PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Goyah


Pagi yang cerah, secerah hati Mely saat ini. Ia merasa senang pagi ini. Akhirnya ia kini berada di negaranya sendiri. Rasanya ia sudah kangen banget sama Tanah Airnya. Ia sudah kangen dengan keramahan orang orang disini, Ia juga rindu masakan khas orang Indonesia.


Mely sudah tidak sabar ingin makan nasi goreng mawut, Sate ayam bumbu kacang, Tahu petis, Rujak cingur khas kota kelahirannya, mpek pek Palembang buatan sang Mama yang mengingatkan akan masa kecil sang papa saat tinggal di Sumatra dulu.


Lidahnya benar benar sudah rindu berat sama masakan khas nusantara. "Sayang sore nanti, kita keliling wisata kuliner ya?" ajak mely pada suaminya. Ia dan Abas duduk di kursi belakang. sedangkan mama duduk di depan bersama Pak sopir.


Abas terlihat melamun ketika Mely mengajakknya berbicara. "Sayang, nanti Kita jalan jalan ya wisata kuliner?" Mely mengulangi kalimat ajakan pada suaminya.


"Eh iya. Terserah kamu mau kemana. Aku anterin!" jawab Abas yang baru sadar dari lamunannya.


"Gak boleh nyetir sendiri, harus sama Pak Bambang, maaf Mama harus ngelarang kamu nyetir sendiri saat ini. Mama gak mau kamu kenapa kenapa lagi!". Mama keberatan putranya berkendara sendiri. Ia masih trauma dengan kejadian sebelumnya.


"Tapi Ma!" Abas seakan menolak ide Mamanya.


Namun Mely langsung menegahi keduanya.


"Iya Ma, jangan kuatir. Mely yang jamin, kak Abas gak akan nyetir sendirian!" Mely masih ingat betul bagaimana ia dan Mama mertuanya menangis histeris bersama sama ketika Abas dinyatakan menghilang. Mely tahu betul perasaan mamanya. Karena ia juga merasakannya sendiri.


"Makasih sayang, Kamu memang anak mama yang bisa mama andalkan," Mama menoleh ke kursi belakang, ia memberikan senyum tulusnya kepada anak mantu yang sudah seperti anak sendiri.


"Iya Mama," Mely membalas senyuman yang Tak kalah tulusnya.


"Mengapa aku merasa jadi anak tiri Mama," canda Abas.


Mereka semua tertawa dengan candaan Abas, Mobil terus melaju ke kediaman Rumah Utama Mama. Disana sudah menanti puluhan pegawai rumah, Mama menambah keamanan di rumahnya. bahkan jalanan masuk sekitar rumah mereka, sengaja mama pasang CCTV.


Mama sangat over protective kali ini terhadap keselamatan keluarga nya, Ia sangat memperketat keamanan. Ia tidak ingin kecolongan lagi. Kini Abas dan keluarga sudah keluar dari Mobil. Mereka semua berjalan masuk kedalam rumah.


Mely dan Abas masuk ke kamar mereka, Mama juga masuk kedalam kamarnya sendiri. Mely membereskan barang bawaanya, perlahan memasukkan semua pakaian kedalam lemari. "Gak usah capek capek sayang, uda duduk sini," Abas meminta Mely duduk manis saja di sampingnya tanpa melakukan apa apa.


"Gak apa apa sayang, Aku beneran gak capek kok," terang Mely. Ia mengerak ngerakkan tangannya seolah olah sedang senam.


Abas bangun dari ranjang, ia menarik Mely menuju tempat tidur. "Udah ya, gak boleh capek. Titik...!" Abas merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Ia menarik tubuh Mely dan memeluknya dengan erat.


Mau tidak mau terpaksa Mely menurut. Ia pasrah saja dengan tindakan sang suami. Mely berbaring membelakangi Abas, sedangkan Abas sendiri sibuk menciumi rambut Mely yang wangi. Namun pandangan matanya kali ini nampak kosong, Ia masih memikirkan pertemuannya dengan Evi waktu dia di bandara.


