
Di sebuah sudut ruangan, terdengar suara televisi yang masih menyala. Abas tertidur di depan televisi yang masih menyala itu. Ia membiarkan Mely tidur sendiri di dalam kamarnya. Abas ingin Mely berpikir kesalahan apa yang sudah diperbuat istrinya hari ini. Ia terlihat masih kesal atas tindakan percobaan bunuh diri istrinya.
Mely sendiri terjaga semalaman, ia meringkuk di atas ranjangnya yang besar seorang diri tanpa sosok Abas di sampingnya. Ia merasa kedinginan entah berapa selimut yang ia kenakan. Malam pun semakin larut, Abas terbangun dari tidurnya. Ia bangkit dari tempatnya semula, kakinya melangka mencari air minum karena ia merasa kehausan.
Setelah dari dapur, ia berbalik menuju ruang tamu kembali. Rasa kantuk Abas belum hilang, ia mau tidur kembali. ketika melewati depan kamarnya, matanya melirik ke cela pintu yang memang ia biarkan terbuka. Matanya menatap tubuh Mely yang meringkuk.
Abas melangkah mendekati istrinya, ia berniat memeriksa keadaan Mely saat ini. Ia berdiri tepat di samping ranjang kamarnya, Abas mengulurkan telapak tangannya ke dahi istrinya. Di lihatnya Mely yang mengigil karena demam.
"Dingin," ucap Mely lirih.
Mendengar istrinya yang mengeluh kedinginan, Abas perlahan melepas semua pakaian yang menempel pada tubuhnya. Usai melepas semua pakaiannya, Abas langsung masuk ke dalam selimut. Ia mendekatkan tubuh Mely kedalam pelukannya, agar Mely cepat merasa hangat.
Pagi hari mentari bersinar dengan cerahnya, musim hujan yang dingin berubah menjadi musim kemarau yang hangat. Ada kilauan cahaya yang masuk melalu cela jendela kamar Mely dan Abas. Karena silau akan sinar matahari yang menerobos kamarnya, Mely mengejap ngejapkan kedua matanya. Ia tersentak kaget saat menyadari dirinya tengah memeluk suaminya.
Dengan pelan Mely mengangkat sebagian tubuhnya yang menindih tubuh Abas, ia sempat terlena oleh aroma pria yang tidur disampingnya saat ini. Merasakan ada sesuatu yang bergerak di atas tubuhnya, Abas pun terbangun.
Ditatapnya wajah Mely yang ia rindukan, mereka saling memandang dengan dalam. Karena malas dan masih belum hilang rasa kantuknya, Abas menarik tubuh Mely kembali dalam pelukannya. Tidak ada penolakan dari istrinya. Abas semakin mempererat dekapanya. Mely yang juga merasa rindu dengan belaian sang suami membalas dekapan Abas.
Keduanya tertidur kembali hingga siang menjelang, Mely dan Abas baru bangkit dari ranjang mereka ketika matahari tepat di atas kepala.
"Sudah bangun?" ucap Abas yang melihat Mely mulai membuka matanya.
Sebenarnya Abas bangun lebih dulu dari istrinya, namun ia tidak beranjak dari tempat tidur. Abas tidak beranjak karena Mely masih memeluknya sejak semalam, rasanya ia tak ingin membanggunkan sang istri. Ia pun menyentuh kening Mely.
"Sudah tidak demam, sudah sembuh!" ucap Abas kembali.
"Hemmmm..!" Mely masih kikuk, ia merasa sedikit canggung berhadapan dengan Abas.
Melihat Mely yang belum terbiasa seperti semula Abas mencoba bersikap biasa.
"Ngak kerja?" tanya Mely, ia berusaha menutupi kecanggungan yang menderanya.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Mely, Abas malah meminta istrinya mengambilkan telpon gengamnya. Mely bangkit dari atas ranjang, ia berjalan mencari handphon Abas.
"Semalam diletakkan dimana?" tanya Mely yang mencari di sekitar kamar namun tak menemukannya.
"Mungkin ada di tuang tamu, semalam sepertinya aku tingalkan di sana," jawab Abas.
