapa waktu didalam rumah nantinya".


"Untuk itu kurasa tidak perlu kita permasalahkan hanya saja yang terpenting jangan pernah membawa orang lain didalam rumah kita nantinya".


"Orang lain?Maksud anda?".


" maksudku pacar.Karena kita harus terlihat seperti pasangan sungguhan didepan mamaku agar dia tidak berusaha mengganggu hidupku dengan para perempuan lagi"..


"Itu tidak masalah saya bisa melakukannya tapi bagaimana dengan penampilan saya apakah itu juga harus berubah?".


Seketika Marvin menatap Luna dari atas kebawah dengan cukup intens membuat Luna merasa gugup ditatap seperti itu oleh Marvin.


"Aku tidak perduli dengan penampilanmu meski kau berpenampilan seperti nenek nenek karena semakin buruk penampilanmu waktu bersamaku itu akan semakin bagus".


Tanpa sadar Luna menarik nafas lega mendengar jawaban Marvin karena jujur saja kalau sampai Marvin memintanya merubah penampilannya kenormal seperti Luna dulu dia pasti akan langsung menolak permintaan pria itu tapi sekarang Luna rasa tidak ada alasan menolak permintaan Marvin karena selain itu menguntungkan bagi Marvin itu juga menguntungkan baginya karena dia akan aman dari niat Daddynya yang ingin menikahkannya dengan rekan bisnisnya kalau nanti penyamarannya terbongkar.


"Baiklah kalau begitu".


"Apa maksudmu?".


Kini Marvin yang sedikit tidak mengerti dengan jawaban Luna.


"Saya rasa saya setuju untuk melakukan pernikahan kontrak dengan anda tuan Marvin".


Kali ini Marvin yang merasa sedikit terhenyak dengan jawaban Luna karena jujur saja dia tadi hanya secara reflek menyarankan hal itu pada Luna dan tidak menyangka semuanya akan sampai titik temu seperti ini.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu?".


Kali ini Luna yang mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Marvin.


"Apa kali ini anda yang tidak yakin dengan keputusan anda barusan tuan Marvin?".


Marvin menyandarkan tubuhnya kesofa dengan menarik nafas keras.


"Bukan itu masalahnya nona Luna hanya saja fokus terbesarku saat ini sebenarnya lebih kebisnisku bukan kepernikahan apalagi memiliki anak".


Deg.....


Tiba tiba Luna ingat bahwa mereka sudah menghabiskan malam bersama waktu itu dan ada kemungkinan dia hamil tapi barusan Marvin menegaskan dia tidak ingin ada anak dalam hidupnya sekarang.