
Masih seperti sebelumnya, Mely tetap duduk di depan meja rias. Ia berhias cukup lama membuat Abas berjalan menghampiri istrinya.
"Tumben dandan.. Mau kemana?" kata Abas sembari ikut mengeringkan rambut Mely.
"Gak kemana mana cuma ingin dandan aja!" tanpa menoleh ke Abas, sekarang ia sibuk dengan pensil alisnya.
Mely dengan lihai melukis di atas wajahnya. Pagi ini ia kelihatan makin cantik saja bagi abas.
"Ikut aku ya...!" ajak abas.
"Ikut kemana?" Mely langsung menoleh ke belakang, Ia memincingkan matanya. Seakan matanya meminta jawaban.
"Ikut aku kerja hehehehe...!" Abas juga malu untuk mengatakannya.
Mely malah berasa suaminya sudah bener bener konslet. Untuk apa coba, Abas mengajakknya ke kantor. Ia hanya mengelengkan kepala. Tidah habis pikir dengan tingkah pola suaminya.
"Maaf, sorry ya...Gak bisa!!! nanti ada janji sama Mama!" bumil sedang jual mahal. Pikir Abas.
"Loh... tadi katanya gak kemana mana?" Abas mulai protes.
"Nanti kalau aku bilang, bakal ada sesi wawancara dadakan. Mau kemana? sama siapa aja? ngapain? pulang jam berapa?Bla bla.. bal..?" Mely ngomongnya dimonyong monyongin.. seolah olah lagi ngeledek Abas.
"Mama ini... hemmmm!" Abas malah bete sama Mamanya, seakan akan ia telah menculik Mely dari sisinya.
"Gak Boleh, Ikut aku saja. Mama biar aku yang urus nanti. Biasanya juga Mama jarang di rumah!" Ia berencana mengagalkan rencana Mamanya.
"Lagian ngapain juga aku ke kantor?" protes Mely.
"Gak usah ngantor. Main aja ya...!" mata abas mulai berbinar binar. Entah Ia sedang memikirkan rencana apa kali ini.
"Mesti gitu deh, kemarin aku di japri sama Bela. Dalam bulan ini dia belum kencan sama sekali. Katanya kamu membuat Fadir lembur terus terusan"
Abas tidak peduli, itu kan bukan masalahnya.. Ia mengangkat kedua bahunya seakan tidak mau tahu. Mely jengkel juga lama lama dengan sikap Abas. Ia pun langsung Vidio Call Bella.
"Kringg.... kring...."
Masih belum diangkat... Mely mencoba kembali menghubungi sahabatnya.
"Kring.... kring...."
Akhirnya diangkat juga. Terlihat di layar wajah Bela. "Belllllll, main sini dong kalo gak sibuk. Aku mau ngobrol... kangen nih," ucap Mely mengawali pangilan Vidionya.
Abas sedari tadi cuma ngelirik.
Selagi Mely Vidio Call'an, Abas mencoba menggangu. Ia Membisikkan sesuatu ketelinga istrinya. Bela yang ada diseberang sana di buat I'll fill.
"Sial*" lu Bas!" gerutu Bela.
Dengan sengaja Abas malah mencium pipi, kening, mata, hidung. Membuat Bela langsung memutus sambungan telponnya.
"Ya ampun kamu ini yah, gangu terus. Jahil banget sih sama sahabatku," Mely merasa Suaminya dan sahabat karibnya kalo ketemu mesti ribut.
Bak kucing ketemu tikus. Keduanya selalu meributkan hal hal yang gak penting menurut Mely. Dua orang yang paling Mely sayang. Bila bertemu seperti Tom and Jerry.
Abas pun pamit berangkat kerja, Ia gak jadi ngajak Mely. Ia pikir pikir lagi nanti malah pusing dengerin ceramah Mamanya. Ia mengecup kening istrinya dan berangkat kerja.
"Akhirnya berangkat kerja juga!"
Mely menarik napas dengan dalam. Ia heran Suaminya kini jadi suka bolos kerja. Biarpun Dia seorang pimpinan. Dia kan tetep harus rajin. Biar jadi contoh para bawahanya.
"Ah apa mungkin jaman sekolah suaminya itu kebanyakan bolos paling ya..." Ibu hamil yang satu ini pikirannya terbang kemana mana.
"Tok tok tok"
"Masuk tidak dikunci kok," teriaknya dari dalam.
Ternyata Mama yang datang, Mama pun masuk kamar Mely. "Udah siap sayang?" tanya Mama yang sudah rapi dan terlihat fashionable.
"Udah Ma, emang mau kemana Ma?" Mely belum tahu mau diajak kemana, karena Mama hanya memberi tahu untuk pergi bareng tanpa memberi tahu tujuannya.
"Ada deh, nanti juga kamu tahu... Ayo sini!" Mama mengandeng tangan menantunya.
Mama keluar dari dalam pintu, dan menghampiri Mely yang ada di pintu sebelah. Ia kembali mengandeng tangan Mely. Keduanya masuk ke sebuah ruangan. Mely merasa asing dengan tempat tersebut.
