
Mely terdiam membisu, ketika Abas berteriak padanya. Sepanjang pernikahan mereka baru kali ini Abas menampakkan rasa amarahya. Hari ini Abas sudah mulai berteriak pada dirinya. Ia menghempaskan tangan Abas yang masih mencengkram kedua lengannya. Ia memalingkan wajahnya dari sang suami. Ia marah, sedih dan begitu kecewa.
" Maaf Mel, aku sedang kacau saat ini. Aku mohon kamu untuk mengerti."
Abas sekilas melihat pergelangan tangan Mely yang memerah karena cengkramannya. Mely sendiri memilih diam, Ia tidak bergeming sama sekali.
" Tinggalkan aku sendiri!" pinta Mely tiba tiba. Tanpa memandang wajah suaminya.
Melihat Mely yang engan menatap dirinya, Abas memilih bangkit meningalakan Mely sendirian. Ia meninggalkan Mely seorang diri di dalam kamarnya. Setelah keluar dari kamar istrinya. Abas merogoh saku celana yang Ia kenakan, Ia ingin menghubungi Bela. Abas berharap sahabat istrinya itu bisa menghibur hati Mely saat ini.
Selagi menanti kehadiran Bela, Abas menyandarkan punggungnya di tembok depan kamar istrinya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Suasana hatinya sudah sangat kacau, Abas mencoba memejamkan kedua matanya. Ia berharap ketika matanya terbuka, Ia akan terbangun dari mimpi buruk yang Ia alami saat ini.
Namun kenyataan tak selaras dengan harapan. Tidak jauh dari tempatnya saat ini, Abas melihat Bela datang bersama kedua orang tua Mely. Tergambar jelas raut kecemasan pada kedua wajah mertua Abas kala itu. Mereka berjalan semakin mendekat ke arahnya. Kali ini tidak ada senyum yang tersungging di bibir Abas, tidak pula di wajah kedua orang tua Mely. Semua menampakkan wajah tegang mereka.
"Pagi Ma..Pa," sapa Abas dengan sedikit canggung.
"Hemmmm.." Papa langsung masuk ruang perawatan Mely diikuti Mama dari belakang yang menyusulnya.
Sambil berjalan melewati Abas, Mama Mely sempat menepuk pundak anak menantunya itu.
"Sabar ya Bas!" ucap Mama seraya masuk ke dalam kamar putrinya yang sedang dirawat. Abas hanya menganggukkan kepalanya.
"Kak, aku masuk dulu ya...," Bela menyusul kedua orang tua Mely ke dalam kamar perawatan.
"Pa.. Ma..." Mely terlihat sedikit terkejut akan kehadiran kedua orang tuanya. Mama Papanya langsung mendekat ke arahnya. Mama langsung memeluk tubuh kecil putrinya. Ia mengelus punggung putri kesayanganya.
Mereka semua berkumpul di dalam ruangan Mely, tidak ada yang membahas keberadaan suami Mely sama sekali. Sebelum Bela dan rombongan sampai di Rumah sakit, Abas sudah menceritakan semuanya. Ia bercerita kondisi Mely yang sedikit prustasi akibat accident ini.
Mama, Papa dan Bela dapat memahami perasaan Mely saat itu. Ia terlalu shock dengan kondisi yang Ia alami. Mereka juga merasa kehilangan yang sama seperti Mely. Hanya saja Mely terlalu larut dengan rasa bersalahnya. Mereka datang untuk mencoba menghilangkan sedikit kesedihan di hati Mely.
"Ma, Mama kapan balik ke Surabaya?" tiba tiba Mely bertanya pada orang tuanya.
"Ada apa sayang? Mama akan tinggal lebih lama untuk menemanimu disini!" kata Mama.
"Mely ingin pulang Ma," ucapnya dengan lirih.
"Iya, sebentar lagi kita pulang." Papa menyahut pembicaraan antara Ibu dan anak itu.
"Mely mau pulang ikut Papa sama Mama!"
Deg, perasaan Mama dan Papa sudah tidak enak. Apa maksud dari ucapan putri mereka barusan. Mama dan Papa saling melempar pandangan.
"Mengapa ikut dengan Mama, bagaimana dengan nasib suamimu?" tanya Mama yang heran dengan sikap Mely putrinya.
Bela hanya mematung di atas sofa, Ia hanya diam mendengar obrolan keluarga di depannya. Ia juga merasa heran dengan keputusan sahabatnya itu.
Rasa bersalahnya kepada calon bayinya dan rasa bersalahnya pada Abas lebih besar dari cintanya.
"Melihat Kak Abas, hatiku terasa sakit Ma... Bukan karena aku begitu membencinya. Aku membenci diriku sendiri.. Aku tidak sanggup menatap wajahnya..!" Mely mulai terisak.
