
Luna duduk dimeja makan berhadapan dengan ayahnya,suasana makan malam itu terasa canggung karena mereka berdua memang sudah sangat lama sekali tidak melakukan itu bersama dan Luna lupa kapan terakhir kalinya dia duduk satu meja dengan pria yang disebutnya ayah itu.
"Mery sudah kusuruh memasak semua makan malam kesukaanmu kuharap kau suka",ucap Dion memecah kesunyian diantara mereka.
"Iya terimakasih Dad ini memang semua makanan favoritku Mery sangat tau apa yang aku suka dan tidak kusuka begitu juga Peter",jawab Luna yang membuat Dion langsung menghentikan potongannya didaging stik dipiringnya lalu menatap kearah Luna.
"Mereka memang aku pekerjakan untuk itu.Apa kau lupa?".
Luna langsung menggeleng,"Itu benar karena itu aku bersyukur mereka yang Daddy pekerjakan untuk merawatku selama ini".
Dion tidak menanggapi lagi ucapan Luna tapi memilih menyuap makanan kemulutnya.
"Apa rencanamu setelah kembali ini?",tanya Dion tiba tiba.
Mendengar pertanyaan itu Luna hanya menggeleng,"Kurasa tidak ada,kenapa?".
Dion balik menggeleng,"Sejujurnya aku merasa bersalah padamu soal pernikahan paksamu waktu itu hingga membuatmu kabur seperti itu".
Luna terdiam menunggu Dion kembali bicara.
"Jadi...aku berencana melakukan pembatalan pernikahan itu bagaimana menurutmu?",tanyanya dengan menatap kearah Luna untuk melihat reaksi dari Luna waktu mendengar apa yang dikatakannya.
"Apa Daddy serius?",tanya Luna terlihat sedikit senang mendengarnya.
Dion mengangguk,"Iya aku serius.kupikir kau sampai kabur seperti itu pasti karena kau tidak tertarik pada calon suamimu itu bukan?".
"Itu salah satunya tapi sebenarnya aku menolaknya karena rencana Daddy begitu mendadak selain itu aku juga sama sekali belum pernah bertemu dengan calon suamiku jadi bagaimana mungkin aku bisa menyukainya".
"Lalu apa kalau kau sudah bertemu dengannya kau akan menjadi tertarik padanya Luna?",tanya Dion dengan mengamati ekspresi Luna.
Luna menggeleng,"Kurasa tetap tidak karena aku bukan tipe perempuan yang cepat suka dengan pria".
"Oh syukurlah",ucap Dion tiba tiba yang membuat Luna langsung menatap kearah Dion tapi Dion cepat cepat menggeleng.
"Hanya merasa lega karena kau benar benar tidak berubah",jelas Dion yang dibalas Luna dengan anggukan kecil.
"Oh iya aku akan mengurus pembatalannya secepatnya mungkin dalam beberapa hari ini kau sudah bisa menandatangani surat itu lalu setelah itu maukah kau membantu Daddy diperusahaan".
Luna sedikit mengernyit mendengar itu antara bingung tapi juga senang karena sepertinya Daddynya punya pikiran yang mulai terbuka padanya.
"Apa tidak papa?".
"Maksudmu?.
"Maksudku ikut bekerja diperusahaan Daddy karena sepertinya dulu Daddy keberatan aku melakukan itu".
"Kurasa kau sekarang sudah dewasa dan meski perusahaan kita tidak sebesar perusahaan Marvin.Corp tempatmu bekerja beberapa waktu ini tapi bekerja diperusahaan sendiri kurasa lebih baik karena suatu saat perusahaan itu juga akan menjadi milikmu".
Mendengar itu Luna merasa senang juga merasa sedih karena itu berarti dia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Marvin dalam waktu yang cukup lama nantinya.
"Kurasa itu masih lama karena Daddy sekarang masih sangat sehat".
"Itu tetap saja kau harus mulai belajar bisnis dari sekarang agar saat aku berniat pensiun kau sudah siap menggantikannya".
"Baiklah Dad".
"Oh iya kalau kau tidak merasa keberatan kau bisa mulai ikut Daddy besok kekantor kebetulan besok ada klien penting yang harus Daddy temui bagaimana?".
