PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Miniatur Abas


Bau obat obatan memenuhi udara rumah sakit tempat Mely melakukan persalinan, Mely saat ini sudah berada di sebuah kamar rawat inap kelas pertama. Sebuah ruangan dengan segala fasilitas seperti hotel bintang lima. Kini di dalam ruangan yang besar tersebut, nampak Mama Abas sedang mengendong putri Mely dan Abas yang terlihat lucu dan mengemaskan. Kulitnya begitu halus dan lembut seperti bayi pada umumnya.


"Cantiknya cucu Oma," ucap Mama pada bayi yang baru Mely lahirkan. Mama terlihat sangat senang dengan kehadiran buah hati putranya, akhirnya ia bisa menimang cucu yang ia idam-idamkan selama ini. Baginya lengkap sudah kebahagiaan nya saat ini.


Mendengar mama berbicara pada putri kecilnya, Abas yang semula duduk di dekat ranjang Mely, berjalan perlahan mendekati Mamanya. Ia juga ingin mengagumi mahluk imut yang mengemaskan itu. Pipinya yang kenyal berwarna merah muda, bibirnya yang mungil membuat bayinya seperti hidup saja, batinnya.


"Mau gendong Bas?" tanya Mama, mungkin Abas mau mengendong nya. Karena sedari tadi hanya Mama yang mengendong putri mereka.


"Takut Ma, kecil banget. Aku takut nanti malah kenapa-napa," tolak Abas pada Mamanya. Ia masih belum berani mengendong putri kecilnya.


Menangapi sikap Abas, Mely hanya tersenyum kecil. Sebenarnya ia ingin menertawakan sang suami. Namun karena luka jahitan yang ia terima di bawah perutnya membuat ia harus menahan tawa beberapa waktu kedepan.


Setelah puas memandangi buah hati nya, Abas kembali berjalan mendekati Mely istrinya. Ia mengecup wanita yang baru saja melahirkan benih yang ia tanam. Abas berkali-kali mengecup wajah sang istri tanpa ada yang tertinggal.


"Tuh lihat, Papa mu sayang. Sepertinya kamu akan di buatkan adek baru," canda Mama yang menyaksikan aksi putranya dan Mely.


"Mama mau pesen berapa? nanti Abas buatkan. Hahahahha," Abas menangapi gurauan sang Mama dan hal tersebut membuat Mely menjadi malu. Ia langsung memukul tubuh Abas dengan lembut, sepertinya bukan sebuah pukulan. Itu nampak seperti belaian halus pada sang suami.


"Sabar Bas, tunggu empat puluh hari, awas Mel, kalo Abas sampai macam-macam langsung bilang sama Mama!" Entah Mama kali ini bercanda atau serius, Abas nampak memikirkan apa kata Mama barusan.


Raut wajah Abas yang berubah membuat Mely menertawakan nya.


"Eh, kok kelihatan seneng banget kamu Mel?" protes Abas.


Mama dan Mely saling melempar pandangan, keduanya sama-sama menertawakan Abas saat ini.


"Kalian berdua, seneng banget ya... lihat orang susah," ucap Abas dengan nada bercanda.


Tiba-tiba obrolan mereka terhenti sejenak karena ada tamu yang masuk. Rupanya keluarga Mely dari Surabaya sudah tiba. Ada Papa, Mama dan adiknya Lia. Setelah mendapat kabar dari Abas perihal Mely yang sudah melahirkan, mereka semua bergegas memesan tiket dan langsung terbang ke ibu kota.


Mama langsung menghambur memeluk putrinya yang kini sudah menjadi seorang ibu.


"Selamat ya sayang," ucap Mama dengan haru. Bola matanya nampak berair, ia tidak menyangka. Akhirnya Mely menjadi seorang ibu juga, setelah kejadian Mely kehilangan bayinya. Mama tidak berani berharap terlalu banyak. Ia begitu ingat bagaimana depresinya Mely kala itu. Putri nya begitu sangat terpuruk saat kehilangan bayi yang belum ia lahirkan.


Namun itu semua sudah berlalu, kini Mely sudah mendapat gantinya. Seorang bayi perempuan yang sangat imut dan lucu. Mana Mely mengalihkan pandangannya ke pada cucunya. Ia menatap lama sang cucu, Mama merasa putri Mely seperti miniatur Abas versi perempuan.


"Wah Bas, bisa mirip banget sama kamu nak," kata Mama.


"Masak sih Ma?" tanya Abas. Ia ikut menatap bayi munggil yang ada dalam gendongan sang Mama.