"Kenapa Kita kesini Ma?"
Mely masih bertanya tanya maksud Mamanya membawan dia kemari.
"Ini hadiah dari Mama Mel," ucap Mama.
Mely berpikir dengan keras, hadiah? hadiah apa. Perasaan gak ada kotak kado di depannya.
Melihat ekspresi kebinggungan Mely, Mama menunjuk gedung yang mereka injak sekarang.
Hah, apa,.. Mely masih gak nyangka apa yang barusan Mama mertuanya katakan.
"Iya sayang, Mama hadiakan gedung ini buat kamu!" Mama seakan tau apa yang ada dalam pikiran Mely.
"Untuk apa Ma" ucap Mely dengan polosnya.
Mendengar pertanyaan Mely, Mama hanya bisa memeluknya. Ia sangat bangga dengan Mely yang tidak begitu tertarik dengan materi yang berlimpah. Abas benar, Mely adalah orang yang sederhana. Perempuan apa adanya tidak tertarik dengan harta keluarga mereka. Sepertinya Mely hanya tertarik pada Putranya.
"Ya sudah, Mari kita pulang saja!" tiba tiba Mama mengajak pulang saja. Rasanya kejutan berupa hadiah sebuah gedung tidak mengejutkan mely sama sekali.
Bukanya senang Mely malah menangapinya dengan datar. "Untuk Apa?" Kata kata itu sekarang Mama hafal diluar kepala. "Iya Mel, Kamu bener nak. Untuk apa semua kemewahan ini, Toh jika Kita mati semua Kita tinggalkan" Mama seakan tersadar. Harta bukan segalanya.
Mereka kini sudah sampai di rumah. Mama tampak lesu kembali kedalam ruang kerjanya. Ia merasa gagal memberi surprise pada Mely. Malah Dia sendiri yang terkejut dengan respons mantunya. Mama duduk di kursi kerjanya, kembali matanya tertuju pada berkas berkas yang Ia pegang.
Mely sedang duduk di sofa, ia sedang menunggu kedatangan Bela. Mereka sudah janjian, Bela janji akan mengunjungi dirinya beberapa saat lalu.
Tidak berapa lama kemudian, nampak Bela sudah memarkir mobilnya. Ia langsung masuk kediaman Mely tanpa pemeriksaan. Karena para penjaga sudah tahu siapa Bela. yaitu sahabat dari tuan rumah mereka.
"Meliii....." teriak Bela.
Keduanya langsung berpelukan. Jadi Mely belum bercerita kepada sahabatnya kalau dia sedang hamil. Rencananya Ia ingin cerita saat ini juga. Ia ingin membagi kabar bahagianya.
"Bel aku mau Cerita, tapi jangan heboh duluan ya..." Mely tahu temennya ini ember banget. Dan orangnya gampang heboh. Sebelum ia bercerita, ia ingin memberi lampu kuning untuk sahabatnya. Bela yang diwanti wanti seperti itu, membuat dia jadi tambah penasaran.
"Ah apa sih Mel, bikin kepo aja kamu ini?" ucapnya.
"Aku hamil...!
Mata Bela langsung melotot,
" Tuh kan, jangan lebay deh...!" Mely mencoba menyandarkan sahabatnya.
"Bener kamu hamil? Anak Abas?" tanyanya seakan tidak percaya dengan ucapan Mely.
"Lah.. jahat lu. Anak siapa lagi kalau bukan anak suamiku?" Mely mencubit tubuh Bela, Ia jadi kesal dengan respons sahabatnya.
"Hahahah... maaf ... maaf..., Tokcer juga tuh suamimu!' Bela seakan mengolok suami sahabatnya.
Mely hanya tersenyum tipis, menangapi kata kata Bela barusan.
"Besok kan Hari minggu, double date yuk..!" Ajak Mely.
"Ayuk.. Aku juga sudah kangen banget sama sweety hunny bunny ku!" Ini kesempatan bagi Bela untuk kencan bersama Fadir.
"Yasudah nanti aku omongin sama Bubu ya, sepulang kerja!" Mely nampak mengetik di handphonnya. Sepertinya ia sedang chatting dengan si Bubu.
"Bubu siapa itu Bubu?" Bela tidak mengerti siapa yg di maksud bubu oleh Mely.
Mely menunjukkan wallpaper handphonnya kepada Bela. Disana ada potret Mely yang berpose memeluk seseorang dari belakang.
Meski tidak nampak wajahnya. Bela ingat betul siapa pemilik wajah tersebut.
Itu kan photo pre-wedding Mely dan Abas. Dia ingat betul karena dia sendiri yang menyiapkan. Haduh, kepala Bela rasanya pusing... Ia merasa konyol dengan pangilan sayang Mely terhadap suaminya... ish.. Bela sampek merinding. Apa'an tuh "Bu Bu", entah iri atau apa Bela ingin tertawa tapi takut dosa.
Bersambung