
the Lost Mafia Boy 1
Oleh Sept
"Mas harus kuat, Nada yakin ... Mas Zain pasti sembuh!" ucap seorang wanita muda bermata sembab dengan suaranya yang serak. Ia sesengukan menahan tangis. Tangannya sejak tadi mengengam tangan suaminya yang sedang terbaring lemah.
Tubuh wanita itu gemetar ketika melihat suaminya yang kesulitan berbicara. Jangankan bicara, Zain bahkan kesulitan untuk bernapas. Beberapa hari yang lalu, pria 27 tahun itu terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena mengalami sesak dan kemudian pingsan di dalam rumahnya.
Pasangan pengantin baru itu baru menikah dua bulan lalu. Zain yang semua sehat tanpa memiliki keluhan apapun, tiba-tiba hari itu drop. Salsabila Qotrunnada, wanita muda berusia 20 tahun itu pun shock.
Nada yang hari itu akan berangkat kuliah, tiba-tiba terkejut melihat suaminya yang tersenggal. Zain seperti kesulitan bernapas. Wajahnya dipenuhi bulir keringat dingin, dan Nada semakin panik saat suaminya tiba-tiba pingsan.
Sekarang, suaminya sudah ditangani oleh dokter terbaik. Tapi, sudah beberapa hari dirawat, Zain sama sekali tidak ada perubahan. Sempat drop berkali-kali, membuat Nada sama sekali tidak bisa berpikir jernih. Wanita muda itu terus saja menangis di dalam ruang perawatan.
"Mas ...!" panggil Nada lagi, kali ini sangat lirih. Ia kemudian menciumii telapak tangan dan punggung tangan suaminya. Dengan sendu ia tatap pria yang dua bulan ini menjadi imamnya. Menjadi pemimpin dalam bahtera yang baru saja mereka bangun bersama.
Sambil menggeleng dengan air mata yang terus mengalir deras, Nada kembali berbicara. Meski suaminya tidak bisa membalas ucapannya, Nada hanya ingin suami yang belum genap 100 hari ia nikahi itu, mendengar apa yang ada dalam hatinya.
"Mas Zain harus kuat, Mas Zain harus bisa lewati ini semua ... jangan tinggalin Nada Mas ... Nada nggak punya siapa-siapa," tangis Nada kembali pecah.
Wanita muda itu terisak, tidak sanggup melihat kondisi suaminya. Banyak selang yang menggelilingi tubuh Zain, membuat mata Nada selalu terasa perih jika melihatnya.
Pria yang semula gagah, sehat dan bugar itu, kenapa tiba-tiba menjadi seperti sekarang begini? Zain selama ini menjalani gaya hidup sehat. Pria itu selalu makan makanan sehat, olah raga rutin dan menjauhi zat-zat berbahaya, lalu bagaimana bisa dalam tubuh suaminya terdapat banyak penyakit yang telat untuk diketahui?
Nada seperti tidak terima, mengapa suaminya yang awalnya sehat-sehat saja harus mengalami komplikasi. Banyak penyakit yang ditemukan setelah dilakukan banyak pemeriksaan.
Mungkin terlalu stress berat, dah terlalu banyak menangis beberapa hari ini selama Zain dirawat, tiba-tiba kepala Nada terasa pusing. Matanya berkunang-kunang. Dan hitungan detik, tubuhnya jatuh perlahan ke basah ranjang.
Zain yang lemah itu nampak panik, ia ingin bicara, tapi malah merasakan sesak yang luar biasa. Yang ada hanya air mata yang keluar dari sudut matanya.
Kemudian terdengar suara panjang dan lama.
Tuttttttttt ....
Seketika ruangan Zain didatangi banyak petugas medis. Sebagian menangani Nada yang ditemukan pingsan di bawah ranjang suaminya yang telah sekarat. Sebagian lagi fokus pada Zain.
Semua tenaga medis begitu panik. Karena detak jantung Zain ternyata sudah berhenti berdetak. Berbagai tindakan medis langsung dilakukan. Demi menyelamatkan nyawa pasien.
Tapi sayang, setelah para dokter melakukan banyak tindakan, jantung Zain tidak mau kembali berdetak. Jantung itu benar-benar sudah berhenti. Begitu juga dengan napas Zain. Ia yang semula kesakitan hanya untuk bernapas, kini sudah berhenti bernapas untuk selama-lamanya.
