
Nathan yang merasa cemburu, kini mendekap tubuh Mika. Entah itu sebuah perasaan yang palsu atau tulus, yang jelas masih samar. Hati Nathan masih berdiri di antara dua kapal. Separuh hatinya ingin membalas dendam, separuh yang lain mulai terpaut dengan Mika.
Beberapa minggu berlalu, kini saatnya Mika meninggalkan negeri ini dan kembali menempuh pendidikan di luar negeri.
Di bandara, Melly dan Abas nampak sedih menatap kepergian Mika, Miko yang semula nampak cuek pun ikut merasakan kesedihan itu.
"Jangan bandel disana Kak!" pesan Miko dengan sok dewasa.
Karena gemas dengan adeknya, Mika langsung mengacak acak rambuk adek kesayangannya itu.
"Ma, Mika berangkat dulu ya!" keduanya saling berpelukan.
"Hati-hati, Sayang." ucap Mama dan Papa Mika.
Mily menganggukkan kepala pelan.
"Bye,"
Sekarang Mika sudah ada dalam sebuah pesawat. Ia sangat terkejut ketika Nathan duduk tepat disebelah tempat duduknya.
Nathan tersenyum penuh arti pada Mika. Kamu mau kemana? Tanya Mika seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Sudah, duduk sini. Jangan berisik!" Nathan tersenyum penuh arti.
Mereka berdua menikmati perjalanan bersama. Menikmati moment yang jarang terjadi diantara mereka berdua.
Cukup lama mereka mengudara, hingga tidak terasa akhirnya mereka menginjakkan kaki di negara asing.
Saat sampai di bandara, Mika binggung. "Kak Nathan mau tinggal dimana?"
"Sementara tinggal di hotel, aku gak lama kok. Cuma beberapa hari saja."
Mika nampak kecewa mendengarnya. "Bisahkan Kita tinggal bersama?" dengan berani Mika mengeluarkan ide gilanya.
"Jangan, itu sangat bahaya."
"Bahaya?"
"Sudahlah, Ayo aku antar!" Nathan memesan taksi dan mereka berdua menuju rumah Mika.
"Mampir ya...?" pinta Mika dengan wajah memelas.
"Sorry, aku gak bisa jamin kamu aman bersamaku saat ini." Setelah membantu meletakkan koper koper milik Mika. Nathan pun berniat pergi.
Tapi, saat dirinya sudah berada di ambang pintu. Mika memeluknya dari belakang.
Deg, hati Nathan mulai berdesir. harusnya ia membalas dendaamnya, mengapa sekarang ia justru jatuh cinta...
"Lepaskan Mika, ini sangat bahaya!" Nathan mencoba memperingati gadis itu.
Bukannya melepas, Mika justru memeluk dengan erat.
Tidak tahan, Nathan pun membalik tubuhnya. Ditatapnya Mika dengan wajah yang sangat mengoda bagi dirinya.
"Aku sudah ingatkan kamu Mika!" Nathan menatap tajam pada Mika.
"Tak bisahkan Kita tinggal bersama?" suara Mika penuh harap.
Nathan binggung... antara benci dan cinta. Mana yang harus ia pilih.
"Kamu akan meneyesal di kemudian hari!" ucap Nathan.
"Biarlah itu menjadi sesalku." Mika mendaratkan kecupan di pipi Nathan.
Nathan yang semula mulai mundur kini bangkit kembali.
Mika mengerjapkan matanya, tanda ia tidak akan menyesal.
Melihat keberanian Mika, Nathan langsung beraksi. Ia langsung membawa Mika ke kamar. Dan apa yang harusnya terjadi pada pasangan yang sudah menikah, akhirnya terjadi pada Mika dan Nathan.
Esok paginya, sepasang kaki menyembul dari balik selimut. Sepasang lagi meringkuk di balik selimut.
Nathan bangun terlebih dulu, ia mengecup hangat kening Mika. Sejenak ia lupa dengan dendam yang ia punya.
Mereka berdua menikmati hari hari bagai pasangan suami istri. Meskipun mereka belum menikah. Sampai suatu hari, hal buruk terjadi pada Mika.
Pulang dari kampus, Mika mengalami pendarah yang hebat. Ia langsung dilarikan ke sebuah rumah sakit.
Nathan yang saat itu ada di Indonesia, langsung terbang ke tempat Mika. Wajahnya sangat cemas, beberapa bulan ini perasaannya sudah mulai berkembang dengan tulus. Nathan sudah mulai lupa dengan dendamnya ketika tinggal dengan Mika.
Kebetulan saat ini ada kerjaan di Indonesia, alhasil ia pulang sementara. Nathan juga tidak tahu kalau Mika sedang hamil buah cintanya.
Dengan perasaan was was, Nathan yang sudah sampai rumah sakit langsung berlari menuju kamar Mika.
"Mika," teriak Nathan sembari memeluk tubuh Mika.
"Maaf Mika, aku yang salah,"
Mika masih belum sadar, ia masih dalam pengaruh obat bius.
Malam harinya baru Mika membuka matanya
"Mika, kamu lihat aku kan? Mana yang sakit?" pria dingin itu perlahan mencair ketika berada di dekat Mika.
Mika memegang perutnya, ia larut dalam kesedihan. Mika menangis dalam diam tak mengeluarkan suara.
Merasa sangat bersalah, Nathan langsung memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku, Mika," Nathan mulai berkaca-kaca. Ia tidak bisa menatap kesedihan Mika yang kehilangan buah hati mereka.
Keduanya larut dalam kesedihan, saling berpelukan. Memberikan kekuatan satu sama lainnya.
Beberapa minggu kemudian, Nathan yang masih melihat kesedihan di mata Mika mengajak Mika untuk berlibur.
Mereka pergi ke Paris, melepaskan semua kesedihan yang sempat mengingapi keduanyan.
Di bawah menara Eiffels, Nathan berlutut di depan Mika.
"Mika, will you marry me?"
Mika menangis haru, akhirnya Nathan menyematkan cincin di jari manisnya, akhir yang bahagia bagi Mika dan Nathan.
keduanya akan menjalani hidup sebagai pasangan yang sesunguhnya. Melupakan rasa dendam yang hanya menyakitkan dada.
Nathan dan Mika memulai lembaran baru mereka. Menikah di saat usia mereka masih muda menjadi pilihan terbaik untuk keduanya agar bisa saling menjaga.
Mika dan Nathan akhirnya hidup dengan bahagia selaman lamanya. END
***
Terima kasih untuk yang sudah mendukung karya saya yang bagai remahan renginang di dalam kaleng konghuan ini.
Mohon maaf bila banyak sekali kekurangan, author sadar betul. Semoga kedepannya author bisa menulis lebih baik lagi.
Saya ucapkan lagi, terima kasih bamyak untuk kalian semua.
I love u all
Sept September