Jiwanya masih terguncang, penyesalan membuat Ia senantiasa merasa bersalah pada orang yang Ia sayangi, terutama Abas. Rasanya Ia tidak mampu menatap wajah suaminya itu seperti dulu kala. Rasa sedih yang tergambar di wajah suaminya membuatnya merana.
"Nanti Papa bicara sama Abas!" kata Papa.
"Pa, jangan begitu." Mama merasa tindakan suaminya tidak benar. Papa hanya melirik sekilas ke arah Mama.
"Bagaimana nanti perasaan suamimu Mel? coba pikirkan lagi. Mama tidak apa-apa kamu ikut kami, tapi kamu sekarang sudah menikah... Kamu sudah tidak bisa berbuat seenaknya. Segala sesuatu harus dibicarakan berdua Mel," Mama terlihat memberikan penjelasan untuk putrinya yang sedang risau hatinya.
Mendengar penuturan Mamanya, Mely hanya terisak. Jika Ia boleh memilih, Ia tidak ingin berpisah jauh dari suaminya. Namun, ini sudah menjadi keputusan Mely. Rasa bersalahnya lebih besar dari cintanya pada Abas.
Melihat Mely yang masih menangis, Bela mendekati sahabatnya itu. Ia memeluk tubuh lemah Mely, Bela mengusap punggung sahabatnya dengan lembut.
"Bagaimana kalau Mely untuk sementara tinggal dengan saya Om, Tante?" saran Bela.
"Tidak bisa begitu Bel, Mely sudah menikah. Dia tidak bisa seenaknya memilih tempat tinggal!" ucap Mama dengan sedikit emosi.
Mama agak kesal dengan sikap putrinya. Sebenarnya Ia juga kasihan pada Mely, tapi Ia lebih kasihan lagi pada anak menantunya. Bagaimana bisa putrinya memilih meninggalkan dirinya di saat saat terburuk seperti ini. Harusnya mereka bersama sama, saling mengobati luka hati mereka. Itulah yang ada dalam pikiran Mama Mely.
Mely mengamati wajah Mamanya yang nampak gusar akibat keputusan yang Ia ambil. Papa sendiri memilih menyerahkan keputusan sepenuhnya pada putrinya. Apa yang Mely inginkan akan Papa kabulkan. Baginya kenyamanan Mely saat ini yang paling penting. Tidak perduli Ia memilih tinggal dengan siapa. Itulah yang ada dalam benak Papa.
Abas yang sedari tadi berada di luar ruangan mendengar semua obrolan dari dalam kamar tersebut. Tangannya mengepal begitu saja, keputusan Mely yang memilih meninggalkan dirinya membuatnya marah. Bagaimana bisa Mely membuang dirinya begitu saja. Ia tidak akan pernah melepaskan Mely dari gengamannya. Terlihat sorot mata yang dulu penuh cinta dan kasih berubah menjadi sorot marah dan kecewa yang berat.
Abas pun memilih menerobos masuk kedalam kamar istrinya. Mereka semua yang ada di dalam kamar nampak sedikit kaget dengan kehadiran Abas. Mama dan Papa Mely saling bertukar pandang. Mely sendiri tidak berani menatap wajah suaminya. Ia terlanjur takut, bagaimana bika Abas suaminya mendengarkan pembicaraan mereka semua.
Mely tahu betul sifat asli Abas yang kaku dan pemaksa, Ia yakin sekali suaminya itu tidak akan membiarkan dirinya tinggal dengan Mama Papanya atau dengan sahabatnya. Mely hanya tertunduk lesu, Ia dihapkan dengan sesuatu yang tidak mengenakkan.
"Ma, Pa... Mely tidak akan kemana mana! Ia akan tetap bersama dengan Abas!" ucap Abas dengan tegas.
Semuanya seakan tahu, bahwa Abas sedari tadi telah mendengar pembicaraan mereka. Semua menjadi diam terpaku, Bela juga merasa bersalah karena menyarankan Mely untuk tinggal bersamanya. Berbeda dengan Bela dan Papa. Mama sangat setuju dengan sikap menantunya. Laki laki memang harus tegas dalam mengambil keputusan.
Mama menganggukkan kepalanya pada Abas, seakan memberikan restu pada menantunya itu. Abas bebas dan berhak atas putrinya, karena mereka sudah menikah. Tidak perduli badai yang datang, mereka harus tetap bersama menghadapi badai ujian tersebut. Mereka tidak boleh menghindar untuk mencari jalan selamat sendiri.
Mama mendukung penuh keputusan Abas terhadap istrinya. Papa yang sudah tidak berhak atas diri putrinya, dengan terpaksa mengikuti apa kata Abas. Tinggallah Mely seorang diri tidak memiliki pendukung di sisinya.
Mely malah mendapati tatapan tajam dari sang suami. Tunggu saja pembalasan dariku, seolah itulah yang tergambar jelas dari tatapan yang Ia terima saat ini...
Bersambung