PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Chapter 121 Rendra Yang Mengerikan


"Kau?" terlihat jelas kerutan tak suka di kening Agra, "Cih! Tak ku sangka kau masih bisa hidup setelah malam penuh kesialan itu."


"Honey, kau mengenalnya?"


Tanya Milka kepada tunangannya itu, dia merangkul lengan kanan Agra.


"Kau masih ingat wanita yang pernah ku ceritakan kepadamu? Dia lah wanita itu," Agra menyeringai.


Sialnya lagi Rendra yang baru saja keluar dari hotel, maksud hati ingin menemani istrinya namun ia malah melihat Embun di hina seperti itu.


Kelopak mata tegas itu perlahan turun dengan memancarkan pandangan tak suka, di tambah lagi saat Agra menyentuh rambut istrinya. Kesalahan fatal baru saja dilakukannya.


"Milka sayang, lihatlah betapa menyedihkannya dia... bagaimana bisa seorang wanita tak memakai makeup seperti dia? Pria mana yang mau menikahi wanita malam sepertinya, haha..."


Bahkan Milka pun ikut tertawa bersamanya.


"Aku bukan wanita malam seperti apa yang kau katakan, aaa!"


Embun mengernyit kesakitan saat tangan Agra mencengkeram kuat rahangnya, suasananya semakin membakar.


Brak!


"Aaaaarrrgggghhh!!"


Pekik Agra kesakitan, dia menyentuh tengkuknya yang baru saja menerima hantaman keras dari tangan Rendra, kedua matanya membelalak saat tahu siapa orang yang telah memukulnya, "Kau!"


Plak!


"Aw!"


Bahkan Rendra pun tak melepaskan Milka, tangannya mendarat sempurna di wajah gadis itu.


Napas Rendra beradu cepat dengan udara di sekitarnya, "Sekali sampah, akan tetap menjadi sampah yang tak berguna," dia menatap tajam kepada Agra, "Kau menyentuhnya dengan tangan kananmu?"


"Mau apa kau, menjauh dariku... menjauh, aaah!" Agra meratap kesakitan saat Rendra mencengkeram kuat jemari tangannya, lalu matahkan ny.


"Sayang hentikan aku mohon, jangan kotori tanganmu dengan melukainya," imbuh Embun seraya menarik tangan Rendra.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka berempat duduk di sofa yang berbeda, Milka menangis sembari mengelus pipinya di tambah lagi erangan Agra yang membuatnya histeris.


Dari luar sepasang kaki yang memakai pantofel hitam dan setelan jas hitam, pun, melangkah masuk dengan penuh wibawa.


"Papa," seru Milka beranjak dari duduknya dan memeluk sang ayah, "Papa lihatlah dia yang telah berani menamparku..." hu, dia menangis.


Bukannya marah atau bahkan membela sang anak, saat papa Milka bersihadap ke arah Rendra, sontak saja di terkejut melihat CEO muda yang sangat terkenal itu.


"Tu- tuan muda," papa Milka segera memberikannya bow hingga berkali-kali dengan gemetar.


"Dia putrimu?" papa Milka mengangguk, membuat mereka kebingungan. Mengapa seorang Presdir hotel MX begitu ketakutan di hadapan Rendra, "Beri aku satu jawaban yang pasti."


"Harta dan tahta, atau ... dia!" lanjut Rendra menunjuk Milka, papa Milka terdiam, "Waktu mu hanya sepuluh detik," imbuh Rendra sembari menatap arlojinya.


"Satu, dua," Rendra terus menghitung sampai di hitungan ke lima, "Enam, tu -"


"Harta!"


Secara gamblang papa Milka memilih harta dan tahta, dia tak peduli dengan nasib anak gadisnya.


Jangan main-main dengan tuan muda Alvarendra Raymond, dia bisa menghancurkan sebuah perusahaan hanya dalam semalam, bahkan dalam hitungan jam.


"Pilihan yang bagus."


Rendra tak menoleh saat pintu ruangan terbuka, Alister pun tiba dan berdiri di ambang pintu.


"Kau tiba tepat waktu, Alister... usir mereka berdua, hapus identitas mereka, dan buang nama gadis itu dari catatan keluarga Bai."


Bahkan bulu kuduk Embun sampai merinding meregang, dia baru sadar semengerikan apa suaminya ini."


Hancur sudah impian Agra untuk membuka jaringan kerja sama dengan CEO dari perusahaan brilian group, sekarang dia sudah bukan siapa-siapa lagi di mata calon mertua yang saat ini juga baru saja membuangnya.