
3 minggu usai terbongkarnya identitas Leony yang sebenarnya, sekarang yang perlahan tapi pasti sikap Thalia mulai membaik terhadap kakak iparnya.
pagi-pagi sekali Thalia bangun dan ikut membantu para pelayan yang khusus berada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
"nona Thalia, apa yang Nona lakukan di dapur?" seru Bibi Rita yang melihat Thalia membantu para pelayan di dapur.
"hanya sekedar membantu saja bibi, lagi pula aku juga sedang tidak ada pekerjaan lainnya, jadi tidak apa-apa kan jika aku membantu kalian bekerja."
"Tetapi Nona, bagaimana jika tuan muda melihat apa yang sedang Nona lakukan?"
Thalia menggeleng seraya meletakkan kan segera susu hamil untuk kakak iparnya di atas meja, "kakak tidak akan mengetahuinya, lagi pula mereka juga belum turun, kan? Sudahlah jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu, beritahukan aku apa lagi yang bisa aku bantu Bibi Rita?"
Tak lama kemudian Rendra dan Embun pun keluar dari kamar, dengan hati-hati Rendra menggenggam tangan istrinya.
membantunya untuk melangkah karena ia tahu kondisi istrinya saat ini yang sedang hamil ditambah lagi perutnya yang semakin membuncit.
"perhatikan langkahmu berhati-hatilah, jangan terburu-buru." Embun tersenyum saat mendapatkan perhatian dari suaminya.
"bahagianya diriku selalu mendapatkan perhatian dari suamiku tersayang, terima kasih karena selalu menjagaku... aku merasa semakin bahagia hidup bersama denganmu, dan aku sama sekali tidak menyesalinya karena telah menikah dengan dirimu."
lalu tanpa diduga embun mendaratkan ciumannya di pipi rindra, "Itu hadiah pagi hari ini untuk dirimu, tetaplah menjadi Rendra yang aku kenal saat ini, besok, lusa, dan selamanya."
mendengar kalimat itu Rendra pun terkekeh kecil, "ciuman saja tidak akan cukup, kau harus memberiku sesuatu yang lebih dari ini," lihatlah bagaimana caranya renda menggoda istrinya sendiri.
sesampainya di ruang makan Thalia melihat mereka mendekat, "Selamat pagi kakak dan kakak ipar, aku sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kita makan."
Rendra menarik kursi untuk Embun duduki, "hm, memangnya kau bisa masak?"
pertanyaan itu membuat Thalia mengerucutkan bibirnya dengan kesal, "Ya tentu saja masakan ku jauh lebih enak dari kakak ipar."
"wah Benarkah? aku jadi semakin tidak sabar untuk mencicipinya." tutur Embun yang menyentuh sendok dan garpu nya. lalu dia menatap suaminya, "Sayang apa yang kau lakukan? Ayo duduklah dan kita beri penilaian terhadap rasa masakan yang dibuat oleh adik ipar."
suasana pagi itupun terus berlanjut dengan agenda sarapan bersama, Senyum Dan Tawa mewarnai ruangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesudah sarapan pagi mereka bertiga pun duduk di ruang keluarga, talinya duduk sembari memegang majalah fashion. sementara Rendra duduk dengan menggenggam tangan istrinya.
Thalia membolak-balikkan majalah itu sampai dia merasa bosan, hingga akhirnya tercetus sesuatu itu di dalam pikirannya.
"Kakak, aku ingin melanjutkan pendidikan ku di Amsterdam."
Rendra hanya menaikkan satu alisnya lalu diam dan hanya embun yang membuka suara, "Kenapa harus jauh di luar Negeri? Bukankah di kota ini juga ada banyak?"
Thalia pun menggeleng, "tidak kakak ipar, aku hanya ingin di Amsterdam. Tempat aku dilahirkan. kota itu memiliki sejuta kenangan untukku... karena itulah aku ingin mengenangnya kembali lagipula di sana ada rumah mama dan papa, sekalian saja Aku ingin merawat rumah itu."
"kau yakin?" imbuh Rendra menimpali pertanyaan istrinya tadi, "iya kak, aku sangat yakin... dan, jika Kakak mengizinkannya maka besok kakak bisa mengatur keberangkatan ku menuju Amsterdam."
perbincangan mereka pun berakhir dengan persetujuan Rendra akan keinginan adiknya, Thalia yang ingin melanjutkan pendidikannya di Amsterdam.
🍃🍃🍃 THE END 🍃🍃🍃
Hai guys akhirnya musim pertama + Extra part-nya pun benar-benar tamat. Silakan lanjut ke Pernikahan Hangat S2.
Atau klik my profil, biar gak repot hihi.