
"Brak!".
Marvin langsung menoleh kearah pintu ruang kerjanya yang tiba tiba dibuka dengan keras dari luar.
"Vin kita perlu bicara",ucap Luna dengan berjalan mendekat kearah meja kerja Marvin.
"Sayang,kenapa kau datang tiba tiba seperti ini?",tanya Marvin dengan menghentikan pekerjaannya.
Luna berjalan menghampiri Marvin lalu berdiri tepat disamping kursi kerja pria itu.
"Kamu sengaja melakukannya kan Vin!",hardiknya dengan wajah kesal.
Marvin mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh Luna tapi segera ditepis Luna.
"Aku merindukanmu sayang kemarilah aku ingin menciummu",ucapnya dengan mencoba menarik Luna mendekat.
"Hentikan Vin! Aku sedang tidak ingin bercanda sekarang karena aku sedang marah padamu!".
"Aku tidak bercanda sayang ,aku benar benar merindukanmu jadi kemarilah Luna".
"Vin hentikan aku kesini untuk bicara denganmu bukan untuk melakukan keinginanmu!"
"Huffft".
"Baik sekarang bicaralah nyonya muda Fox",jawab Marvin dengan melipat tangannya didepan dada dan menatap kearah Luna.
"Apa maksudmu dengan menerima sekretaris yang berpenampilan seperti itu?",tanya Luna dengan menatap Marvin tajam.
"Seperti apa?".
"Cantik sexy dan....".
"Kompeten.Bagiku yang penting mereka kompeten dalam bekerja untuk penampilan aku tidak bisa melarang mereka kalau mereka ingin memakai baju sexy atau agak terbuka karena itu hak mereka sebagai seorang individu bebas dan aku tidak ingin menolak mereka hanya karena apa yang membuat mereka nyaman itu".
"Tapi aku tidak nyaman Vin.Apa kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku waktu ingin menerima mereka!".
"Apa kau berpikir begitu?",balas Marvin yang membuat Luna menjadi bingung.
"Maksudmu?".
"Apa kau suka kalau ada orang yang menilaimu dari penampilan luarmu tanpa memberimu kesempatan untuk membuktikan dirimu lebih dulu sayang'.
Luna langsung menggeleng.
"Tentu saja tidak tapi apa hubungannya itu dengan mereka?".
"Karena itu kemarilah mari kita bicara dengan benar agar kau tidak lagi berpikir buruk padaku",ucap Marvin dengan menepuk pahanya meminta Luna untuk duduk dipangkuannya.
Luna terlihat ragu dan tanpa sadar menoleh kearah pintu karena khawatir akan ada yang masuk tiba tiba.
"Tidak ada yang akan masuk secara tiba tiba sayang jadi ayo kemari",perintah Marvin lagi yang akhirnya dituruti oleh Luna.
"Sudah sekarang cepat katakan kenapa kau memilih sekretaris yang berpenampilan seperti itu?",tanya Luna dengan menatap kearah Marvin.
Bukannya menjawab Marvin malah mendekatkan wajahnya kearah Luna.
"Aku merindukanmu sayang sudah beberapa waktu ini aku sangat sulit untuk berduaan denganmu seperti ini",ucapnya dengan memagut bibir Luna dan meminta Luna untuk membalasnya dengan sengaja menarik Luna merapat kearahnya untuk memperdalam pagutan mereka.
"Vin",protes Luna tapi Marvin yang mulai dikuasai gairah tidak mendengar suara Luna dia lebih fokus untuk melepas satu persatu kancing kemeja perempuan itu lalu setelah berhasil dia segera menarik lepas kemeja kerja Luna.
"Vin jangan sekarang",protesnya bermaksud untuk mencegah apa yang dilakukan Marvin tapi bukan Marvin kalau tidak bisa menundukan Luna.
"Hanya sebentar lalu kita bicara",jawabnya dengan kembali melu*at bibir Luna untuk membuat protes Luna hilang.
Seperti ucapan Marvin pada Luna hanya sebentar karena itu dia tidak mengajak Luna pindah dari sana tapi mengajak Luna bercinta dengan posisi tetap seperti semula dikursi kerjanya.
Gila tapi terasa sangat menyenangkan dan jujur saja Luna suka cara Marvin yang selalu penuh kejutan dalam membujuknya.