Beberapa jam kemudian
Di ruangan lain, di sebuah ranjang rumah sakit. Nada nampak mengerakkan kelopak matanya. Tangannya juga mulai bergerak-gerak. Sepertinya ia baru sadar dari pingsannya.
Baru saja membuka mata, ia langsung dipeluk oleh seseorang. Seseorang yang sudah lama tidak ia temui.
"Sarah ... kamu di sini?" Nada melepaskan pelukan adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMA.
"Yang sabar ya, Mbak," ucap sang adik sskali lagi.
Sarah Amelia, gadis 15 tahun itu menarik tangan kakak perempuannya. Ia merasa kasihan pada saudari yang memang tidak pernah tinggal bersama selama mereka kecil sampai kakaknya menikah dan harus menjadi janda di usia yang masih muda.
Pribadi hangat Zain dalam berhubungan dengan orang lain, membuat siapa saja yang mengenalnya, larut dalam rasa duka kehilangan yang begitu dalam. Apalagi Nada, wanita muda itu belum tahu kalau suaminya sudah dipanggil oleh sang Maha Pencipta.
"Mbak ... Mbak mau ke mana?" cegah Sarah.
Nada merasakan firasat buruk, apalagi dilihatnya Sarah matanya sudah basah dan sembab.
Tidak peduli meski tangan Sarah memegangi lengannya, Nada dengan kuat menepis tangan adiknya tersebut.
"Lepasin tangan Mbak!" seru Nada kemudian menuju ruangan Zain.
KLEK
Ruangan kosong, bahkan ranjangnya pun sudah rapi kembali. Bibir Nada mulai bergetar. Kakinya juga tiba-tiba terasa lemas.
'Tidak ... tidak mungkin!'
Rasa sesak yang mendadak menyeruak ia abaikan. Nada masih berpikir positive.
'Pasti Mas Zain dipindah ruangan. Pasti!'
Dengan langkah kaki yang gemetar, ia terus berjalan keluar.
Di ujung lorong ia lihat ummi, ibu mertuanya menangis menatap ke arahnya. Seketika matanya terasa perih. Apalagi ketika melihat ummi yang kemudian duduk tidak kuasa menahan tangis, Nada tidak punya lagi kekuatan untuk berdiri.
Istri Zain itu kembali pingsan, untung di dekatnya ada seorang perawat yang lewat. Nada pun dibawa lagi ke ruangannya.
***
"Jangan tinggalin Nada Mas ... Mas Zain ... jangan tinggalin Nada," Nada terus saja berbicara, tapi matanya terpejam.
Dokter yang memeriksa Nada, merasa prihatin dengan pasiennya. Ia kemudian mendekati ummi dan Sarah.
"Ini mungkin sangat berat bagi pasien. Kehilangan suami dan bersamaan dengan kabar yang harusnya menjadi kabar bahagia."
Dokter perempuan itu menghela napas dalam-dalam. Tidak tega melihat pasiennya. Beberapa hari ini ia memang melihat Nada berkali-kali di rumah sakit.
Ia tahu bahwa pengantin baru itu sedang menunggu suaminya. Tapi takdir sepertinya berkata lain. Hari ini, suami Nada harus pergi selama-lamanya.
"Bagaimana kondisi menantu saya, Dok?" tanya ummi sambil mengusap matanya. Ia juga tidak tega melihat menantunya memanggil manggil sang putra.
"Menantu Nyonya ... hamil!"
Lutut ummi langsung lemas, wanit paruh baya itu tidak kuasa menahan tangis. Ia meratapi nasib cucunya yang belum lahir tapi sudah tidak memiliki sosok ayah. Hati ummi hancur berkeping-keping. Lalu bagaimana dengan nasib keduanya? Bagaimana nasib Nada dan anak dalam kandungannya itu?
Ummi tidak kuasa menahan tangisnya lagi, hingga merasakan sesak dan sulit untuk bernapas. Kenyataan ini, sungguh mencekik leher.
"Ya Allah ... Nada ... Zain ... bagaimana ini?" tanya ummi dengan isak tangis yang tiada henti.
***