PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Bertetangga Dengan Mantan


Satu Tahun Kemudian


"Sayang, mau itu!" jari Mely menunjuk makanan yang ada di dalam televisi. Ia sedang menonton acara kuliner yang dibawakan oleh seorang presenter bule berdarah campuran Indonesian-Belanda. Abas yang sedang memasak di dapur, langsung melangkah menghampiri sang istri.


"Hemmm ... Yang mana sih?" Abas mendongakkan kepalanya ke arah TV. Ia terkejut seketika.


"Beneran mau yang itu?" lanjut Abas, ia heran dengan permintaan istrinya kali ini. Kemarin Mely minta dicarikan sate biawak, hanya gara-gara nonton acara traveling dengan tema Pulau Komodo, sekarang ingin sate belalang? Abas memegang kepalanya yang merasa pusing mendadak. Kehamilan Mely yang kedua ini sunguh menyiksa batin nya. Mau cari dimana belalang yang ukurannya besar-besar itu? rasanya ia ingin menghancurkan televisi saja.


Bagaimana tidak, sumber permintaan aneh-aneh Mely semua berasal dari sana. Setiap habis menonton acara apa, ia selalu menginginkannya. Sudah tiga hari ini Abas hanya bekerja di rumah, semua karena calon bayi mereka yang ingin banyak hal. Entah ini permintaan nyeleneh Mely yang keberapa, Abas sampai tidak bisa menghitungnya.


"Mau itu, sekarang..!" Mely mulai merajuk.


"Cari dimana Mel? itu adanya di hutan sana, mana ada belalang di perkotaan?" Abas bukannya malas mencari. Barusan ia browsing di internet, hasilnya memang gak ada. Makanan seperti yang diinginkan Mely benar-benar diluar jangkauan Abas.


Kedua pipi Mely tanpak basah, ia menangis karena ngidamnya tidak keturutan. Suaminya tidak mengabulkan keinginan dirinya. Melihat Mely mulai menangis, Abas memeluk perut Mely yang membesar. Mely kini sedang hamil, usia kehamilanya memasuki trimester ketiga awal.


"Haduh, anak Papa, jangan makan belalang ya, nanti kamu kecapekan lompat kesana kemari. Kasian nanti Mama capek sayang!" Abas berkali kali mencium perut istrinya. Kata kata Abas mampu merubah tangis sang istri menjadi senyuman.


"Ini Papa sudah masak spaghetti special sama steak, kalo sama papa makannya kaya bule ya sayang," ucap Abas dengan senyum yang mengembang.


Mely tidak bergeming dengan apa yang ditawarkan sang suami, ia tidak tertarik. Sepertinya cita rasanya masih sama seperti dulu. Ia hanya suka masakan nusantara dengan kearifan lokalnya.


"Gak mau, makan sendiri!" jawab Mely. Melihat Mely yang mulai merajuk kembali, Abas pun menyerah.


"Iya.. iyaaa.. Hemmm ini aku telpon pak Bambang supir Mama, biar pak Bambang cari di kampung halamanya. Tapi gak janji hari ini ya, besok atau lusa!" janji Abas.


Senyum langsung tergambar jelas di wajah Mely. Biarpun di carikan besok atau lusa tidak masalah, yang penting di carikan dulu. Abas tidak mau ambil pusing, ia pun minta bantuan kepada karyawan Mamanya.


"Sayang besok jadwal kontrol kandungan kan?" tanya Abas.


"Iya, tadi aku udah telpon dokter Findy untuk buat janji!"


"Kira kira besok kita bisa tahu jenis kelaminnya gak ya? penasaran banget. Masak berkali kali USG selalu gak kelihatan jenis kelaminnya," ujar Abas.


"Memangnya sayang mau anak cewek apa cowok?" tanya Mely.


"Cewek apa cowok sama saja, aku hanya penasaran sayang!"


Obrolan mereka terhenti karena ada tamu yang datang. Abas berjalan untuk membuka pintu.


"Eh... Mama," sapa Abas pada Mamanya.


"Mana Mely?" Mama langsung berjalan masuk kedalam, ia mencari keberadaan anak mantu kesayangannya.


"Ma..." ucap Mely yang melihat Mama mendekat padanya.


"Udah, jangan bangun. Duduk saja, Mama sebentar kok. Mama sempatin mampir karena kangen sama kalian," kata Mama.


"Mama mau berangkat lagi?" tanya Abas heran, karena setahu Abas baru beberapa hari ini Mamanya balik dari Medan untuk urusan bisnis.


"Iya, masih banyak yang harus Mama urus. Ini Mama mepet banget waktunya, makanya Mama buru-buru," kata Mama.


"Jangan capek-capek Ma," pesan Mely.


"Iya sayang, oh iya... Ini oleh-oleh dari Medan kemarin, maaf baru bisa Mama kasih sekarang," Mama menyodorkan sebuah paperbag berwarna coklat muda.


"Apa ini Ma?" tanya Mely sedikit penasaran.


"Buka saja sayang," kata Mama dengan sebuah senyuman.


