
Mobil hitam melaju memecah keramaian malam kota, Rendra masih tak bisa meredakan emosinya.
Dia menggenggam tangan Embun dan menciumi punggung tangannya, Alister, dia menatap perilaku sang tuan muda dari kaca spion yang tergantung di atas kemudi.
Menyaksikan sendiri betapa takutnya sang tuan muda, pria itu menangkap ke khawatiran dari sorot matanya.
"Maafkan aku sayang, seandainya saja aku tak sibuk dengan pekerjaanku dan mau menemani jalan-jalan, kau pasti tak akan pernah bertemu dengan pria brengsek itu untuk yang kedua kalinya."
Kedua kalinya? Jadi, apakah itu artinya dia telah mengetahui siapa mantan suamiku?
"Sayang," seru Rendra yang menolehkan wajah istrinya agar saling bersitatap, dia menepuk pelan wajah yang polos tanpa balutan makeup, "Katakan padaku, selain rahang dan rambutmu... bagian mana lagi yang telah dia sentuh?"
"Katakan saja padaku jangan takut, aku tidak akan marah padamu," Rendra terus mendesak agar Embun mau memberitahunya.
"Tidak ada lagi selain dua hal itu sayang, aku tidak apa-apa dan aku juga tidak terluka -"
"Tidak terluka apanya?" suara Rendra mulai meninggi emosi, hei tuan muda bukankah yang salah itu dirimu sendiri? "Lihat ini sayang, lihat..." dia mengangkat tangan, "Lihat baik-baik tanganku ini, aku Alvarendra Raymond tak akan mungkin mematahkan tangan orang yang tak berbuat kurang ajar terhadapmu."
"Jika tangan ini sampai melakukannya atau bahkan mematahkan kepalanya, maka itu artinya orang tersebut sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Melukaimu maka itu sama artinya mereka mengusik ketenangan ku," Rendra menghela napas pelan, mencoba untuk menguasai dirinya dari rasa emosi.
"Alister, kita ke rumah sakit YN sekarang. Aku ingin dokter memeriksakan kondisinya. Suruh dokter bagian ronsen untuk bersiap, dia harus memberikan jawab terbaiknya jika aku mendapatkan hasil yang tak bisa memuaskan ku."
Cih, aku harus apa coba? Membantah mu, kah?
Alister tak menjawab perintah tuan mudanya dengan sebuah kalimat, melainkan dengan anggukan kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mengapa tuan muda sebegitu takutnya, sih, akan kondisi istrinya? Bahkan turun dari mobil saja Embun tak boleh menginjakan kakinya di aspal, melainkan di gendong ala bridal style oleh Rendra.
"Sayang, ku mohon jangan seperti ini... aku baik-baik saja, tidak ada yang terluka.
"Jika kau masih protes, maka aku akan mengurung mu di rumah sakit ini sampai kau melahirkan anak kita."
Ancaman itu membuat Embun terdiam, rasa cinta yang begitu besar telah ia dapatkan dari suaminya. Tetapi ini jauh lebih besar dari apa yang ia harapkan.
Rendra mendudukkan istrinya dengan hati-hati di kursi roda, lalu membiarkan petugas medis untuk mendorong nya.
Mereka melangkah bersama menuju ruang ronsen, dimana dokter Maira sudah menanti dengan segala kesiapannya untuk menghadapi si pemilik rumah sakit ini.
"Selamat malam tuan muda, nona muda," senyum ramah Maira berikan, "Saya akan segera memeriksa kondisi nona muda, tuan..."
"Lakukan," imbuh Rendra dengan singkat, dia menarik kursi dan duduk di atas meja sementara kursi itu ia gunakan sebagai pijakan kakinya.
Dia memperhatikan dengan seksama stik ronsen itu lalu bergantian menatap layar monitor.
Pemeriksaan pun selesai, "Tuan muda dari hasil pemeriksaan semuanya baik-baik saja, tidak ada luka serius yang di alami nona."
Alister yang ada di belakang tuan muda pun mengangguk sembari menaikkan jempolnya.
Untung saja sebelum sampai ke rumah sakit, Alister sempat mengirimkan sebuah chat kepada direktur rumah sakit YN jika sang pemilik itu akan tiba untuk memeriksakan kondisi istrinya.