Abas kembali tersadar, tidak seharusnya ia memikirkan Wanita lain, karena dia sudah menikah. Apalagi sekarang dia Sedang bersama Mely. Abas merasa tidak nyaman dengan perasaannya sendiri. Mengapa hatinya memikirkan Wanita lain. Hatinya mulai galau.


Hari sudah menjelang sore, matahari sudah condong ke barat. Udara panas berganti hangat, angin berhembus menyapu dedaunan yang kering di halaman rumah utama. Beberapa orang nampak sibuk dengan tugasnya masing-masing. Mely masih tertidur dengan pulas. Ia sudah lupa dengan rencana kulinernya. Abas sengaja tidak membangunkan mely. Ia merasa Mely perlu mengecas kembali tenaganya dengan tidur yang cukup.


Abas turun ke bawah, ia berniat menemui Mama. Dilihatnya di ruang tamu mamanya tidak Ada, ia pun pergi ke kamar mamanya.


"Ma, Mama... ma... Mama," teriaknya mencari sang Mama.


"Iya, disini" Sahut Mama dari ruang kerjanya.


"Lagi apa Ma?" tanya Abas, karena Mamanya terlihat sedang sibuk sekali dengan berkas berkas ditangannya.


"Oh ini, Mama harus memeriksa beberapa berkas. Ada apa kamu mencari Mama? Mana Mely?" Mama mendongakkan kepalanya ke belakang tubuh Abas. Mungkin mama mengira Mely Ada dibelakang tubuh Abas.


"Lagi tidur Ma, Biarin dia tidur bentar lagi. Ma... Ada yang mau aku omongin," mendadak Abas memasang muka serius.


"Ada apa?" tanya Mama, ia semakin penasaran dengan anaknya.


"Mama inget anak kecil tadi yang Aku pungut bolanya pas di bandara?" Abas mencoba mengingatkan Mamanya tentang peristiwa tadi pagi.


"Ada apa memangnya dengan anak itu? bukannya kamu sudah pertemukan pada orang tuanya?" Mama mulai mengerutkan dahinya.


"Iya ma, sudah ketemu. Mama tahu siapa mamanya?" Abas seperti memberi teka teki pada sang Mama.


"Yaaa... Mana Mama tahu, kan yang ketemu tadi kamu. ya cuma kamu yang tahu. Memang siapa Ibunya?" Mama mulai larut dengan curhatan abas, Ia terpancing, semula ia tidak ingin tahu. Sekarang jadi sedikit penasaran.


"Evi Ma..." jawab Abas dengan suara yang cukup pelan, namun sangat terasa jelas terdengar ditelingga Mama.


"Iya Ma, tadi abas ketemu evi dan anak laki laki yang Abas gendong tadi adalah putranya," Abas menerangkan kepada Mamanya.


"Terus kenapa? Apa hubungannya dengan kamu? Dia sudah punya anak. Kamu sudah menikah. Terus apa masalahnya?" Nada suara Mama seakan Ia marah, Ia tidak ingin kehadiran Evi akan merusak rumah tangga putranya yang sudah bahagia.


"Iya Ma, Abas tahu. Tapi dari tadi Abas masih kebayang bayang Evi. Abas sampai merasa bersalah sama Mely Ma!" Ia mengutarakan apa yang ia rasa sedari tadi.


"Kamu gila! Memikirkan Wanita yang sudah menghianatimu! Inget Abas. Dia sudah meninggalkan kamu!" Mama nampak sangat emosi melihat sikap abas seperti ini.


"Mama betul, sepertinya aku sudah gila. Bagaiman bisa bayangan Wanita yang sepuluh tahun meninggalkan ku nampak jelas di otakku!' Abas juga setengah berteriak, suaranya mungkin sampai ke kamar sebelah.


"Krompyangggg....."


Terdengar vas bunga yang diletakkan di atas meja depan kamar pecah. Mely tidak sengaja menyenggolnya. Itu karena ia shock dengan apa yang ia dengar barusan. Ia seperti mendengar pengakuan sang suami bahwa ia memiliki perasaan untuk Wanita lain selain dirinya.


