
Terlihat dari kejahuan, Mama Abas memasuki sebuah bangunan yang cukup tua. Bangunan lama seperti bangunan bekas bangunan Belanda. Mama masuk kedalam sendirian. Ia meninggalkan Fadir di dalam mobil seorang diri.
Mama akan menemui seseorang, Ia ingin meminta bantuan orang tersebut untuk mencari Abas. Mama tidak sabar bila menunggu matahari terbit. Bagaimana Ia bisa diam saja sedangkan putranya dalam keadaan yang berbahaya. Kita tidak pernah tahu bahaya apa yang mengancam di jurang itu. Mama sedang berburu dengan waktu.
Oleh karena itu, Mama memutuskan mencari bantuan pihak lain. Ia menghubungi Orang orangnya. Tampak seseorang maju menjabat tangan Mama, mungkin Dia adalah Ketua Tim dalam misi penyelamatan Abas malam ini. Jumlah mereka banyak sekali sekitar 20 orang. Mama ingin anaknya ditemukan makam ini juga.
"Tolong temukan anak saya dengan segera, malam ini juga!" Mama memecah kesunyian dengan kata perintahnya. "Siap!" jawaban ketua tim tersebut. Entah mereka itu siapa, hanya saja bila dilihat sekilas mereka terlihat seperti sebuah pasukan khusus. Saat ini mereka dibentuk secara khusus dalam misi penyelamatan Abas.
Tidak butuh waktu lama, semua membuyarkan diri masing-masing. Mereka semua telah bersiap dengan segala perlengkapan yang sudah disiapkan. Masing masing masuk kedalam mobil mereka. semua bersiap menuju lokasi jatuhnya Mobil Abas.
Mama kembali ke Mobil bersama Fadir, Sekertaris Abas itu tidak bertanya banyak hal. Sedari tadi ia hanya diam, Ia tahu Mama Abas akan memebereskan segalanya seperti biasanya. Ia yang selalu membersihkan segala sesuatu yang merecoki kehidupan Putranya.
Setelah melakuan pertemuan tertutup itu, Mama memperbanyak doanya. Ia berharap putranya akan selamat, di dalam doanya semoga Abas bisa ketemu malam ini dalam kondisi yang selamat tampa kurang apapun itu doa dalam hati Mama.
Saat akan menyalakan Mobil, Mama membuka percakapan. "Antarkan saya ke rumah sakit tempat mely dirawat!" pinta Mama. "Baik!" jawab Fadir, ia juga penasaran bagaimana kondisi istri atasannya itu. Di Rumah Sakit Mitra, Ruang Rawat Inap. Mely sudah dipindahkan keruang rawat inap. Namun ia ternyata masih belum siuman. Ia masih pingsan seperti beberapa jam yang lalu. Papa berkali kali menanyakan pada Dokter, mereka meminta untuk menunggu sebentar lagi.
Mama memasuki halaman rumah sakit yang terkesan kecil. Mama melangkahkan kakinya ke meja bagian informasi. Ia inggin menanyakan kamar berapa Mely dirawat. Belum sempat bertanya Ia melihat Papanya Mely yang duduk lesu di depan sebuah kamar rawat inap. "Mungkin itu kamarnya," batin Mama.
Mama berjalan mendekati pria paruh bayah yang nampak kelelahan itu. Mama menanyakan keadaan menantunya, namun Papa hanya mengeleng kepalanya. Mama Mely muncul dari balik pintu. Mama dan mertua Mely saling bertukar pandang. Ada duka yang tersirat dari mata keduanya. Perasaan sedih dan duka yang dalam.
Mama Abas ingin masuk menemui Mely, Mama Mely menganggukkan kepalanya. Mama Abas pun masuk kedalam. Hatinya terenyuh, dilihatnya Mely yang dulu ceria dengan keramahannya kini layu. Ia seperti bunga yang kehilangan madunya. Mely terlihat kusut, terlihat kedua matanya bengkak. Entah berapa kali ia menangis hari ini.
Mama membelai rambut Mely, perlahan Mama menangis sesengukan disamping Mely. Ia meluapkan kesedihannya yg tak bisa ia tahan lagi. Bendungannya kini telah jebol ketika melihat keadaan mely saat ini. Mama merasa melihat dirinya yang dulu. Kehilangan sosok suami ketika masih muda.
