
"Jadi kau sudah menemukan cara untuk meyakinkan Thomson Vin?", tanya Dion saat mereka berdua didalam mobil.
"Iya dan aku rasa kali ini pasti akan berhasil".
"Sepertinya kau benar benar sudah memegang kartu As nya sekarang ".
"Iya meski harus sedikit berkorban tapi aku percaya ini tidak sebanding dengan hasil yang akan didapatkan meski sedikit perlu waktu".
Percakapan mereka terhenti karena mereka berdua sudah tiba dikantor Thomson yang terlihat masih cukup sepi tapi Marvin yakin Thomson ada dikantor itu menurut informasi dari pihak Dion.
"Ayo kita masuk",ajak Marvin dengan keluar dari mobil Dion.
Mereka berdua berjalan masuk kedalam kantor itu penjaga keamanan yang melihat siapa yang datang tidak berani untuk mencegah tamu perusahaan mereka masuk.
"Katakan pada Thomson Grand,Marvin Fox ingin bertemu dengan dia sekarang",perintah Marvin pada pegawai dimeja resepsionis itu yang langsung diangguki oleh pegawai itu dengan langsung menghubungi kantor Thomson.
"Selamat pagi tuan dibawah sekarang ada tamu yang ingin bertemu dengan anda".
"Usir dia, aku tidak mau bertemu!",bentak Thomson keras yang bisa didengar oleh Marvin.
"Tapi ini yang datang adalah....".
"Sudah kukatakan usir dia aku tidak ingin bertemu dengannya!!",teriak Thomson marah.
"Biar aku yang bicara langsung dengannya",ucap Marvin dengan meminta gagang telpon ke resepsionis itu yang langsung diserahkannya dengan ekspresi gugup karena berbicara langsung dengan pengusaha muda yang namanya sangat terkenal didunia bisnis.
"I..ini tuan".
"Halo!Apa kau sudah mengusir tamu itu ?!",tanya Thomson penasaran karena itu dia belum menutup telpon tersebut.
"Halo tuan Thomson ini aku Marvin Fox yang berkunjung ke kantormu".
"Marvin Fox?".
"Iya ini aku.Aku ingin membicarakan bisnis denganmu. Apa kita bisa bicara sekarang".
Lama tidak ada suara dari ujung telpon Thomson membuat Marvin bermaksud memberikan gagang telpon itu ke resepsionis dan Marvin bermaksud langsung keruangan Thomson, tapi kemudian Thomson kembali bicara.
"Baik ayo kita bertemu sekarang".
"kalau begitu aku akan keruangan mu sekarang".
"Baik aku tunggu".
Setelah itu Marvin memberikan telponnya ke pegawai resepsionis kantor Thomson lagi.
"Bagaimana?",tanya Dion yang dari tadi hanya diam berdiri dibelakang Marvin.
"Dia setuju bertemu denganku sekarang jadi ayo kita keruangan pria tua itu".
Dion mengangguk lalu mengikuti Marvin yang berjalan diantar oleh pegawai Thomson keruangan pria tua itu.
Setelah sampai didepan ruangan Thomson pegawai yang mengantar Marvin mengetuk pintunya.
"Tok ...tok...."
"Tuan Thomson saya membawa tuan Marvin Fox bersama saya".
"Masuklah",perintah Thomson dari dalam ruang kerjanya.
"Selamat pagi tuan Thomson",sapa Marvin setelah masuk kedalam ruangan Thomson.
Thomson menatap kearah Marvin dan..Dion Lancaster yang berdiri disamping pria muda itu.Membuat Thomson menjadi kesal lagi tapi tidak berani secara terang terangan karena yang ada dihadapannya sekarang Marvin Fox orang yang lebih berkuasa dibanding rekan bisnis barunya saat ini.
"Pagi tuan Marvin,ada urusan apa anda kemari apakah anda datang untuk mendamaikan hubungan saya dan pria tua yang sudah menipu saya dan sekarang menjadi mertua Anda itu",jawabnya dengan geram.
Marvin tidak suka mendengar bagaimana Thomson menghina Dion karena bagaimanapun Dion adalah ayah Luna perempuan yang dicintainya tapi kali ini dia harus menahannya agar tujuannya kesini tercapai.
"Aku datang untuk membuat penawaran dengan anda tuan Thomson",ucap Marvin dengan duduk disofa ruang kerja Thomson.
"Penawaran?Apa anda melakukannya untuk membuat saya membatalkan kerjasama dengan pihak GcG seperti yang disarankan Mertua anda itu beberapa hari ini".
