PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Ngidam


Hari menjelang sore, Bela sudah pulang kerumahnya sendiri. Tinggal Mely duduk sendirian menonton televisi. Mamanya sejak tadi belum keluar dari kamar. Mungkin sedang tidur pikirnya dalam hati.


Mely terlihat terus menganti chanel televisi yang ia tonton. Ia bosan dengan acaranya. Merasa sangat bosan dan tidak punya teman bermain ia mengirim pesan pada suaminya.


"Pulang jam berapa, sudah sore nih?"


Terdengar suara pesan masuk. Belum beberapa detik Abas langsung membalas pesan Mely.


"Udah di jalan nih! sabar ya," tulis abas.


Karena Abas lagi di jalan, Mely berhenti berkirim pesan. Menurutnya itu sangat beresiko dan berbahaya. Mely pun balik ke kamarnya. Ia sudah bosan sendirian di ruang tamu yang besar itu.


Langkah Mely terhenti sejenak. Ia berdiri di sebuah kamar yang menurutnya jarang terbuka. Mungkin malah tidak pernah dibukak. Ia jadi penasaran. Ia mau mengintip, tapi dari jauh ada seseorang pelayan yang keluar dari kamarnya. Setelah tahu kalo Mely hamil. Mama menyuruh beberapa pelayannya fokus melayani Mely. Jadi entah beberapa pelayan yang sudah keluar masuk kamarnya.


Menganti seprai, mengepel kamarnya berkali kali dan banyak hal lainnya yang membuat Mely tidak nyaman. Ia sudah cerita kepada Abas. Namun suaminya itu bukannya memberikan solusi malah mendukung aksi Mama. Alasannya gak ingin Mely dan bayinya kenapa kenapa.


Dengan langkah yang berat, Mely berjalan menuju kamar. Ia langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk dan nyaman. Tidak terasa, Mely kini telah tertidur pulas. Ketika Ia bangun hari sudah petang. Matanya menyapu ke seluruh ruangan. Dimana gerangan suaminya. Ia mencari Abas, harusnya sudah pulang.


Mely bangkit dari ranjangnya, Ia merengangkan otot ototnya yang serasa kaku. Badannya juga terasa gerah. Ia belum Mandi sore itu. Tidak lagi mencari keberadaan Abas, Mely langsung ke kamar mandi. Ia ingin menghilangkan semua kotoran yang menempel pada tubuhnya.


Saat Mely sedang mandi, Abas memasuki kamarnya. Ia tidak melihat istrinya yang semula tertidur diatas ranjang. Abas justru mendengar suara gemricik shower dari arah kamar mandinya. Oh lagi Mandi pikirnya.


Abas menyalakan TV kabelnya, Ia sedang menonton berita seputar luar negeri. Matanya fokus pada layar TV, hingga Dia tidak menyadari Mely yang kini duduk di samping dirinya.


"Lihat apa sih, kok serius amat?" tanya Mely, Ia juga ikut nimbrung apa yang di tonton Abas.


"Ah, cuma berita pemilihan president!" jawabnya, kemudian ia menganti chanelnya.


"Nonton yang lainya saja ya, biar bayinya rileks. Jangan kasi tontonan seputar politik, nanti besarnya malah jadi politikus!" canda abas.


"Terserah apa saja boleh!" ucap Mely sekenanya. Ia berbaring di samping Abas, menjadikan paha Abas jadi bantal kepalanya.


Mereka berdua menyaksikan acara Reality Show Korea. Keduanya terlihat terbahak bahak menyaksikan salah seorang member dengan aksi kocaknya. Si jerapah, ya.. julukannya adalah kerapah. Karena memiliki tinggi diatas rata rata. Mely sudah hafal betul siapa saja nama nama mereka beserta julukannya. Itu karena Ia sering menontonnya.


Entah sudah berapa judul drama dan reality show akhir akhir ini yang ia tonton secara marathon. Ia mencoba mengusir rasa bosannya dengan nonton Drakor, kadang juga kalau bosan dia nonton Dracin atau Lakorn. Apa saja boleh, untuk menghilangkan rasa bosannya. Tiba tiba ia teringat dengan janjinya pada Bela.


"Eh sayang, minggu besok kita jalan ya. Tadi Bela kesini. Aku sengaja ngajakin kita berempat main!" kata Mely sembari bangkit dari rebahannya. Ia sekarang sudah duduk berhadapan dengan Abas.