Mely berlari ke kamarnya. Ia mengunci diri di dalam kamar. Abas mendengus kesal... Ia merasa bersalah. Mama juga memandang Abas dengan jengkel. Bagaimana bisa bayang bayang mantan menganggu pikiran anakknya.


Tidak cukupkah kehadiran Mely saat ini, Intinya dua Wanita didalam rumah itu sangat kecewa dengan sikap Abas.


"Mel, buka Mel..."


Tok tok tok


" Mely buka Mel"


Abas berkali Kali memanggil namanya, namun Mely tak bergeming. Ia sudah terlanjur Marah dengan suaminya yang sudah mulai mendua.


"Sayang bukak sekarang!" Abas udah mulai emosi.


"Aku dobrak sekarang!!!!!"


Mendengar Abas mau mendobrak pintu kamarnya, Mely langsung bangkit dari tempatnya semula. Ia tidak ingin tubuh Abas yang masih dalam masa penyembuhan malah rusak parah.


,"Jangan dobrak, aku buka!" teriak Mely dari dalam kamar.


Perlahan Mely membuka kunci kamar, dibukanya pintu kamar dengan pelan pula. Melihat pintu terbuka Abas langsung merangsek masuk. Ia memegang kedua pundak Mely dengan kedua tangannya.


"Kenapa kamu mengunci kamar?"


Abas bosa basi dengan bertanya seperti itu, Mely pikir Abas pasti mengerti jawabannya. Ia memilih diam tidak menghiraukan Abas yang berdiri tegap di hadapannya.


"Mel, kalau aku ajak ngomong jawab!" Abas menekan pegangannya. Ia seperti mencengkram pundak Mely. Kucingnya yang jinak kini jadi macan lapar. Batin Mely. Namun tidak ada rasa takut yang tergambar diwajahnya, Hanya marah dan benci yang memenuhi hati Mely saat ini. Ia seperti sedang diselingkuhi oleh suaminya.


Abas semakin menyudutkan istrinya, Mely tak bergeming. Rasa marahnya lebih kuat dari rasa takut dan sakit. Abas terus mendorong Mely sampai menyentuh tembok. Kini punggung Mely sudah menyatu dengan tembok didalam kamar.


"Kenapa kamu diem, kalau akau tanya harus jawab!" Abas terlihat hilang kendali. Ia menjadi emosional. Abas yang sekarang mengingatkan Mely pada Abas saat pertama Kali bertemu. Abas yang Jahat, dingin emosional.


Tapi Mely yang sekarang, bukan Mely yang dulu. Tidak ada ketakutan sama sekali di raut wajahnya saat ini. Benci hanya benci. Ia bahkan engan menatap wajah Abas yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.


"Tatap mata aku Mel, aku lagi ngomong sama kamu" Abas terlanjur Marah, Mely seakan menghindari, Bahkan Mely engan menatap dirinya.


Kesal karena istrinya hanya diam saja, Abas berjalan menjauh dari Mely. Ia memukul kaca meja rias Mely. "Prangggg...." terdengar kaca meja rias sudah menjadi keping keping berhamburan di lantai kamar. Darah segar menetes dari jari jari tangan Abas yang terluka.


Mely langsung berlari menuju sang suami, tidak terasa air matanya membanjiri kedua pipinya. Rasa amarahya kalah oleh rasa cintanya. Cinta Mely jauh lebih besar dari Amarahya saat ini. Ia memeluk Abas, menangis sesengukan didada pria itu.


Abas yang sudah mulai sadar dari rasa kalutnya mengusap punggung Mely. Darah merah segar menempel dipunggung istrinya. Merasa ada yang lengket dipunggungnya. Mely menjadi sadar, ia langsung melepas pelukannya. Ia berjalan menuju kotak P3K yang ditempel di dinding kamar mereka.


Mely mengobati tangan Abas dengan diam tak bersuara, sesekali ia meniup tangan suaminya. Abas juga hanya diam saja. Ini adalah Hari terkacau sepanjang pernikahannya bersama Mely. Ini pertama kalinya ia hampir goyah.


Bersambung