"Sini coba Papa lihat," Papa tidak mau kalah, ia langsung ingin mengendong cucu barunya.


Mana Abas membiarkan Papa Mely mengendong cucunya, Papa terlihat luwes ketika mengendong bayi. Berbeda dengan Abas. Ini karena jam terbang Papa yang sudah banyak. Papa sudah pernah memiliki tiga anak, belum lagi cucu dari pernikahan kakak Mely yang pertama. Jadi Papa sudah tidak kaku lagi kalau berhadapan dengan yang namanya bayi.


"Pa, cara gendong nya kok enak banget. Abas saja masih takut," kata Abas sembari memperhatikan sang Papa mertua yang luwes mengendong putri kecilnya.


"Papa dulu mulanya juga kaku, takut juga iya. Tapi nanti lama lama juga bakal terbiasa. Nunggu waktu saja." Terang Papa.


"Eh .. Iya, cucu Papa kok sama persis seperti Ayahnya, cantik kali cucu Papa," ucapnya pada buah hati Mely dan Abas.


"Sini Pa, Lia mau lihat," adik dari Mely ini langsung memcium gemas pipi yang kenyal itu.


"Liaaaa...," Teriak Mely melihat aksi adiknya.


"Hahahahah... Lia cuma cium doang kak," Lia cengingisan melihat reaksi sang kakak.


"Lia, jangan gitu. Pelan pelan sayang," kata Papa yang melihat aksi putrinya.


"Waduh, masih kecil sudah banyak pembelanya. Gimana nanti kalo udah besar cantik..." adik Mely kembali mencium keponakan nya dengan gemas. Membuat Mely berteriak ke arah Abas. Ia seakan mencari bala bantuan untuk mengomel adik kecilnya.


"Lia, jangan mengoda kakamu terus. Nanti dia cepat tua," canda Abas, membuat Mely semakin manyun saja. Seisi ruangan menjadi meriah penuh canda tawa karena aksi adik kakak, antara Mely dan Lia.


Hari sudah menjelang malam, Mama Abas kini sudah pulang, tinggal Mama yang menemani Mely. Papa sudah ada di apartmen Abas bersama Lia. Mely tidak ingin Papanya lelah, makanya ia meminta Abas mengantar mereka beristirahat di kediaman mereka.


Setelah mengantar Papa mertua dan adik iparnya, Abas kini melaju menuju ke rumah sakit kembali. Ia akan bermalam di sana bersama Mely dan buah hatinya. Selama di jalan ia memasang headset nya. Ia hendak mengabari Fadir.


"Halo, sudah tiba di Jakarta Fad?" tanya Abas pada sekertarisnya.


"Iya, sudah tadi sore. Gimana Mely dan bayinya?" tanya Fadir balik.


"Alhamdulillah, semua lancar. Oh yah, terima kasih banyak atas bantuan yang kemarin." kata Abas.


"Iya, sama-sama,"


Abas mengahiri pangilang telponnya ketika ia sampai di depan rumah sakit. Ia melepaskan headset yang semula ia kenakan. Abas bersiap keluar dari mobil yang ia kendarai. Langkah kakinya terasa sangat ringan ketika akan menjumpai dua bidadari yang ia miliki saat ini.


Beberapa saat kemudian, Abas telah sampai di depan kamar istrinya. Namun langkah kakinya terhenti ketika ia melihat sosok Evi yang berdiri tepat di depan pintu kamar Mely. Entah rencana apa lagi yang akan di lakukan mantan kekasihnya saat ini.


Raut wajah Abas mulai mengeras, ia terlihat gusar karena Evi kini terang terangan menantang dirinya. Dengan langkah yang cepat, Abas berjalan mendekati mantan kekasihnya.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Abas dengan sorot mata yang tajam. Setajam pisau yang mampu mengiris hati Evi.


"Agh... Aku hanya ingin menyapa istrimu," ucap Evi dengan tanpa rasa malu.


Abas yang sudah menahan emosinya sedari tadi langsung menyeret tangan Evi. Ia membawa Evi pergi manjauh dari kamar Mely.


"Sakit Bass," teriak Evi sedikit kencang.


Membuat Abas memalingkan pandangannya kesana kemari, takut jika ada orang yang melihat mereka berdua. Melihat ada toilet tidak jauh dari sana. Abas langsung menyeret tubuh Evi ke dalam bilik toilet wanita. Ada yang harus ia selesaikan dengan mantan kekasihnya itu. Ada sesuatu yang belum selesai diantara keduanya. Abas ingin menuntaskan saat ini juga.


Bersambung