
"Lepaskan aku, lepaskan," Thalia mati-matian memberontak agar bisa lolos dan lari mengunci diri di dalam kamarnya dan bisa lepas dari hukuman yang di berikan oleh sang kakak.
Namun, Manda tak bisa ia kalahkan begitu saja. Gadis itu benar-benar terlatih, "Maaf nona, tuan muda sudah menentukan hukuman untuk anda."
"Kau, Yun, dasar pelayan rendahan jangan ikut campur... cepat lepaskan aku, lepaskan!"
Mereka tak melepaskan Thalia dan tetap membawanya menuju ruang bawah tanah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semetara itu Rendra yang sudah menyusul istrinya masuk ke dalam kamar, dia menatap Embun yang sedang duduk di atas ranjang dengan memeluk kedua kakinya.
Membenamkan wajahnya mencoba menyembunyikan air matanya.
"Hapus air matamu," seru Rendra namun tak mendapatkan tanggapan darinya, "Hei."
Rendra pun ikut duduk di dekatnya, meraih tangan Embun dan mencium punggung tangan putih itu, "Aku tak bermaksud untuk memarahi mu, hanya saja aku tak bisa menahan emosi ku saat melihatmu disakiti, mengertilah sayang, aku sangat mencintaimu," lanjut Rendra dengan nada yang meyakinkan, "Hei?" Rendra akhirnya mengangkat pandangan sang istri.
Ditatapnya linangan air mata yang masih jatuh membasahi pipi, dia mengusapnya, lalu mencium bibir, dan keningnya, kemudian mendekap Embun di dalam pelukannya yang hangat.
"Tapi dia adikmu, kalian hidup dan tumbuh bersama, kan? Bagaimana mungkin kau setega itu padanya?"
Rendra diam tak menanggapi, "Sudahlah jangan membahasnya lagi, aku malas," dia diam sejenak, "Sudah hampir malam, bagaimana jika kita melakukan sesuatu yang berguna saja."
"Hm? Berguna?" dengan polosnya Embun menatap senyum nakal di bibir sang suami, "Aaaaaaa tidak," sudah mau kabur tapi tak bisa, pria itu benar-benar menjadi buas saat berada di atas ranjang.
Rendra : 🐺 bucin
Embun : 🥴
Setengah jam kemudian setelah pergumulan panas itu berkahir, Embun menghadapkan tubuhnya untuk memeluk suaminya, tangannya meraba dada bidang Rendra.
"Hm?" jawab Rendra menoleh padanya, tangannya pun ikut meremas jemari yang sedang bermain di dada bidangnya.
"Besok jangan lupakan kencan kita, ya?"
"Hm... ayo mandi, sudah waktunya untuk makan malam. Bibi Rita pasti sudah menyiapkan makan malam kita."
"Tapi aku ingin bistik, sayang."
"Tidak, kau sedang hamil, tidak dengar apa yang di katakan dokter itu padamu?"
"Dengar, tapi -"
"Baiklah," Embun sudah senang duluan, ternyata Rendra memang licik, selalu pintar mencari keuntungan dari istrinya sendiri, "Lakukan sekali lagi, maka aku akan mengizinkanmu untuk makan bistik sepuas hatimu," senyum nakal itu kembali terukir di bibirnya.
"Apa? Aaaaa tidak, baiklah aku akan makan apapun yang telah disiapkan di atas meja," segera dia bangun dan hendak turun dari ranjang, namun dengan cepat juga Rendra melingkarkan tangannya di perut istrinya.
"Mau kemana? Tidak usah buru-buru, santai saja sayang," 😍
"Aku mau pipis."
"Alasan."
"Menyingkirlah, kau tidak mau jika aku mengompol di sini, kan?"
"Hm, pergilah..." padahal Rendra tahu jika Embun hanya pura-pura saja, "Sayang jangan lama-lama ya pipisnya, aku masih ingin loh... kau harus bertanggung jawab pokoknya."
"Bertanggung jawab atas apa?!" seru Embun dari dalam bathroom, dia kesal, tapi lihat itu, dia menatap wajahnya yang terpantul di cermin besar depan wastafel. Wajahnya merona merah samar, dia menepuk kedua pipi menahan malu.
Aaaaaaa dasar yang mulia raja tak mau rugi, selalu saja mencari celah untuk mendapatkan keuntungan dariku, aku ini, kan, istrinya bukan rekan bisnisnya.