
Suasana ruang tamu kediaman Abas sangat ramai pagi ini, mereka sedang kedatangan tamu. Bela dan Fadir nampak duduk di ruang tamu, keduanya telah asik mengobrol bersama Mely dan Mama.
Disela sela obrolan mereka, Mely tengah asik mencicipi rujak buah yang dibawakan sahabatnya. Sebelum menyuruh Bela datang, Ia sudah memesan untuk dibelikan makanan yang segar-segar pada sahabatnya. Karena tidak ingin mengecewakan ibu hamil yang telah ngidam, Bela berusaha mencarikannya.
Bela harus berusaha cukup keras mencari makanan yang diminta Mely, pagi pagi begini dimana Ia harus mencari rujak.. Namun syukurlah, ketika akan melewati gang depan rumahnya. Bela berpapasan dengan Tukang rujak buah keliling. "Rejekimu ini Mel," ucapnya di dalam hati.
Kini, Mely nampak menikmati rujak yang Ia bawakan. Semua yang dibawa Bela hampir Ia habiskan. Kalau saja Abas tidak muncul untuk menganggunya kembali, mungkin semua akan raib dari wadahnya.
"Makan terus ya sayang, biar tambah gendut seperti badut," Abas selalu punya bahan untuk meledek istrinya.
Mendengar ledekan dari suami, Mely tidak terpengaruh. Malah Ia menyebutkan makanan apa yang Ia ingin makan selanjutnya. Mendengar keinginan anak menantunya, Mama hanya tersenyum. Ia mengelus perut Mely.
"Mau makan apa sayang, bilang sama Oma. Jangan sampai gak diturutin ya!"
Mata Mama melihat ke arah Abas, sedangkan Abas yang mendapatkan tatapan tajam dari Mamanya hanya tersenyum kecut.
"Aku turutin semua Ma, jangan salah! ya kan sayang?"
Abas mencari pembelaan pada Mely. Ia ingin Mely mengingat tragedi sate kemarin. Mely yang merasa tidak bersalah malah cuek, Ia meneruskan memakan rujak buahnya. Seperti tidak terjadi apa apa.
"Ya sudah, kalian cepat berangkat. Semakin siang, semakin macet nantinya!" perintah Mama.
"Iya, Mama,"
Mely bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan rujak buah yang hampir habis ia santap sendirian.
"Doyan banget kamu Mel," sindir Bela.
"Nanti kalau kamu hamil, aku jadi penasaran bakal ngidam apa kami nanti," Mely membalas sindiran Bela dengan senyuman.
"Ayo... Sini!" Abas mengandeng tangan istrinya, dari ruang tamu sampai masuk mobil tangan keduanya masih bertautan.
"Itu tangan uda kena lem ya? sepertinya gak bisa lepas," sindir Bela yang sedari tadi nyir nyir di belakang Mely dan Abas.
"Kelihatan banget si kamu ngirinya Bel," balas Abas. Ia mulai meladeni Bela yang terkenal bawel dan cerewet.
"Heran deh, Fad.. Kamu kok betah pacaran dengan Radio konslet?"
Merasa Abas telah menghinanya, Bela tidak mau kala.
"Sebenarnya aku gak mau ngajak ribut. Tapi karena kak Abas mulai duluan, oke! Loe jual gue beli Kak!"
Mendengar celotehan Bela, semua orang disana langsung tertawa. Fadir yang semula hanya diam, Ia mengelus rambut kekasihnya itu. "Udah ya.. Tombolnya aku matikan, jangan berisik. Ayo masuk!" Fadir langsung memencet hidung Bela. Membuat Bela menjerit seketika.
Sepanjang jalan Mely dan Bela saling menyambung lagu. Keduanya saling bersahut sahutan menyanyikan lagu dengan suara yang pas pas'an. Abas dan Fadir harus merelakan telinga mereka, mendengarkan nyanyian yang seperti bunyi kaleng rombeng.
Tidak terasa waktu berlalu, Mely kini sudah tertidur di pundak suaminya. Sedangkan Bela, seperti memiliki tenaga lebih. Ia masih terjaga dan terlihat menemani biacara Fadir agar tidak mengantuk.