"Apa Daddy akan langsung mengenalkan aku sebagai putri Daddy pada para klien Daddy?",tanya Luna merasa gugup.
"Tentu saja aku harus mengenalkan mu sebagai putriku agar tidak ada orang yang memandang rendah dirimu nantinya diperusahaan maupun dalam bisnis".
"Tapi Dad...jujur saja aku merasa gugup kalau harus langsung bertemu klien penting dihari pertama aku ikut Daddy kekantor".
"Mereka memang klien penting kita nantinya tapi mereka bukan orang baru.Dulu kau sudah pernah bertemu dengan mereka terutama dengan putra tertuanya ini kalian dulu pernah saling sapa waktu kamu masih sangat muda".
Mendengar itu tiba tiba Luna mulai kembali waspada.
"Jangan bilang Daddy sedang mencoba menjodohkan aku dengan anak klien Daddy ini sebenarnya".
Dion menggeleng.
Mendengar itu tanpa sadar Luna menarik nafas lega yang dilihat oleh Dion.
"Malam ini beristirahatlah cepat karena besok jadwal kita akan padat".
Luna mengangguk lalu bermaksud berdiri tapi tiba tiba dia ingat sesuatu lalu kembali bicara dengan Dion.
"Ponselku hilang waktu Peter mengajakku pulang dengan paksa kemarin jadi bisakah Daddy menyuruh Peter membelikan ku ponsel baru besok".
Dion mengangguk.
"Besok akan kusuruh Peter membelikan mu yang baru".
"Terimakasih Dad.Kalau begitu aku kembali dulu kekamar".
Dion mengangguk lagi.
"Berdandan lah layaknya putriku besok agar tidak ada orang yang berani menghinamu",ucap Dion sebelum Luna pergi dari ruang makan.
Luna mengangguk lalu pergi meninggalkan ruang makan.
***
Sementara itu ditempat Marvin*
Marvin berjalan masuk kedalam rumah mamanya yang langsung disambut oleh pelayan yang terlihat senang karena dalam sehari Marvin sudah pulang dua kali kerumah itu.
"Tuan Marvin selamat datang",sapa pelayan itu dengan menunduk hormat pada Marvin yang hanya dibalas anggukan oleh Marvin.
"Dimana mamaku?",tanyanya pada pelayan itu.
"Nyonya besar sepertinya tadi sedang bersiap untuk makan malam",terang pelayan itu yang langsung dijawab anggukan oleh Marvin lalu berjalan menuju ruang makan keluarganya.
"Selamat malam ma",sapa Marvin yang membuat Elena sedikit terkejut melihat lagi wajah putranya malam ini.
"Vin?!Kenapa kau kembali lagi?",tanyanya bingung.
"Kenapa, memangnya mama tidak suka aku datang lagi kerumah ini?",balas Marvin dengan duduk dihadapan Elena Fox dan meminta pelayan menyiapkan hidangan untuknya juga.
"Tentu saja mama suka tapi ini sedikit aneh kecuali kau memang punya maksud tersembunyi sekarang".
"Bukan maksud tersembunyi hanya ingin bertukar pikiran tepatnya dengan mama".
"Bertukar pikiran soal apa?".
"Luna",ucap Marvin yang membuat Elena semakin bingung.
"Luna?Memangnya apa yang bisa aku lakukan tentang Lunamu itu".
"Banyak terutama soal siapa sebenarnya Dion Lancaster".
"Hah!Dion Lancaster?Apa hubungan semua ini dengan pria tua itu?".
"Sangat berhubungan ma karena Luna yang menjadi sekretarisku itu adalah Luna Lancaster".
Kali ini Elena Fox benar benar terkejut mendengar apa yang dikatakan Marvin padanya.
"Bagaimana bisa?!Bukankah dia sudah kabur jauh dan sulit ditemukan lalu kenapa dia bisa menjadi Luna yang jelek itu".
"Itu hanya penyamarannya saja ma karena wajah aslinya tidak seperti itu".
"Bagaimana kau tau?",tanya Elena semakin bingung.
"Karena aku melihatnya sendiri kalau dia memang cantik".
"Lalu sejak kapan kau tau dia itu Luna Lancaster?".
"Sayangnya baru tadi pagi ma",jawab Marvin yang membuat Elena langsung terdiam.