"Wah... Bagus banget Ma, makasi Ma. Mely suka."


Melihat Mama dan istrinya yang nampak akur kembali Abas menjadi lega. Rasanya lengkap sudah kebahagiaan hidupnya saat ini.


"Hati-hati Ma!" Mely melambaikan tangan perpisahan pada Mama mertuanya.


"Iya sayang, Abas... Mama balik dulu ya, jaga Mely baik-baik. Jangan sampai kecapekan!" pesan Mama.


Abas mengantar Mama sampai depan mobilnya, ia juga melambaikan tangan kepada sang Mama. Setelah mengantar Mamanya, Abas ingin langsung kembali ke dalam apartmentnya. Namun langkah kakinya terhenti saat ia melihat Evi di seberang jalan. Dari jauh ia dapat melihat mantan kekasihnya itu menyebrang jalan menuju ke arahnya. Evi nampak mengandeng bocah laki laki.


Abas menebak pasti itu adalah anak laki laki yang pernah ia jumpai, ketika mereka berada di bandara beberapa tahun silam. Abas ingin langsung kembali ke apartmennya. Namun Evi terlanjur melihat dirinya.


"Abas!" teriak Evi.


Kali ini entah mengapa Evi seperti lebih berani menghadapi Abas. Bahkan secara terang terangan ia memanggil mantan pacarnya itu. Padahal selama ini, ia berusaha menghindari Abas. Evi seperti mempunyai rencana lain.


"Apa kabar?" sapa Abas sekedar basa basi.


"Baik, aku gak menyangka kita bakalan bertemu kembali," kata Evi pura-pura pertemuan ini adalah kebetulan, padahal ia telah merencanakan sebelumnya. Selama ini Evi telah mengumpulkan banyak informasi tentang Abas. Evi tahu Abas telah menikah, tapi ia tidak perduli. Ia berencana akan membuat Abas berada disisinya kembali.


"Sedang apa, kok ada disini?" tanya Abas kembali.


"Aku baru saja pindah kemari, trus kenapa kamu juga disini?" Evi kembali berpura pura di hadapan Abas.


"Aku memang sudah lama tinggal disini Vi," jawab Abas.


"Ouh... Berarti Kita tetangaan sekarang?" Evi menampakkan wajah sumringahnya.


"Iya, ya sudah aku masuk dulu."


Evi menatap punggung laki laki yang pernah menjadi kekasihnya, ia melepas pegangan tangan sang putra. Kini tangannya mulai mengepal, raut mukanya memerah. Evi seperti menahan marah.


"Tunggu saja, kamu akan bertekuk lutut padaku. Sama seperti dulu!" ucap Evi dengan lirih, agar tidak di dengar oleh putranya yang masih berada di dekatnya.


"Kok lama banget sih...? protes Mely saat membuka pintu untuk suaminya, tidak ingin istrinya berpikir macam-macam Abas mencoba mencari alasan.


"Tadi ketemu temen di depan," jawab Abas.


"Temen? kok gak di ajak masuk?"


Dalam hati Abas, nanti kalau diajak masuk jadi bahaya. Bisa bisa perang dunia ke tiga akan pecah.


"Orangnya tadi cuma lewat, jadi hanya ngobrol sebentar, terus langsung pulang," Abas mencoba mencari alasan yang masuk akal. Mely pun sudah tidak melanjutkankan pertanyaannya. Mely hanya mengerucutkan ujung bibirnya, membuat Abas semakin gemas saja pada istrinya. Kebersamaan Abas dengan Mely saat ini membuat Abas lupa bahwa barusan telah bertemu dengan mantan. Baginya Evi hanya masa lalu. Seorang mantan yang sudah ia kubur dalam hatinya. Perasaannya sudah berubah, tidak ada Evi sedikit pun di dalam hati Abas. Hanya Mely seorang yang memiliki hatinya. Mely seperti sudah terpatri kuat di jiwa dan raganya.


Abas mulai mencumbui istrinya yang tengah mengandung buah cinta mereka. Mely yang mendapat serangan mendadak mendorong tubuh suaminya.


"Udah deh, jangan mulai lagi," tolak Mely,


"Heheheh...!" Abas hanya bisa nyengir. Entah sudah berapa kali mengerjai sang istri.


"Ish...ish.. gak jelas banget sih, malah senyum senyum gitu," ejek Mely pada sang suami.


"Habisnya, gak tau kenapa. Kamu kalau lagi hamil begini jadi tambah seksi," ucap Abas.


"Seksi dari mana? berat badan aku yang semula 50 Kg sekarang jadi 65 Kg, udah naik 15 Kg malah dibilang seksi. Seperti badut .... Iya!"


"Hahahaaha," Abas langsung menertawakan istrinya.


"Bagiku, kamu mahluk Tuhan paling seksi Mel!!!" Abas mengecup kening istrinya.


Ia melanjutkan aksinya, mulai mengecup kedua mata Mely, hidungnya dan terakhir bibir mungil milik pujaan hatinya. Mereka berdua tengelam dalam lautan asmara.


Bersambung