"Sudah kukatakan aku melakukannya karena mereka kompeten tanpa melihat bagaimana penampilan mereka",jawab Marvin dengan mengecup tengkuk Luna yang masih duduk dipangkuannya.
"Tapi aku tidak suka Vin",protes Luna dengan nada kesal.
"Kalau kau tidak suka kau saja yang menjadi sekretaris ku jadi aku bisa bekerja dengan terus memelukmu seperti ini bagaimana?Apa kau suka?",goda Marvin lagi dengan kembali mencium tengkuk Luna.
"Vin hentikan,!bukankah kita baru saja selesai!".
"Aku tau tapi rasanya aku masih menginginkannya bagaimana kalau kita ulangi lagi",ajak Marvin.
Mendengar itu Luna langsung turun dari pangkuan Marvin lalu merapikan penampilannya dan dibiarkan oleh Marvin karena mereka memang perlu bicara sekarang agar tidak ada salah paham diantara mereka.
"Bisakah kau tetap memperkerjakan mereka tapi meminta mereka memakai pakaian yang lebih sopan",pinta Luna yang langsung dibalas gelengan oleh Marvin.
"Kenapa?!", protes Luna.
"Karena aku hanya atasan mereka".
"Maksudmu?".
"sudah kukatakan padamu sayang bagiku penampilan mereka tidak masalah selama kinerja mereka sesuai dengan apa yang kuinginkan dan kurasa sebagai laki laki aku tidak keberatan melihat itu karena bisa membuat aku cukup semangat bekerja",jawab Marvin yang membuat Luna semakin meradang.
"Kau keterlaluan Vin!".
"Aku tidak keterlaluan sayang aku hanya memberimu gambaran sikap seorang pria dalam menilai penampilan perempuan.Semua pilihan tetap ada ditangan mereka kami hanya menikmati apa yang terlihat".
Mendengar itu tiba tiba Luna mendekat kearah Marvin dan menggigit kesal leher Marvin membuat Marvin terkejut sampai terpekik.
"Oh Shittt sayang apa yang kau lakukan".pekik Marvin dengan menyentuh lehernya yang pasti sekarang ada tanda merah karena gigitan keras Luna barusan.
" Itu hukuman mu"jawab Luna.
"Kalau kau begitu khawatir denganku bagaimana kalau kau kembali menjadi sekretarisku saja jadi k kau bisa mengawasiku dan aku juga akan punya banyak waktu bersamamu.Karena akhir akhir ini waktu kita terlalu sedikit untuk bersama ".
"Tapi itu karena aku harus menjadi Asisten pribadi mama mu Vin'.
"Aku tau tapi kalian terlalu banyak menghabiskan waktu berdua setiap harinya dibanding waktumu bersamaku sayang dan aku tidak suka itu".
Luna terdiam.
"Lalu apa karena itu kamu sengaja mencari sekretaris yang berpenampilan seperti itu Vin.Kamu ingin membalasku begitu?".
"Apa kau merasa aku seperti itu?".balas Marvin yang membuat Luna diam.
"Bicaralah dengan mamaku selayaknya menantu jangan terus membiarkannya menganggapmu Asistennya karena kurasa dia ingin kamu melakukan itu",ucap Marvin dengan lembut pada Luna.
"Apa itu tidak papa?",jawab Luna terlihat bingung.
"Bukankah kau bilang mamaku orang yang baik.Kurasa dia sengaja melakukan ini padamu karena menunggumu mengajaknya bicara".
"Apa tidak bisa kau saja Vin.Karena aku sedikit cemas memikirkannya".
"Kemarilah aku akan memelukmu agar kau kembali baik baik saja".
Luna menurut lalu masuk kedalam pelukan Marvin.
"Aku ingin bersikap keras pada mama karena sikapnya padamu tapi aku mencoba menghargaimu karena itu aku menahannya tapi kalau kamu ingin aku yang melakukannya akan kulakukan bagaimana?".
"Aku akan memikirkannya lebih dulu Vin".
"Baiklah aku akan berusaha menghormati keinginanmu".
"Lalu apa aku juga harus menghormati keinginmu tentang kedua sekretaris barumu itu?!",celetuk Luna dengan kesal.
Mendengar Luna bicara ke topik semula Marvin hanya menanggapinya dengan mengangkat kedua alisnya.