Abas sedari tadi hanya diam, sesekali ia membelai rambul Mely yang terkulai di pundaknya. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Sampai saat mobil melewati polisi tidur dan mengakibatkan sedikit goncangan, Mely langsung terbangun. Begitu pula Abas, Ia juga tersadar dari lamunannya.
"Maaf ya,"
Fadir merasa tidak enak, harusnya Ia lebih hati hati karena sedang membawa ibu hamil.
"Gak papa kok," ucap Mely.
"Sini tidur lagi!" Abas memegang pundak istrinya, Ia meminta Mely bersandar lagi pada pundaknya.
"Udah gak ngantuk lagi, mau lihat pemandangan saja. Serba hijau, adem banget ya tinggal disini!"
Mely memalingkan pandangannya ke jendela di sebelahnya. Ia terkesima dengan lukisan alam. Pemandangan yang terpampang di hadapannya saat ini, seperti lukisan yang tergambar dalam sebuah kalender. Tidak jauh dari sana ada beberapa perkebunan strawberry.
"Mas Fadir, berhenti di sini ya. Aku mau makan strawberry langsung yang habis dipetik," pintanya pada sekertaris suaminya.
Abas pun menganggukkan kepalanya, seperti memberi kode pada sekertarisnya. Fadir mencari tempat yang pas untuk memarkir mobilnya. Karena lokasi yang menanjak, Ia harus ekstra hati hat. Sedangkan Mely sudah tidak sabar, dari jauh Ia sudah bisa melihat buah strawberry yg mulai ranum.
Begitu mobil berhenti, Mely langsung membuka pintu dan langsung menghambur keluar. Abas sampai tidak habis pikir dengan tingak bumil yang satu ini. Abas sendiri saat akan keluar dari mobil, langkahnya terhenti. Ada pangilan masuk di handphonenya. Ia mengangkat telponnya dulu sebelum menutup pintu.
Nampak Abas berbicara serius dengan seseorang di telpon. Meskipun Ia sedang berbicara, matanya masih mengawasi keberadaan istrinya. Mely sedang berjalan di depannya, Ia hendak menyabrang jalan. Mely terlihat buru buru, Ia tidak menghiraukan pangilan Bela.
Rasanya Mely sudah tidak sabar mau memetik dan memakan lansung buah strawberryny. Dari jauh nampak pengendara motor yang melaju dengan sangat kencang. Melihat bahaya yang mengintai istrinya. Abas langsung berlari menuju tempat dimana Mely berada.
Ia sudah tidak perduli dengan orang yang masih berbicara denganya lewat telpon. Saat ini matanya hanya tertuju pada Mely yang dalam situasi berbahaya. Mely masih dengan santainya menyebrang jalan, Ia masih belum tahu bahaya apa yang ada di hadapannya.
"Mely...."
Abas berteriak memanggil nama istrinya. Mely langsung menoleh saat namanya disebut, Ia menatap Abas yang telah berlari ke arahnya. Ada perasaan aneh, ada apa dengan raut wajah suaminya. Hanya kecemasan yang tergambar di wajah suaminya. Pandangan Mely pun beralih ke deru mesin sepeda motor yang mendekat ke arahnya.
Kakinya seperti mati rasa, Ia tidak bisa melangkahkan kedua kakinya. Mely terpaku ditempat. Melihat Mely diam membeku Abas merengkuh tubuh istrinya. Kini Ia sudah bersama Mely, rasanya Abas tidak mungkin mendorong tubuh istrinya yang tengah hamil. Abas hanya mendekap Mely dalam pelukannya.
Sudah tidak ada waktu untuk menghidar dari marabahaya. Jika harus terjadi maka terjadilah. Abas menutup kedua matanya, seakan sudah pasrah dengan takdir yang akan menimpa mereka berdua. Deru mesin semakin lama semakin mendekat...
Bela menjerit histeris, memangil nama temanya, Ia bersimpuh di atas tanah. Kakinya terasa gemetar seakan tidak sanggup menahan tubuhnya. Fadir yang berada di dekat Bela berusaha menahan tubuhnya. Pandangan mata Fadir juga tertuju pada Mely dan Abas yang kini di ambang bahaya.
Bersambung