Marvin mendengus menahan emosinya lalu mengeluarkan berkas yang dibawanya.
"Silahkan anda lihat apa yang aku tawarkan sekarang.Apakah hanya untuk membantu tuan Dion atau memang kerjasama yang saling menguntungkan",tegasnya dingin.
Thomson lalu mengambil berkas itu dan mulai memeriksanya.Seketika matanya membulat tak percaya waktu melihat apa yang disodorkan oleh Marvin padanya.
"I...ini,anda serius menawarkan saya kerjasama untuk proyek Hotel Stradivarius tuan Marvin?",tanyanya dengan semakin teliti membaca berkas ditangannya.
Dion juga cukup terkejut mendengar apa yang ditawarkan Marvin untuk Thomson yang hanya perusahan kelas dua dan tidak mungkin bisa mendapatkan proyek sebesar yang dibawa Marvin sekarang.
"Iya...aku serius dan anda pasti tau bukan kalau itu salah satu proyek terbesar yang akan dilaksanakan tahun ini".
"Iya saya tau tapi anda pasti tidak menawarkannya secara cuma cuma untuk saya".
"Tentu saja tidak karena itu proyek besar jadi kalau kau tertarik maka aku tidak ingin kau membawa masalah dalam proyek itu nanti".
"Maksud anda?".
"Nama baik perusahaan yang menangani proyek ini juga dimasukkan dalam poin utama jadi kalau anda ingin bergabung dalam proyek ini saya harap anda membereskan dulu urusan anda dengan pihak GcG".
Mendengar itu tiba tiba Thomson meletakkan kembali berkas ditangannya dan menatap Marvin juga Dion dengan tajam.
"Mungkin bisa dibilang begitu tapi aku tau anda mulai tertarik dengan apa yang aku tawarkan karena tawaran yang aku berikan pada anda berkali lipat lebih mengiurkan dari yang diberikan oleh pihak GcG".
"Saya tau itu tapi untuk apa anda bersusah payah seperti ini bukankah perusahaan milikku bukan masuk dalam deretan perusahaan berpengaruh".
"Itu benar tapi masuk dalam reputasi perusahaan bagus yang selalu stabil jadi apa anda akan menghancurkan reputasi itu hanya karena masalah pribadi yang pernah terjadi diantara kita,Tidak bisakah anda memisahkan masalah pribadi dan bisnis".
"Anda mudah bicara seperti itu karena bukan anda yang dipermalukan saat itu!".
Marvin menghela nafas.
"Mungkin benar bukan putraku yang dibuat babak belur oleh nyonya Elena dan bukan aku yang dipermalukan oleh tuan Dion tapi kalian sebagai generasi tua apakah kalian akan mewariskan sikap dendam itu pada kami yang lebih muda".
Thomson diam tapi menatap Dion dan Marvin dengan dingin.
"Kalau anda marah dengan pihak kami karena hal itu,seharusnya anda membuktikan kalau anda bisa berada diatas kami bukan berniat menghancurkan kami dan anda, dengan melakukan kerjasama tanpa pikir panjang".
"Aku sudah memikirkannya masak masak sebelum setuju dengan pihak GcG jadi jangan menuduhku melakukan hal itu hanya karena ingin balas dendam pada kalian".
"Meski anda akhirnya tau kalau anda sedang masuk kedalam jebakan yang akan membuat perusahaan yang anda miliki dari generasi tua dahulu hancur".
"Itu tidak mungkin karena aku sudah meneliti berkas itu secara teliti".
"Aku yakin anda sebenarnya mulai menyesal menyetujui untuk bekerjasama dengan pihak GcG setelah tuan Dion membawakan bukti bukti kecurangan mereka pada anda tapi keegoisan anda tidak ingin mengakui hal itu karenanya anda selalu menolak niat baik tuan Dion demi amarah yang tidak penting itu".
Mendengar itu Thomson semakin kesal karena merasa apa yang dikatakan Marvin adalah benar.
"Kau....".
"Tuan Thomson aku datang kemari selain untuk menawarkan kerjasama dengan anda juga untuk membuat hubungan buruk diantara kita membaik jadi coba anda telaah lagi apakah keputusan anda yang setuju bekerjasama dengan pihak GcG sudah tepat".
"Kenapa kau begitu bersusah payah datang kemari untuk menjelaskan ini padaku apa kau juga khawatir setelah pihak GcG mendapatkan modal dariku dia akan menghacurkanmu?".
