
Abas dan Mely terlihat resah, mereka berdua gelisah lantaran mengetahui bahwa Nathan, sang menantu adalah anak dari Evie. Ya, Evi adalah mantan pacar Abas saat muda dulu. Mereka bahkan hampi menikah. Sayang, hubungan mereka akhirnya kandas. Karena Evi meninggalkan Abas di hari pernikahannya.
Hubungan mereka pun berakhir buruk, Abas merasa kehadiran Nathan dalam hidup keluarganya. Memiliki maksud dan tujuan lain.
Cemas, Abas pun berusaha menghubungi Mika. Ia ingin mendengar keadaan putrinya saat ini.
Sementara itu, di kediaman Nathan. Dua sejoli yang saling memadu kasih itu. Tidak merasakan firasat apapun. Mereka masih mesra seperti biasa.
Menjalani hari-hari indah mereka, tanpa masalah tanpa gangguan. Hidup mereka sudah sangat tenang dan nyaman.
Di suatu pagi, ketika matahari sudah naik beberapa jengkal di atas cakrawala. Seperti biasa, Mika sedang sendirian di dalam rumah.
Suaminya sedang kerja, Mika yang bosan pun ke luar rumah. Ia berjalan-jalan di depan rumahnya.
Hamparan pasir putih sudah menyambut langka Mika. Desiran ombak di laut menjadi pemandangan yang indah untuk di lihat.
Nara terus berjalan, hingga ia tak mendengar suara orang memanggil namanya.
"Mika!"
"Mika!" teriak seseorang dari arah belakangan.
Orang itu terus lari menghampiri Mika, baru saat Mika menoleh. Orang tersebut menghentikan langkah kakinya.
"Papa! Papa kapan datang ke sini?"
Rupanya yang memanggil Mika tadi adalah Abas. Karena cemas, Abas langsung menyusul ke mari.
"Ikut Papa!"
Abas mengajak Mika ke tempat yang lebih teduh.
"Papa sendiri?"
"Tidak, ada Mama juga. Dia menunggu di teras rumah!"
"Ya ampun!" Mika pun langsung berlari menuju rumahnya.
"Hati-hati!" teriak Abas.
Seolah tidak mendengar apa kata Papanya, Mika terus berlari ke rumah. Ia kangen Mamanya, tidak enak juga membiarkan Mamanya lama-lama di luar rumah.
"Maaa!" seru Mika sambil menghambur ke pelukan Mely, sang Mama.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Mely cemas.
Mika binggung, ia memang baik-baik saja. Tapi mengapa Mamanya nampak cemas sekali.
"Mika baik-baik saja, ini Mika sehat!" senyum Mika.
"Ayo masuk Ma, anginnya kenceng di sini!" tambah Mika.
Dari belakang Abas menyusul mereka berdua. Di dalam rumah, Abas tanpa ingin membuang waktu. Ia langsung mengatakan kecemasan yang mereka rasakan.
Mulai dari fakta siapa Nathan sebenarnya, sampai prasangka mereka pada Nathan yang berencana balas dendam pada keluarga mereka karena kematian Evi.
"Papa bohong!" teriak Mika ketika mendengar penuturan dari sang Papa. Ia tidak percaya dengan apa yang Papanya katakan.
"Papa benar Mika!" Mely mencoba membuat Mika percaya.
"Ngak! Kalian bohong!" teriak Mika tidak percaya. Nathan itu orang baik, tidak mungkin ia memiliki rencana jahat pada dirinya.
Papa sama Mamanya pasti salah, mereka pasti telah keliru. Mika berusaha menepis semua pikiran buruk ke dua orang tuanya. Ia yakin Nathan, suaminya adalah laki laki yang baik.
Mely yang melihat putrinya shock dan tak percaya, ia pun memberikan waktu pada Mika. Nanti, ketika Nathan pulang, mereka berencana akan membicarakan lagi.
Malam harinya, Nathan terlihat masih di jalan. Ia masih mengemudikan mobil warna hitam miliknya.
Malam ini macet sekali, mungkin karena weekend. Makanya kemacetan ada di mana mana.
Drettt dreeettt
Mika sejak tadi menelepon suaminya. Sambil mengemudi, Nathan pun mengangkat telpon dari sang istri.
"Hallo!"
"Iya, Sayang. Masih di jalan nih!"
"Langsung pulang ya!"
"Iya, Sayang!"
Mika pun menutup sambungan telpon.
"Belum pulang?" Tanya Mely pada sang putri.
"Masih di jalan."
Ketika menunggu Nathan pulang, Abas dan Mely meminta Mika untuk membaca berkas yang mereka bawa.
Masih seperti semula, hati Mika tetap menolak. Sebelum ia mendengar langsung dari bibir Nathan, ia tidak akan percaya apapun.
Semua orang terlihat tegang tak kala Nathan sudah datang, terutama Mika. Ia takut bila apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya benar.
Ia berharap Mama dan Papa Mika salah. Semoga itu hanya salah paham. Hanya sebuah kebetulan.
"Ma, Pa....! Kapan datang?" Tanya Nathan yang baru masuk ke dalam rumah.
"Tadi Pagi!" Mika yang menjawab, karena Abas dan Mely memasang muka masam pada Nathan.
Tidak tahu apa yang terjadi, Nathan pun permisi masuk untuk mandi dan menganti pakaian.
"Nathan ke dalam dulu Ma, Pa!"
Ketika Nathan masuk ke dalam. Mika pun mengekori sang suami. Sambil menunggu Nathan mandi, Mika mondar-mandir di dalam kamar.