Selagi Mely keluar dari kamar, Abas langsung bangkit dari tempat tidur. Ia menutupi tubuhnya mengunakan selimut. Abas langsung berjalan cepat menuju kamar mandi. Rasanya ia juga malu dan canggung, meskipun sudah lama menikah. Tadi malam cukup intense bagi mereka berdua, tentunya pasca mereka kehilangan calon bayi yang Mely kandung.
Namun itu sudah berlalu, semua berubah sejak semalam. Sambil mandi, Abas kembali mengingat kejadian tadi malam. Ia mengingat ketika Mely membalas pelukannya. Abas merasa telah menemukan cintanya yang sempat hilang.
Mely kembali ke kamarnya dengan membawa handphon milik suaminya. Dilihatnya Abas sudah tidak ada di tempat semula, mendengar suara gemricik air. Mely mengira suaminya pasti sedang mandi. Ia pun memungguti pakaian Abas yang berserakan di lantai. Bibirnya tersenyum simpul, mengingat peristiwa semalam.
Mely membawa baju kotor ke belakang, ia beranjak menuju dapur. Mely ingin membuat sarapan untuk suaminya, ia kembali tersenyum. Ini bukannya waktu sarapan, tapi makan siang. Mely menertawakan sirinya sendiri, bagaimana bisa ia tertidur pulas sampai siang dalam dekapan sang suami? seperti Pengantin baru saja, pikirnya.
Ia mulai menyalakan kompor, memecahkan beberapa cangkang telur. Ia ingin membuar dadar gulung untuk makan siang mereka, mudah, cepat dan praktis. Mely juga tidak lupa membuat susu hangat untuk suaminya, sepertinya perasaan Mely berangsur membaik.
Setelah semuanya sudah siap Mely melangkahkan kakinya menuju kamar, ia ingin memangil Abas. Namun sepertinya ia mendadak menjadi bisu. Mely binggung untuk memulai pembicaraan dengan sang suami. Ditengah keraguannya Mely di kagetkan dengan keberadaan Abas yang sudah berada di depannya.
"Ayo... ayo makan!" Mely nampak canggung, walau hanya sekedar mengajak makan.
"Iya, aku juga sudah lapar banget. Semalem belum sempat makan malam," ucap Abas.
Mendengar penuturan Abas, membuat Mely salah tingkah. Ini semua karena perbuatannya. Abas yang melihat ekspresi Mely saat ini langsung mengalihkan pembicaraan mereka.
"Masak apa?" tanya Abas untuk mengalihkan perhatian istrinya.
"Masak apa adanya ya, gak punya stok. Kulkasnya kosong," ucap Mely malu, karena akhir akhir ini memang dia jarang masak, dan hampir tidak pernah belanja. Adapun yang belanja biasanya Abas. Itu pun hanya beberapa makanan instan, makanan cepat saji. Ini semua karena kondisi Mely kemarin yang masih belum normal. Ia seperti mayat hidup tanpa ekspresi. Tapi syukurlah, kondisi Mely sedikit demi sedikit berangsur pulih. Ini karena Abas yang tidak pernah menyerah terhadap dirinya.
"Ya sudah, habis kamu mandi Kita belanja ya. Mau?" tanya Abas.
Mely menganggukkan kepalanya, ada sedikit senyum yang tergambar di sudut bibirnya. Membuat Abas bernapas sedikit lega. Tuhan sepertinya sudah mengembalikan istrinya kembali.
Mereka menikmati makan siang sekaligus satapan bagi keduanya. Meski dadar gulung yang rasanya keasinan, bagi Abas rasanya sangat nikmat ketika istrinya yang membuat.
"Gimana rasanya, sepertinya tadi aku kebanyakan memberi garam?" ucap Mely dengan sedikit malu.
"Enak kok... masakan kamu numero Uno!" canda Abas dengan sedikit tertawa.
Mely seperti tersindir dengan ucapan suaminya. Melihat istrinya yang langsung menundukkan kepala, Abas bangkit dari kursinya. Ia merai dagu Mely, diciumnya dengan lembut bibir istrinya.
"Ini beneran numero Uno, aku gak bohong!" bisik Abas ditelingganya. Membuat pipi Mely merona seketika.
bersambung