PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Mely Jadi Artis


Suasana hati Mely saat ini semakin membaik, wajahnya tidak nampak murung seperti biasanya. Setelah selesai makan siang sekaligus sarapan, mereka berdua berencana pergi berbelanja bersama. Kini Mely tengah bersiap, ia sedang berhias di depan meja riasnya.


Rasanya sudah lama sekali dirinya tidak menghias diri, perlahan ia mengamati mata panda yang sudah menempel pada matanya. Ini semua karena seringnya ia terjaga tiap malam. Mely kesulitan untuk memejamkan kedua matanya, ia memiliki ganguan tidur. Rasa cemas dan resa mengelayuti hatinya setiap malam. Namun itu sudah berlalu, nyatanya semalam ia tertidur pulas sampai menjelang siang.


Pelukan Abas mampu melelapkan tidurnya, kecemasan yang menghampiri dirinya hilang sirna ketika Abas mendekapnya. Mely melihat pantulan dirinya di depan cermin, ia tersenyum tipis ketika mengingat kejadian semalam. Mungkin Mely sedang jatuh cinta. Ia sedang jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan orang yang sama.


"Udah siap Mel?" suara Abas membuyarkan lamunannya.


"Iya..," Mely sedikit terkejut karena Abas muncul secara tiba tiba.


"Habis belanja, mau kemana?" Abas kembali bertanya pada istrinya.


"Terserah," ucap Mely sembari menyisir rambutnya agar terlihat lebih rapi.


"Mau nonton film?" tanya Abas, ia mencoba bertanya, mungkin Mely jenuh di rumah saja.


"Gak, nonton TV di rumah saja," tolak Mely.


"Kenapa, ada banyak film baru loh yang banyak kamu lewatkan akhir akhir ini," Abas berusaha membujuk istrinya. Nampak Mely mengelengkan kepalanya, ia menolak halus ajakan Abas.


"Ya sudah kalau tidak mau, Kita belanja saja kalau begitu." Abas menyerah, ia tidak membujuk istrinya lagi.


Mely sudah siap sekarang, ia sudah terlihat cantik dan fresh. Kaos pendek dan celana jeans yang ia kenakan membuat ia nampak seperti anak muda jaman sekarang. Tidak lupa Mely mengabil tas, warnanya senada dengan kaos yang ia kenakan.


"Ayo!" ucapnya pada Abas yang sedari tadi menanti dirinya.


Abas merangkul pundak istrinya, mereka bersama sama keluar dari Apartmen menuju mobil. Seperti biasa Abas terlebih dahulu membukakkan pintu mobil untuk istrinya, selanjutnya ia masuk mobilnya sendiri dan mulai menyalakan mesin. Sejurus kemudian mobil langsung melaju membelah jalanan Ibu Kota.


"Mau denger musik?" tanya Abas, ia ingin memecah kesunyian yang tercipta saat ini. Karena sedari tadi, istrinya hanya diam tanpa suara.


"Boleh," ucap Mely singkat.


Setelah mendapat respon dari istrinya, Abas pun mulai menyalakan musik. Ia memilih lagu yang pas dengan perasaan saat ini. Pilihannya jatuh pada lagu milik padi, suara fadli mengema syahdu di telinga keduanya. Mely langsung menyungingkan senyuman, ia menjadi teringat jarak usia diantara mereka.


"Aku masih SD loh saat mereka debut," kata Mely tiba tiba.


"Hahaha.." Abas langsung tertawa, ia bukannya menertawakan kekasihnya itu. Ia baru menyadari jarak usia mereka yang terpaut amat jauh.


"Ini band kesukaanku Mel, waktu kuliah dulu," jawab Abas sembari mengakhiri tawanya.


"Ternyata kamu tua banget ya.. Hehehe," ucap Mely, hubungan keduanya sedikit mencair.


"Iyaaa..." jawan Abas dengan manyun, namun hatinya merasa senang. Perlahan Mely mulai kembali seperti kekasihnya yang dulu.


"Beneran loh, waktu mereka launching album perdana aku masih SD. Aku ingat betul karena kak Lisa pengemar fanatik band itu," ucap Mely.


"Iya sayang, udah gak usah diperjelas. Memang usia kita terpaut jauh. Kamu masih sangat muda, sedangkan aku sudah seperti om om. Puas kamu?" ucap Abas dengan nada bercanda.


Mendengar ledekan dari istrinya, Abas langsung mencubit hidung mungil Mely.