Cekrek
Nathan keluar dari kamar mandi, ia memperhatikan ekspresi Mika yang berbeda.
"Ada apa? Sepertinya ada yang salah?" Tanya Nathan penuh curiga.
"Ini gak mungkin kan?" tanyanya pada Nathan.
"Apanya?"
"Mama Papa bilang kamu gak bener-bener sayang aku...!" Mika tak bisa meneruskan kata katanya.
"Maksud kamu? I really loving you!"
Mendengar itu, mata Mika mulai mengembun. Mendengar kata cinta dari suaminya, membuat ia yakin bahwa Mama Papanya pasti salah paham.
"Bagaimana dengan Ibu kandungmu?"
Nathan sejenak tercengang, ia tahun. Ia menduga bahwa keluarga Mika sudah menyelidiki latar belakang dirinya.
Ia sudah menduga, lambat laun rahasianya pasti akan terbongkar.
Merasa bersalah karena niat semua Nathan memang balas dendam. Ia pun meminta maaf pada Mika.
"I'm sorry!"
Mendengar kata maaf dari Nathan. Mika langsung melepas pelukannya. Bila Nathan mengatakan kata maaf, berarti ia mengaku bahwa ia salah.
"Jadi benar kata Papa?" Mika menatap Nathan tidak percaya.
"Tapi itu dulu, dulu sekali!"
Mika langsung berkaca-kaca, ternyata ia telah keliru. Nathan mendekati dirinya hanya untuk balas dendam. Hanya untuk membalas sakit hatinya karena Evi. Wanita yang pernah singah dalam hati Papanya.
"Kamu jahat...!" Mika memukul dada Nathan berkali-kali.
"Kamu jahat!" rutuk Mika.
Nathan pun memegang tangan Mika.
"Kamu harus dengar penjelasan dariku! Itu dulu! Sebelum aku benar-benar cinta sama kamu!"
Terlanjur kecewa, Mika memilih menjauh. Ia tidak ingin Nathan menyentuh dirinya.
"Jangan pegang aku!" teriak Mika ketika Nathan hendak menyentuh dirinya.
"Mikaaaa!" Nathan menatap wajah istrinya dengan tatapan nanar.
Sementara itu, sejak tadi baik Abas dan Mely mendengar keributan yang terjadi di dalam kamar Mika.
Ingin memberikan waktu bagi Nathan dan Mika menyelesaikan masalah mereka sendiri terlebih dahulu. Abas pun memberi mereka waktu.
Sekarang, Mika sangat terpukul. Ia merasa Nathan hanya mempermainkan perasaan. Karena terlalu emosional, Mika tiba-tiba merasa pusing pada kepalanya.
Beberapa detik kemudian, istri Nathan itu jatuh pingsan.
"Mika!" pekik Nathan sembari meraih tubuh Mika ke dalam pelukannya.
BRUAKKK
Nathan membuka pintu dengan keras, membuat Abas dan Mely terkejut.
"Mika...!" teriak Mely.
Nathan pun membopong tubuh istrinya menuju mobil. Abas dan Mely pun ikut bersamanya.
Sepanjang perjalanan, semua terlihat tegang. Sampai tiba di rumah sakit, Mika dibawa ke ruang UGD.
Di sana, Nathan, Abas dan Mely menunggu dengan harap harap cemas di depan ruangan.
Sampai Dokter keluar, Nathan langsung memberondong banyak pertanyaan pada sang Dokter.
Dari sana, dari mata Nathan yang menyiratkan sejuta kecemasan pada sang putri. Abas dan Mely merasa praduga mereka salah.
Orang yang belum mengenal pun akan tahu, bahwa Nathan sedang mencemaskan keadaan wanita yang sedang dirawat di dalam.
"Selamat..!" ucap dokter pada Nathan.
Semua saling berpandangan, tidak mengerti apa maksud ucapan sang Dokter.
"Maksud Dokter?"
"Istri anda sedang hamil! Mungkin dia kecapekan."
Nathan terlihat mulai berkaca-kaca, ia tidak menduga. Mika akan mengandung lagi anak mereka.
Melihat ekspresi Nathan, Mely bisa melihat ketulusan di mata sang menantu. Ia pun menepis semua keraguan yang selama ini ia rasakan.
Begitu juga Abas, ia pun jadi percaya. Bahwa Nathan memang mencintai putrinya.
Setelah Dokter pergi, Nathan langsung masuk. Diikuti oleh Abas dan Mely.
Begitu masuk, Nathan langsung memeluk tubuh istrinya yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Ia mengecup wajah Mika berkali-kali, menatap haru pada sang istri.
Mika yang baru siuman tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya menatap pada wajah Papa dan Mamanya, mereka berdua mengangguk pelan ke arahnya. Seakan memberi restu yang tulus buat Mika dan Nathan.
"Kita akan punya baby!" ucap Nathan sambil mencium kening Mika.
Mika yang semula marah, amarahnya pun lenyap sudah. Ia pun memeluk Nathan.
Mika tahu, mata Nathan saat ini tidak bohong. Sorot mata itu, Mika yakin itu adalah cinta.
Keduanya pun berpelukan dengan haru, menyambut buah hati yang kini Mika kandung.
Mely dan Abas pun memberi selamat pada keduanya. Karena mereka akan menjadi orang tua.
Akhirnya, Nathan dan Mika mendapat seratus persen restu dari kedua orang tua Mika.
Dendam yang pernah ada kini sudah sirna sudah. Menyisahkan cinta kasih di antara mereka.
Selanjutnya, hari-hari bahagia sudah siap menyambut Nathan dan Mika.
END