PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Chapter 123 Suamiku Posesif (4)


"Kau yakin istriku baik-baik saja? Kau tidak lihat bagian itu memerah," uh, tuan muda apa-apaan sih? Itu kan wajar saja jika kita menggenggam bagian tubuh seseorang dengan kuat pasi akan meninggalkan bekas merah.


Dan itulah yang sedang Maira coba jelaskan kepada tuan muda Rendra, "Tuan, itu adalah hal yang wajar jika -"


"Apa? Kau mengatakan itu hal yang wajar, itu bukan hal yang wajar. Seseorang berusaha menyakitinya. Alister, pindah rumah sakit. Rumah sakit ini tidak berguna!"


Dasar gila, memangnya yang dokter disini siapa sih? Bisanya hanya marah-marah saja! Suara hati Maira sungguh menyedihkan.


"Tuan tolong tenangkan lah pikiran anda, bekas merah di rahang nona bukan hal yang menyeramkan. Dari hasil pemeriksaan kita bisa melihatnya bersama," Maira mengambil hasil ronsen, menunjuk gambar rahang, "Disini tidak terdapat retakan seperti yang kita khawatirkan."


"Semuanya aman terkendali, apakah nona merasakan sakit di bagian ini?" tanya Maira pada Embun, jujur saja ini pertama kalinya dia melihat seorang tuan muda bersikap seperti itu.


"Sayang percayalah, aku baik-baik saja... tadi aku makan cemilan yang membuat kulit ku memerah -"


"Apa," Rendra beranjak dari duduknya dan mendekat, dia memegang kedua bahu istrinya, dia diliputi ke khawatiran yang luar bisa, "Cemilan apa yang kau makan? Katakan padaku, aku akan menutup pabrik yang mengeluarkan cemilan itu, aku akan merumahkan mereka semua kau jangan khawatir, tidak ada seorang pun yang bisa menyakitimu."


Alister geleng-geleng, dia malu melihat sikap tuan mudanya yang seperti itu. Khawatir berlebihan, haruskah dia membawanya ke psikiater?


"Jangan, keluarga mereka akan terlantar jika kau melakukannya... sudah ya jangan seperti ini lagi aku mohon sayang... aku akan lebih selektif lagi memilih cemilan, dan aku tidak akan memakannya jika kau tak mengizinkannya."


Embun pun beranjak dari bed lalu memeluk suaminya, "Maaf telah membuatmu se-khawatir ini," terlebih dahulu Embun yang menabrakkan bibirnya di bibir Rendra.


Suasananya mendadak canggung untuk Alister dan Maira dan beberapa tenaga medis yang ada di dalamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah sampai di rumah, "Alister, kumpulkan semua pelayan di ruangan, sekarang."


"Baik tuan."


Tuan muda meminta sekretarisnya untuk mengumpulkan para pelayan di ruang keluarga, ruangan yang cukup besar.


"Kemari."


"Sayang, aku -"


"Jangan membantah, aku suamimu ingat itu baik-baik nyonya Raymond."


Rendra mengeratkan pelukan tangannya di pinggang Embun, ekspresi wajahnya mendadak dingin.


Beberapa menit kemudian Alister kembali dengan membawa para pelayan, Alister berdiri tepat di dekat sofa yang sedang di duduki tuan muda.


Para pelayan itu sudah berbaris rapi di hadapan mereka, begitu pun juga dengan bibir Rita.


"Tuan memanggil kami?"


"Pindahkan semua barang yang ada di kamarku dan pindahkan ke kamar tamu, mulai sekarang kamar tamu akan menjadi kamar utama. Dan begitu juga sebaliknya."


"Baik tuan," seru bibi Rita, "Besok -"


"Sekarang!"


Apa?


Gelisah mereka dari dalam hati, ini kan sudah jam sepuluh malam. Astaga, tuan muda memang suka seenaknya.


"Waktu kalian hanya setengah jam, atau ... "


"Aaaaa iya baiklah, tuan muda jangan khawatir... kami akan memindahkannya sekarang juga," kode bibir Rita kepada yang lain, "Ayo."


Semua sedang di sibukkan dengan pekerjaan malam yang di berikan oleh raja, titahnya tak boleh di bantah.