"Jujur saja iya, karena itu aku menundukkan wajah untuk datang kesini menemui anda.Marvin.Corp besar bukan dalam sehari dua hari.Dan aku tidak ingin keegoisan dan kesombonganku akan membuat semua kerja keras orang orang yang sudah membantu diperusahaan yang ku pimpin itu sampai sebesar sekarang sia sia belaka".
"Thomson pikirkan lah lagi buatlah aku sebagai contoh orang yang gagal untukmu sebelum kau mengalaminya seperti aku".
"Apa kau tidak malu mengatakan itu dihadapan ku Dion setelah kau membuat persahabatan yang sudah lama kita jalin hancur begitu saja".
"Tuan Thomson apa anda masih saja mengagungkan kemarahan anda daripada membicarakan bisnis denganku.Aku hanya memberi penawaran ini sekali setelah ini aku tidak akan melakukannya lagi".
"Kau sedang mengancamku anak muda?",ucap Thomson geram.
"Tidak Tapi aku tidak punya waktu untuk menuruti permainan emosi anda lebih lama lagi karena setelah hari ini kalau anda menolak bekerja sama dengan pihak perusahaanku maka aku harus berusaha mencari solusi untuk membuat perusahaan anda dan GcG hancur".
Thomson terhenyak mendengar itu.
"Kau...".
"Aku tidak mungkin membiarkan orang atau siapapun yang ingin menghancurkan perusahaan ku bukan karena aku tetap ingin membuat Marvin .Corp tetap berada diposisi sekarang bahkan lebih".
Thomson terdiam sepertinya dia mulai berpikir apa yang dikatakan Marvin adalah benar dan dia tau kalau dia tetap terus mencoba menolak maka perusahaannya akan hancur tak bersisa dan tidak ada yang akan bisa menolongnya sama sekali sementara dari pihak GcG pasti akan angkat tangan karena dia juga tau bagaimana reputasi mereka selama ini yang tidak memikirkan nasib perusahaan kecil seperti miliknya kalau tidak membuat mereka untung.
Thomson menarik nafas cukup keras.
"Baiklah...",jawabnya lemah.
"Maksud anda?".
"Aku setuju dengan tawaranmu dan aku akan membereskan permasalahan ku dengan pihak GcG karena aku juga tau proyek yang kau tawarkan ini benar benar proyek yang bagus dan kalau aku menolaknya sekarang maka sebagai seorang pengusaha Veteran aku akan menyesalinya.Anggap saja ini kesempatan sekali seumur hidup berhasil ikut bekerjasama dalam proyek Mega bintang".
Jujur saja Marvin merasa sangat lega mendengarnya dan rasanya ingin bersorak kegirangan tapi tentu saja dia tidak akan menunjukannya sekarang dihadapan lawannya yang sudah mengaku kalah.Jadi dia memilih tetap menunjukan ekspresi seperti semula.
"Syukurlah kalau begitu tuan Thomson",balas Marvin.
"Iya, aku akan menyelesaikan permasalahanku dulu dengan GcG lalu setelah itu mari kita segera menandatangani perjanjian kerjasama kita ini".
"Ya..aku akan berada 2 hari lagi disini mari kita tandatangani sebelum aku kembali".
"Baiklah",jawab Thomson dengan menjabat tangan Marvin sebagai tanda persetujuan kerjasama mereka.
***
"Huffft".
Marvin menghela nafasnya cukup keras setelah dia dimobil bersama Dion.
"Apa ini tidak berlebihan Vin?",tanya Dion karena tau dengan mengikutkan Thomson dalam proyek besar Marvin tidak menguntungkan bagi pria itu malah bisa merugikan karena yang mendapat keuntungan hanya pihak Thomson".
"Tidak, meski diawal aku tidak akan mendapat apa apa tapi aku yakin pihak Thomson merupakan rekan bisnis yang menjanjikan".
Dion diam tidak lagi membahas hal itu karena sekarang ranah urusannya sudah selesai.
"Aku akan tetap memberikan 5 persen saham Marvin .Corp untuk anda seperti janjiku tuan Dion",ucap Marvin yang langsung mendapat gelengan dari pria tua itu.
"Tidak, berikan saja itu untuk Luna kalau kau berniat memberikannya untukku karena aku tidak ingin ikut campur lagi dalam hubungan kalian".
Marvin diam mendengar hal itu sampai mereka tiba didepan hotel tempat Marvin menginap.
"Kalau anda sudah merasa lebih tenang nanti, aku sarankan temui lah Luna untuk bicara".
Setelah mengatakan itu lalu Marvin turun dari mobil Dion tanpa menunggu Dion menjawab perkataannya.