Ia tidak ingin menantunya memiliki nasib yang sama dengannya. Dalam tangisan mama ia berkali Kali berdoa. Semoga Abas dapat ditemukan malam ini, Ia tidak bisa membayangkan Mely harus jadi janda diusianya yang masih muda.
Pikiran Mama mengembara kemana mana, terlintas banyak kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menimpa hidup anak dan mantunya. Namun mama kembali menguatkan hatinya. Ia tidak bosan bosannya berdoa. Doa seorang ibu sampai ke langit ketujuh.
Jauh di dasar sebuah jurang yang curam, terdapat sebuah mobil dengan posisi terbalik. Itu adalah mobil yang Abas kemudikan. Mobil yang telah sengaja ditabrak oleh seseorang. Kondisi mobil sangat memperhatinkan. Hampir semua bodynya rinsek parah, tidak nampak seorang pun didalam mobil tersebut.
Abas tidak berada dalam mobil tersebut. Mobil itu kosong melompong tak berpenghuni. Tidak jauh dari lokasi jatuhnya Mobil Abas. Terlihat beberapa orang utusan Mama telah menemukan lokasi jatuhnya mobil. Waktu itu sudah dini hari, tepat pukul Tiga pagi Mobil Abas baru ditemukan.
Mereka para Tim penyelamatan utusan pribadi Mama Abas menyusuri disekitar lokasi. Mereka berusaha mencari si pengemudi. Namun Hari hampir menjelang pagi. Pencarian belum menemukan hasil. Beberapa orang diantara mereka ada yang beristirahat sejenak, medan yang tidak mudah membuat mereka kesulitan dan kelelahan.
Penerangan yang minim juga menjadi faktor utama. Ketua tim penyelamat memecah mereka menjadi empat kelompol. Ia yakin Abas tidak jauh dari lokasi jatuhnya Mobil. Maka ia membagi krunya menjadi empat. Pencarian dibagi menjadi empat arah. Selesai beristirahat sejenak, mereka kembali melakukan pencarian dengan dibagi empat kelompok seperti yang telah direncanakan.
Kini semua sudah berpencar, bersiap mencari Abas. Waktu terus berjalan, semua masih sibuk menyisir lokasi. Mereka memperluas lagi area pencarian. Sampai salah seorang diantara regu penyelamat berteriak. Ia berteriak kepada anggota team lainnya. Ia merasa melihat suatu petunjuk di tepi sungai. Ada benda asing yang tampak dari jauh.
Semua yang mendengar teriakan, langsung berjalan menuju sumber suara. Mereka berhati hati turun ke sungai karena bebatuan yang licin serta tajam. Nampak salah satu dari mereka sudah berada di dekat sungai. Perlahan ia mendekat, Ternyata itu adalah tubuh manusia.
Tim penyelamat membalikkan tubuh yang ia temukan didekat sungai. Ia bisa mengenali sang pemilik wajah. Mereka semua, masing masing sebelum melakukan pencarian telah mendapatkan gambar dari wajah Abas. Meski banyak luka pada wajah pria yang mereka temukan di dekat sungai yang tidak begitu jauh dari mobil. Tim penyelamat yakin bahwa itu benar Orang yang mereka cari.
Semua tim berkumpul, mereka menyiapkan tandu untuk mengangkat tubuh Abas. Mereka juga langsung memeriksa, apakah orang yang mereka temukan masih hidup atau sudah meninggal. Setelah diperiksa, masih terdengar detak jantungnya, namun terdengar sangat lemah.
Semua tim penyelamat bergegas, mereka berburu dengan waktu. Mereka mencari perkampungan yang paling dekat. Setelah berjalan beberapa kilo, akhirnya mereka menemukan sebuah perkampungan kecil dekat jurang.
Salah seorang Tim penyelamatan, meminta bantuan pada penduduk desa. Mereka dengan tangan terbuka mau menolong. Dengan tempat seadanya, mereka merebahkan tubuh Abas diatas dipan yang terbuat dari Bambu.
Dengan bekal kotak P3K para penyelamat mengobati luka pada sekujur tubuh Abas. Tubuhnya penuh dengan luka, baju yang ia kenakan semalam sudah robek dimana mana. Abas masih pingsan saat ditemukan. Saat ini pun ia belum sadar. Ia terlihat tidak berdaya dengan semua luka yang ada pada sekujur tubuhnya.
Bersambung