
Fadir mengendarai mobilnya dengan lamban, kali ini kemacetan parah berhasil menghadang laju mobilnya.
"Tuh kan macet," keluh Bela, sembari membuka jendela mobil yang ia tumpangi.
Bela merasa gerah meski AC mobilnya sudah menyala, ia memilih membuka jendela mobilnya. Menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
"Tutup jendelanya sayang, debu jalanan banyak. Nanti masuk semua," Fadir meminta kekasihnya menutup jendela kembali karena banyak debu berterbangan di luar sana.
"Hemmm...," Bela menutup kembali jendela mobilnya dengan berat hati, tapi dia tidak berkomentar hanya melakukan perintah Fadir tanpa penolakan.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya jalanan kembali normal. Semua kendaraan melaju dengan kencang. Akhirnya mobil yang Fadir kendarai sampai di depan Apartmen Abas. Bela turun dari mobil dengan membawa buket bunga Alstroemeria untuk sahabatnya, sedangkan buket bunga dari kekasihnya yaitu buket bunga tulip merah ia tetap menyimpannya di dalam mobil.
Fadir mengandeng tangan Bela, keduanya berjalan memasuki kawasan Apartmen Abas. Mereka tidak sengaja melihat Abas sedang berbincang dengan seorang wanita.
"Sayang, itu kak Abas atau bukan?" tanya Bela pada kekasihnya. Ia melihat punggung seorang pria yang sekilas nampak seperti sosok Abas.
"Yang mana?" Fadir menyusuri pemandangan di sekitarnya, ia mencari sosok yang Bela maksud.
"Itu, yang sedang bicara dengan wanita pakai blouse hijau muda," kata Bela seraya menunjukkan jarinya ke arah yang ia maksud.
"Sepertinya iya, sebentar. Ku coba untuk menghubunginya!" Fadir mengeluarkan telephon gengamannya dari saku. Ia langsung memencet nomor telephon Abas atasannya.
"Hallo!" dari jauh Fadir memperhatikan seseorang yang seperti Abas mengangkat telponnya.
Ternyata itu memang bosnya, Fadir pun berjalan menghampiri Abas dengan telpon yang masih tersambung.
"Ada apa Dir?" tanya Abas lewat telpon.
"Gak ada apa-apa, ini Bela minta di anterin ketemu sama Nona Mely," Fadir berjalan semakin mendekat ke arah Abas.
Namun Abas tidak mengetahui keberadaan sekertarisnya itu, karena posisi Abas membelakangi Fadir. Sedangkan Bela mengekori kekasihnya sedari tadi. Ia berjalan santai, tidak ingin buru-buru takut buket bunga yang ia beli kelopaknya berjatuhan, membuat bunganya tidak cantik lagi.
"Oh, datang langsung aja. Mely ada di dalam. Aku masih ada urusan," kata Abas masih lewat telpon.
Fadir memutus sambungan telponnya, ia langsung menepuk pundak bosnya yang sudah seperti temannya sendiri.
"Kak Abas," sapa Bela membuat Abas menoleh seketika.
Abas sedikit tegang, entah apa yang ia sembunyikan. Wajahnya mendadak kaku tidak seperti biasa. Ia seperti maling yang sedang tertangkap basah.
"Eh Bela, apa kabar? kalian langsung ke atas saja ya, aku ada urusan mendesak," kata Abas langsung pergi meningalakan sekertaris dan sahabat istrinya. Abas meningalakan keduanya sembari menarik tangan wanita yang berbicara sedari tadi.
Fadir merasa ada yang tidak beres dengan bosnya, hanya saja dia tidak mengungkapkan di depan Bela. Calon istrinya tidak bisa menyimpan rahasia, bisa-bisa Mely nanti salah paham. Maka ia memutuskan untuk mengalihkan perhatian Bela.
"Ayo masuk, sayang," kata Fadir merangkul Bela menuju ke dalam apartmentnya Abas dan Mely.
"Tapi, itu tadi siapa? wanita yang bersama kak Abas?" Bela penasaran, siapa wanita yang bersama Abas barusan. Ia merasa curiga dengan suami temannya.
"Itu mungkin salah satu rekan bisnis di kantor, ayo masuk. Katanya kamu sudah kangen sama Mely, dia pasti senang melihat kamu datang,"
Karena Fadir terus memaksanya masuk, maka Bela tidak punya pilihan. Ia memilih masuk bersama Fadir dan melupakan kejadian yang barusan dia lihat. Lain kali saja ia akan membahasnya bersama Fadir. Karena ia merasa ini bukan waktu yang pas. Ia kesini untuk menjenguk sahabat dan calon keponakan. Tidak lupa juga, ia ingin pamer banyak hal pada sahabatnya.