"Auch..." teriak Mely.


"Makanya jangan nakal, karena sekarang kamu sudah sadar jarak usia yang terbentang jauh diantara kita. Pangilnya lebih sopan ya," goda Abas.


"Heheheh... udah terbiasa, bakalan susah ngerubahnya," Mely ngeles.


Abas kembali mencubit pujaan hatinya, namun kali ini ia mencubit pipinya. Spontan Mely menjerit keras. Keduanya kini tertawa lepas, ditemani alunan lagu Padi yang mengiringi perjalanan mereka.


Tidak terasa akhirnya mereka sampai di pusat perbelanjaan di tengah kota. Sekarang Mely dan Abas sudah keluar dari mobil, keduanya berjalan menuju pintu masuk. Abas mulai mencuri kesempatan, ia mencoba meraih tangan Mely. Mungkin mulanya sedikit canggung. Namun ternyata Mely menyambut uluran tangan suaminya. Membuat Abas semakin percaya diri, Ia melirik wajah istrinya. Abas memberikan senyum termanisnya untuk Mely. Ia berterima kasih, Mely mau menyambut uluran tangannya.


Abas merasa Mely benar-benar seperti Melynya yang dulu, gadisnya yang riang serta pemalu bila ia mulai mengodanya. Gadis manis yang selalu membuat hatinya berbunga bunga. Abas tidak tahan, ia langsung merapatkan tubuhnya. Abas memeluk dan mengecup kening istrinya di tengah-tengah keramaian.


"Eh...Malu banyak orang," bisik Mely ditelingganya.


"Malu kenapa? Aku kan suamimu!" jawab Abas sambil nyengir.


"Iya, tapi tetep saja. Lepasin dong... Aku malu, banyak yang lihat," bujuk Mely.


Abas tidak perduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Ia seakan tidak punya rasa malu, bermesraan di depan umum. Karena tak kunjung melepas pelukannya, Mely langsung mencubit pinggang Abas. Membuat suaminya berteriak dan tertawa secara bersamaan.


"Hahhah... Ampun ampun... My darling, My lovely, My everything," bukannya kapok Abas malah menghujani wajah istrinya dengan banyak kecupan.


Melihat aksi norak mereka di depan umum, beberapa orang ada yang mengabadikan momen mereka lewat rekaman. Mungkin akan mereka upload di media sosial biar viral nantinya. Ada pula sebagian pengunjung yang mencibir mereka berdua. Namun Abas tidak perduli, baginya dunia hanya milik mereka. Mely yang wajahnya sudah memerah seperti tomat, langsung mencari kaca mata dalam tasnya. Rasanya ia sangat malu menghadapi tatapan mata dari para pengunjung yang menatap dirinya.


Abas mukanya sudah seperti muka tembok, ia tidak perduli tatapan dari para pengunjung. Ia justru tebar pesona dengan menebarkan senyum dimana mana. Abas sedang merasa bahagia saat ini. Sekarang dia sedang jatuh cinta, ia jatuh cinta pada wanita yang sama untuk kedua kalinya. Bunga bunga bermekaran di hatinya.


Mely sudah seperti artis yang menyamar saja, tampilanya saat ini memakai kaca mata hitam lengkap dengan masker yang menutupi separuh wajahnya. Membuat Abas tambah semangat untuk mengodanya.


"Awas ada paparazzi!" goda Abas.


"Gara-gara siapa ini, aduh... Malu banget, lihat tuh, semua orang pada melihat ke arah kita," rajuk Mely.


"Heheheh, mungkin mereka pikir kita lagi syuting sinetron sayang. Udah cuekin saja!" ucap Abas.


"Hmmm... Emang udah gak punya rasa malu ya..." Mely kembali mencubit suaminya.


"Tuh kan.. Kamu mulai mancing mancing lagi!" kata Abas.


"Lah, siapa yang mancing-mancing, kalau mau mancing mending ke laut sekalian biar dapat ikan yang besar. Rugi banget aku mancing kamu!" ucap Mely dengan gengsi. Ia tidak terima dengan tuduhan suaminya. Karena ia merasa Abas lah yang memulai duluan.


Kata kata Mely membuat Abas semakin gemas dengan tingkah polanya. Ia merangkul pundak Mely, berjalan bersama sama melangkah maju meningalakan sebagian orang yang mengosipkan mereka berdua. Mereka pergi begitu saja, benar-benar seperti Artis dadakan.


Bersambung