"Berempat?" Abas menyatukan kedua alisnya.


"Iya, sama mas Fadir juga!" ucap Mely sambil senyum yang mengemaskan.


"Memang mau main kemana?" tanyanya seolah cuek, padahal hatinya juga gira banget.


"Terserah, pokoknya pingin main aja. Bosen dirumah!" jawab Mely.


"Ke Puncak mau? Aku punya Vila disana!" Abas kembali menidurkan Mely dikedua pahanya.


"Boleh juga, Bener ya. Ini aku mau kirim pesan ke Bela," ucapnya seraya menyambar handphonnya yang berada di atas meja.


"Iya bener, kasih tahu aja tuh si Bel Bel yang berisik banget itu!"


Mely langsung mencubit pinggang suaminya, Belum ketemu saja sudah ribut. Nanti kalo ketemu bakal heboh deh kayaknya. Pikirannya di dalam hati.


"krukkk krukkk...."


Bunyi suara keroncongan perut Mely.


Abas langsung menegakkan duduknya.


"Kamu laper sayang?"


"Iya, tadi sore ketiduran. Bangun bangun sudah malam!" ucapnya dengan sedikit malu malu.


"Ya udah aku ambilin makan di bawah ya...!"


"Ada apa... ?" Abas heran mengapa Mely memegangi ujung pakaiannya.


"Gak mau makanan yang dibawah!" Mely memasang muka melasnya.


"Lah terus makan apa sayang?"


Tanya abas, Ia heran memangnya istrinya mau makan apa.


"Mau makan nasi pecel Madiun," Mely mengatakannya dengan mata yang berbinar binar.


"Eh.. Nyari dimana Mel? masak aku harus harus terbang dulu ke Jawa Timur Mel?" Abas Ini ya, berat banget nurutin keinginan sang istri.


"Yaudah, ganti! Aku mau Pecel Lele Lamongan!" kali ini nada bicara nya sedikit ngambek.


"Mel, jangan ngerjain aku deh. Minta yang gampang gampang aja. Aku pesenin Pizza ya. Apa burger, atau spaghetti. Aku pesen nih lewat Gofo** Mau ya!" Abas mencoba menawar.


"Gak mau, lidahku gak suka masakan Internasional. Aku suka masakan nusantara!" Mely menolak bujuk rayu suaminya. Lidahnya kan lidah lokal banget.


"Lainnya yaaa.... !" Abas berusaha memohon kemurahan hati Mely.


Mely engan menangapi permohonan Abas, Ia bangkit dari posisi semula. Langsung ngelonyor ke kamar tidur.


"Lah... ngambek dia," gerutu Abas.


Abas langsung menyusul Istrinya. Mely sudah menyelimuti seluruh wajahnya.


"Iya iya.. mau apa, sini aku catet biar aku beliin semuanya!" ucap Abas agar istrinya gak ngambek lagi.


Mely langsung bangkit dari tidurnya.


"Mau sate Madura saja!" jawabnya seakan tidak berdosa. Ia mengubah keinginannya.


Abas terkesima dengan permintaan ngidam Mely. Ya Tuhan gini amat yaaa batinnya.


" Iya iya, Aku minta tolong sama karyawan Mama ya... buat nyariin".


"Gak mauuu ..!' teriak Mely membuat Abas terkejut.


"Lah maunya apa sih Mely sayang!" terlihat Abas ingin meremas kepalanya sendiri.


"Maunya , Ayahnya yang beliin...!"


Jawaban Mely membuat Abas lemas.


Kini Abas menyerah sudah.


" Iya iya iya.. Ayah yang beliin ya sayang!"


Abas menciumi perut Mely yang belum membesar.


Abas turun dari lantai atas menuju garasi. Ia hendak mencari makanan yang bumil inginkan.


"Mau Saya antar Tuan?" Salah satu supirnya menawarkan jasa.


"Boleh Pak, lagian agak ngantuk ini"


Sapanya ramah pada karyawan Mama.


Semenjak menikah, Abas terlihat agak ramah di mata karyawan. Ia sering berinteraksi dengan mereka. Peragainya yang dulu angkuh dan terkesan sombong telah hilang semenjak ia bertemu Mely dan memutuskan untuk menikahi gadis tersebut.


Kini Ia sudah berada dalam mobil, bersama bapak sopir menyusuri jalanan. Mencari makanan yang Mely inginkan.


Berdambung