Tok Tok Tok
Tok Tok Tok
"Mel, Hallo Mely?"
"Iya Bel... Ada apa Bel?"
"Buka pintu dong, aku uda di depan nih!" kata Bela.
Tanpa memutus sambungan telponnya, Mely langsung meuju pintu masuk. Ia membuka pintu untuk sahabatnya.
"Ya ampun gak bilang-bilang mau kesini," ucap Mely.
"Heheheh... Sengaja, mau lasi surprise ke kamu," mereka pun langsung berpelukan.
Bela terkekeh ketika ia memeluk sahabatnya, ia kesusahan merapatkan badannya. Ini karena kondisi perut Mely yang sangat besar.
"Ya ampun, besar banget Mel. Sepertinya perutnya sudah turun kebawah," kata Bela.
"Iya, udah deket waktu persalinan," jawab Mely dengan senyuman.
Fadir hanya memperhatikan duo Mely dan Bela yang tengah asik mengobrol. Ia seperti mahluk halus yang tak kasat mata bila berada di antara duo tersebut. Dua sahabat bila sudah bertemu akan lupa dengan lainya.
Sedangkan dalam hati Fadir, pikirannya berlari menuju Abas dan perempuan yang bersamanya di depan Apartmen. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, sepertinya Abas dalam sebuah masalah. Namun, ia tak ingin Bela dan Mely curiga. Fadir mengingat-ingat wajah perempuan yang tak asing itu. Setelah cukup lama mengali memorynya, akhirnya Fadir ingat. Ia pernah melihat potret perempuan tersebut dalam laci Abas.
Tidak salah lagi, itu adalah mantan kekasih Abas. Setelah mengetahui fakta siapa perempuan yang bersama Abas tadi, Fadir langsung memandang Mely dari jauh. Entah apa lagi yang akan terjadi pada keluarga bosnya, ketika mantan kekasih si bos datang kembali.
"Kak!" teriakan Bela membuyarkan lamunan Fadir yang terus memikirkan nasib keluarga bosnya.
"Eh.. Iya," Fadir berjalan mendekati keduanya. Kini ia sudah duduk dianatara Mely dan Bela.
"Kakak mau minum apa?" tanya Mely, ia meminta maaf telat menawarkan minum. Ini karena terlalu asik mengobrol dengan Bela.
"Gak usah repot repot," kata Fadir.
"Aku ambil sendiri saja," sela Bela yang tidak ingin Mely kesana kemari melayani ia dan pacarnya. Ia tidak tega melihat perut sahabatnya yang kini sudah besar sekali. Bela bergidik ngeri, ia membayangkan bagaimana dengan dirinya nanti ketika hamil seperti Mely.
Bela pun berjalan menuju lemari pendingin milik Mely, ia mengeluarkan beberapa botol minuman. Tidak lupa ia mengambil beberapa gelas untuk mereka bertiga.
"Bel, itu di atas meja ada kotak kue. Bawa kesini sekalian ya... Tadi pagi kak Abas beli brownies," pintanya pada Bela.
"Iya tuan putri," sahut Bela dengan bercanda.
"Mana ada tuan putri seperti ini, kamu tidak lihat. Perutku sudah seperti badut Ancol," Mely terkekeh sendiri menertawakan bentuk fisiknya saat ini.
"Mana ada badut cantik," sahut Bela dari belakang membawa nampan berisi kue brownies.
"Aku lagi gak punya uang receh, jangan ngerayu kamu Bel," kata Mely menangapi candaan Bela.
"Aku terima cek dan giro, saham juga boleh,"
"Dasar matre lu," timpal Mely.
Melihat duo sedang beradu argument, Fadir hanya diam saja. Pikirannya masih terpacu pada bosnya saat ini. Sebagai sekertaris serta sahabat dari Abas, ia bisa merasa bahwa Abas saat ini sedang dalam masalah. Ia berencana menemui Abas selepas mengantar Bela pulang. Hanya saja, sepertinya Bela masih asik bercengkrama dengan Mely. Rasanya ia tidak enak sendiri jika buru-buru pergi begitu saja, maka ia akan memberikan beberapa waktu lagi untuk Bela dan Mely. Sementara dirinya sibuk dengan pikirannya. Memikirkan bagaimana nasib Abas saat ini.
Bersambung