Pesona Sekretaris Cupu Ku

Pesona Sekretaris Cupu Ku
22.Mulai Berani.


"Maaf aku sepertinya sudah salah bicara barusan",jawab Luna pada Marvin.


"Benarkah?,tapi aku tidak keberatan untuk menunda pekerjaanku kalau kau memang mau",balas Marvin lagi.


"Vin!",balas Luna mulai kesal dengan ucapan pria itu yang sengaja sedang menggodanya.


"Hemm",gumam Marvin masih tidak mengalihkan tatapannya dari Luna yang tidak berani menatap kearah Marvin sekarang karena dia tau Marvin sedang menatapnya intens.


Tapi suasana tidak nyaman itu tidak bertahan lama karena mereka sudah sampai didepan bangunan Apartemen yang mereka tinggali.


"Tuan kita sudah sampai",ucap supir yang mengantar pulang mereka pada Marvin.


"Terimakasih",jawab Marvin lalu turun dari mobil diikuti oleh Luna tanpa menunggu Marvin membantunya turun.


Setelah turun dari mobil Luna sengaja berjalan lebih cepat agar tidak perlu berjalan bersama Marvin,tapi baru beberapa langkah dia mendahului pria itu Marvin tiba tiba menarik tangannya sampai posisi Luna sejajar dengannya.


"Vin apa yang ..".


"Kenapa kau sangat terburu buru berjalannya",tegur Marvin dengan menggandeng tangan Luna tanpa perduli protes yang diberikan perempuan itu padanya.


"Aku lelah karena itu aku ingin cepat sampai lalu istirahat",terang Luna yang tidak dipedulikan Marvin dengan tetap meminta Luna masuk ke Apartemen bersama.


"Aku tau tapi berjalan bersama ku sampai kedalam Apartemen tidak akan membuat waktu istirahatmu berkurang kurasa"jelas Marvin tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.


"Tapi apa kau harus terus menggenggam tanganku seperti ini bagaimana nanti kalau ada yang melihatnya".


"Bukankah itu lebih baik terutama orang suruhan mamaku karena itu akan membuat mamaku semakin merasa kesal lalu dengan sendirinya berhenti menggangguku".


"Bagaimana kalau sebaliknya?",tanya Luna merasa khawatir.


"Sebaliknya maksudmu?".


"Bagaimana kalau mamamu malah semakin menggangguku karena kau bertindak akrab padaku didepan umum".


Marvin menoleh kearah Luna lalu tiba tiba mendekat kan wajahnya kearah perempuan itu yang membuat Luna reflek sedikit mundur kebelakang karena wajah Marvin sangat dekat padanya.


"Jangan khawatir aku akan melindungi mu nanti kalau dia berani melakukan itu padamu".


"Kurasa kau tidak akan melakukannya nanti",balas Luna.


"Kenapa kau berpikir begitu?",tanya Marvin dengan nada kesal.


"Karena aku bukan orang yang penting untukmu jadi tidak mungkin kau akan bersusah payah melindungi aku dari gangguan mamamu".


"Apa kau yakin kau tidak penting bagiku?!",ucap Marvin semakin kesal.


"Tentu saja aku yakin karena tidak mungkin orang sepertimu bisa tertarik padaku benar bukan?".


"Aku tertarik padamu,apa kau tidak merasakan hal itu",jawab Marvin yang membuat Luna langsung menghentikan langkahnya karena terkejut mendapat jawaban mendadak seperti itu dari Marvin.


"Apa maksud ucapanmu itu Vin?",tanya Luna mulai merasa gelisah mendapat pernyataan tiba tiba seperti itu.


"Apa? tentu saja itu karena aku menyukaimu".


"Vin stop!Aku tau kau sedang menggodaku sekarang tapi aku mohon hentikan karena ini sudah cukup keterlaluan,Aku masih perempuan normal jadi waktu mendengar ada pria tampan mengatakan hal itu padaku jantungku juga tetap berdebar".


"Benarkah?",ucap Marvin dengan menarik Luna semakin mendekat kearahnya sekarang.


"Vin lepas apa yang sedang kau lakukan kita sekarang sedang berada dilobi Apartemen".


Mendengar itu Marvin melepaskan pelukannya dipinggang Luna.


