
Embun masih tak mengerti dengan penjelasannya, dia bingung.
Manda meraih tangan nona mudanya, "Mulai sekarang nona hanya perlu memanggil saya dengan nama Manda, sisanya nona tidak perlu memikirkannya."
Embun mengangguk, "Manda bagaimana bisa wajahmu terluka? Lalu mengapa pak Li menaruh racun di makanan kami?"
"Nona tidak perlu khawatir karena tuan Alister sudah membereskannya."
Langkah kaki seorang pria terdengar lebih cepat dan khawatir, "Sayang?" seru Rendra memanggil istrinya.
Manda pun beranjak dari duduknya dan bergeser sedikit menjauh dari mereka berdua.
"Sayang, aku tidak apa-apa... jangan khawatir aku baik-baik saja."
"Bagaimana bisa aku memelihara pengkhianat sepertinya yang berusaha melukaimu," Rendra memeluknya sembari mengusap perutnya, "Katakan jika bayi kita baik-baik saja sayang."
"Sayang bayi kita baik-baik saja, percayalah, karena dirimu selalu menjaga kami..."
"Aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri jika rencana busuk itu berhasil melukaimu, aku tak bisa menerimanya."
Cup!
Kecupan lembut mendarat di kening Embun, dia memang pria yang bersemangat dan tak peduli siapa yang ada di sekitarnya.
Manda, mendadak wajahnya merona merah samar. Aaaaaaa bagaimana bisa dia di suguhi pemandangan seperti ini?
"Tuan, dokter Haikal sudah datang," untunglah sekretaris andal itu tiba, jadi Manda tak akan terlalu lama merasa dirinya seperti jamur kering.
"Sayang kenapa kau memanggil dokter Haikal? Yang membutuhkan perawatan bukan aku, tetapi Manda."
"Cerewet, kaulah yang paling utama... karena aku tak peduli dengan yang lainnya."
Rendra menggendong istrinya dan membawanya naik menapaki anak tangga menuju kamar.
"Sa- sayang tolong turunkan aku, aku bisa jalan sendiri."
"Diamlah, jangan membuatku khawatir berlebihan lagi, sudah cukup insiden itu hampir membuat kehilangan bayi kita, aku harus memastikan bahwa dirimu baik-baik saja."
"Sayang?"
Embun melingkarkan tangannya di leher suaminya, matanya berkaca-kaca, tak pernah ia merasakan cinta yang sebesar ini.
"Tuan?" seru Haikal yang mendekat.
"Periksa dia, pastikan dengan baik jika dia baik-baik saja."
"Saya mengerti tuan," Haikal pun memulai pemeriksaannya, dia membawa beberapa alat medis yang memang sangat di perlukan.
Seperti stik pendeteksi racun, dokter Haikal hanya perlu mengeluarkan sedikit darah dari ujung jari manis nona muda lalu menuangkannya di stik tersebut.
Menunggu beberapa detik sampai hasil yang di dapatkan akurat, "Kondisi nona baik-baik saja, tidak ada racun jenis apapun yang terdeteksi."
"Kau yakin?" tanya Rendra yang di angguki Haikal, "Keluarlah."
"Baik, saya permisi," Haikal mulai membereskan semua perkakas medisnya dan segera keluar dari kamar setelah memberinya bow, dan tak lupa juga dirinya menutup pintu dari luar dengan rapat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haikal baru saja sampai di ruang keluarga, "Sekretaris Al?"
"Hm?"
Alister tengah duduk di ujung sofa, begitupun juga dengan Manda yang duduk di ujung sofa satunya, jauh sekali jarak mereka.
Haikal sekilas menatap Manda dan tersenyum, "Kau terluka, aku akan mengobati mu," baru saja dirinya meletakan tas medis di atas meja namun Alister dengan tegas menegurnya.
"Tidak perlu, dia sudah di obati," Cih! Mau menunjukan apa padaku, hah? Alister membuang wajahnya, Tadi aku sudah memberinya obat penawar racun, seharusnya sudah tidak ada lagi racun itu di dalam tubuhnya. Hanya luka goresan saja. Pun tidak bisa mengobatinya sendiri.
"Lukanya membutuhkan jahitan, setidaknya dua atau tiga jahitan sa -"
Alister mendelik menatap Haikal yang sudah menyentuh wajah Manda, kapas di tangannya ia gunakan untuk membersihkan luka itu.
"Aaa! Sakit, dokter."
Manda meringis kesakitan, ekor matanya sempat mencuri pandang pada pria yang terlihat kesal itu.
Cih!
Alister terlihat kesal, bahkan tak sadar jika perasaan asing tengah menguasainya.
Dia pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan mereka berdua ke luar rumah.