"Kau benar jadi ayo kita naik keatas saja sekarang",ajak Marvin dengan menarik tangan Luna dan membawanya masuk kedalam Lift.


"Ayo",ajak Marvin waktu pintu lift sudah terbuka dengan tetap menggenggam tangan Luna berjalan menuju unit mereka.


"Vin lepas",pinta Luna waktu Marvin sudah membuka pintu Apartemen mereka.


Marvin menuruti keinginan Luna dengan melepaskan genggaman tangan mereka lalu masuk kedalam bersama perempuan itu.


Tapi waktu Luna akan pergi kekamarnya tiba tiba Marvin bicara lagi pada Luna.


"Ayo kita mencoba menjalin hubungan Luna",ucapnya yang membuat langkah Luna terhenti lalu berbalik menghadap kearah Marvin.


"Maksudmu?".


Marvin berjalan mendekat kearah Luna dan berdiri tepat dihadapan perempuan itu.


"Sudah kukatakan aku tertarik padamu,apakah tidak percaya dengan ucapanku".


"Tapi apa alasannya,jangan bilang kau tertarik melihatku seperti ini karena aku tidak akan percaya".


"Bagaimana kalau kubilang iya pada awalnya lalu semakin tertarik lagi setelah tau bahwa kau ternyata perempuan dimalam itu".


Luna sangat terkejut sampai terhuyung mendengar apa yang dikatakan Marvin dan hampir terjatuh kalau saja Marvin tidak cepat menangkap tubuhnya.


"Vin le...lepas sepertinya...".


"Ayo kita bicara",ajak Marvin dengan membopong tubuh Luna tanpa aba aba membuat Luna terpekik karena hal mengejutkan yang dilakukan Marvin padanya itu.


"Auw...Vin...apa yang...kau lakukan!".


"Diamlah aku hanya ingin bicara denganmu supaya malam ini bisa tidur dengan tenang".


"Apa yang ingin kau bicarakan?,kurasa tidak ada hal penting yang harus kita bicarakan Vin!".


"Ada banyak dan kita akan melakukan itu sekarang sebelum kita melakukan hal lainnya setelah itu",jawab Marvin dengan mendudukkan Luna diatas pangkuannya agar dia tidak bisa kabur.


"Vin apa perlu sampai seperti ini kita bicaranya",ucap Luna dengan berusaha melepaskan diri dari pelukan Marvin.


"Iya supaya kau tidak kabur lagi dariku sebelum kau selesai memberiku penjelasan tentang semua ini".


"Aku tidak perlu menjelaskan apapun padamu".


"Kata siapa,kau harus menjelaskan padaku kenapa kau muncul lagi dihadapanku dengan penampilan seperti ini .Apa kau sengaja melakukannya untuk membalas dendam padaku karena pagi itu aku lebih dulu meninggalkanmu begitu".


"Kau salah aku bukan perempuan yang kau maksud Vin kita baru bertemu pertama kali di perusahaan hari itu.Sebelumnya kita tidak pernah bertemu sama sekali".


"Benarkah?",tanya Marvin dengan menatap Luna tajam yang membuat Luna semakin gugup dibuatnya.


"I...iya tentu saja benar".


"Baik lah kalau begitu aku akan membuktikan nya sendiri apakah aku salah atau kau yang benar sekarang".


"Tentu saja kau salah Vin".


"Kalau begitu aku buktikan saja sekarang".


Luna ingin bertanya bagaimana cara Marvin membuktikan padanya tapi pertanyaannya tertelan lagi ditenggorokan karena Marvin sudah menyambar bibir tipisnya dan langsung memagutnya dengan rakus membuat Luna tersentak dengan ciuman tiba tiba yang diberikan pria itu padanya.


"Vin....".panggil Luna bermaksud untuk meminta Marvin menghentikan ciumannya.


"Aku belum selesai Luna karena .....".


Marvin yang semula hanya berniat mencium Luna untuk sengaja memberi pelajaran pada perempuan itu lalu sekarang berubah pikiran saat merasakan rasa bibir Luna yang terasa begitu luar biasa dan membuatnya tidak ingin berhenti dan hanya menjeda sebentar penyatuan bibir mereka setiap kali Luna hampir kehabisan nafas karena pagutan panjang yang mereka lakukan sekarang.