
Di dalam sebuah kamar rumah sakit, sepasang kekasih sedang memadu kasih. Mereka berdua tidak memperdulikan ada seseorang yang semenjak dari tadi mengetuk ngetuk pintu kamar.
Dugaan Mely salah, bukan Mama mertua yang datang untuk menjenguk. Melainkan sekertaris Abas. Fadir sedang di depan pintu bersama kekasihnya. Bela dan fadir akhirnya memutuskan berpacaran secara resmi. Hubungan mereka berdua semakin dekat pasca Mely dan Abas menikah.
Kini Bela nampak tidak sabar, ia pindah pindah posisi duduknya. "Ngapain aja sih mely ini?" Ia mengerutui Mely yang tidak kunjung membukkan pintu kamar mereka.
Fadir hendak mengajak kekasihnya itu balik hotel saja. Sepertinya ia tahu apa yang dilakuakan bosnya.
"Kita balik aja, sepertinya waktunya kurang pas," Fadir mencoba membujuk Bela untuk segera meninggalkan rumah sakit segera. Ia tidak ingin bosnya akan kesal padanya jika apa yang ia duga tidak salah.
"Memangnya mereka berdua mau ngapain Fad? Abas kan masih terbaring di ranjang, Jangan aneh aneh kamu mikirnya," Bela sepertinya bisa membaca apa yang ada pada kepala pacarnya itu.
Fadir sampai tidak bisa berkata apa apa, ia merasa canggung sendiri.
"Tok tok tok...."
"Tok tok tok...."
Bela masih ngeyel, ia merasa Mely dan Abas tidak akan melakukan seperti yang Fadir bayangkan. Melihat kekasihnya masih ngeyel mengetuk kamar Abas. Fadir langsung membopong Bela menjauh.
"Apa apa'an ini, banyak orang. Lepasin!" Bela malu, karena banyak orang bule yang meliriknya. Akhirnya Fadir menurunkan Bela, ia mengandeng Bela menuju Cafeteria yang tidak jauh dari sana.
Mereka saling berbicara, bertukar cerita dan Bela kembali membahas. Apa yang sahabatnya lakukan diruang rawat inap sampai mereka menguncinya dari dalam.
Fadir tidak mau menjawab, ia mengalihkan pandangan matanya kesana kemari. Ia hendak mengalihkan perhatian Bela.
Melihat Fadir tidak menangapi ocehannya, Bela langsung diam. Ia mulai merajuk pada kekasihnya. Bela ganti posisi duduk, semula ia berhadapan dengan Fadir. Kini ia pindah duduk tepat disamping Fadir.
"Menurut kamu Mely sama Abas Ngapain say?" Bela ingin mendengar pendapat dari Fadir. Masak sih Bos kekasihnya seperti itu. Pikirnya didalam hati.
"Kamu itu ya, Ingin tahu saja. Mereka sudah lama menjadi pasangan suami istri. Mereka bebas melakukan apa saja," tutur Fadir. sembari mengusap rambut halus kekasihnya.
"Hahahah.... Gila ya, nekat banget itu mereka kalau sampai bener bener terjadi," Bela tertawa sejadi jadinya.
Merasa canggung dan malu Fadir hanya garuk garuk kepalanya, yang jelas tidak gatal sama sekali.
Waktu terus berjalan, Bela mulai bosan. "Ayo Sayang, Kita balik kesana!" Bela masih ingin menemui Mely serta Abas. Fadir yang diajak Bela, melirik jam tangannya. Ia rasa dirinya dan Bela sudah aman jika kesana saat ini. Ia pun menganggukkan kepala. Langsung berdiri mengandeng tanggan kekasihnya.
" Assalamualaikum ..." Bela mulai melangkahkan kakinya. Ia tersenyum sumringah ketika melihat wajah temannya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berjumpa. Rasa kangen membuat ia lari memeluk Mely sang sahabat karibnya.
"Waalaikumsalam,... " Abas menjawab salam dari Bela yang langsung memeluk istrinya. Abas melirik ke arah Fadir. Mata mereka seakan saling berbicara.
"Kamu kan yang tadi mencoba mengusik", seolah olah itulah yang dikatakan Abas lewat tatapan tajamnya ke Fadir. Tidak ingin jadi bulan bulanan si Bos. Fadir langsung beralih mendekati Bela. Itu tempat paling aman untuk saat ini. Namun, tiba tiba bela memecah suasana. Ia kembali memancing kejadian yang telah lalu.
"Mel, Aku tuh sebenarnya sudah dari tadi kesini. Tapi kok pintunya dikunci dari dalam. Emang lagi ngapain?" pertanyaan Bela yang mendadak itu membuat Mely dan Abas saling memandang.
Keduanya tidak punya jawaban untuk Bela. "Ah Bela rese luh", gerutunya dalam hati. Itu adalah rutukan hati Mely dan Abas. Fadir hanya bisa diam menjadi penonton bayaran.
"Eh, kamu habis Mandi ya. Habis keramas juga sepertinya!" Bela semakin ingin menyelidiki penyebab pintu dikunci dari dalam. Sebal dan malu dengan ulah sahabatnya, Mely langsung mencubit pinggang Bela.
Mereka semua tertawa serempak didalam ruangan itu, mereka menertawakan kecanggungan Mely serta Abas. Mely terlihat sangat bahagia saat ini, rasanya hari yang kelam kini berganti dengan hari yang cerah penuh dengan rasa yang bahagia.
Fadir kemudian bertanya pada keduanya, "Kalian kapan pulang?" mendengar pertanyaan tersebut Mely pun menjawab.
"Kata dokternya nunggu pemeriksaan terakhir. Kalo hasilnya semua bagus. mungkin Kurang dari seminggu kita bisa pulang.
Bela pun bersyukur, akhirnya Mely sang sahabat bisa pulang ke tanah Air, setelah sebulan lebih di negeri orang. Untuk merawat suaminya yang telah sakit.
Mely sendiri sudah tidak bekerja pasca insiden kecelakaan yang menimpah Abas. Ia memilih meninggalkan semuanya demi mendampingi Abas yang kala itu sakit cukup parah. Kini Abas berangsur pulih, Bela hendak menanyakan apakah Mely ingin bekerja kembali? kantornya selalu terbuka untuk sahabatnya. Kantor itu merupakan impian keduanya.
Namun Mely sudah membulatkan tekadnya. Ia hanya akan fokus pada suaminya. Baginya impiannya sudah tidak jadi prioritasnnya. Kehilangan Abas beberapa waktu lalu, Membuat Mely sadar, Impiannya hanya satu. Hidup bahagianya bersama suaminya. Ia akan memberikan semua waktunya untuk Abas. Ia tidak akan bekerja lagi, Itu sudah keputusan final.
Mengetahui keputusan Mely, Bela mendukung sahabatnya itu. Ia hanya ingin sahabatnya bahagia. Sedangkan Abas, ia merasa senang bukan main. Rasanya ia ingin Fadir digantikan mely saja. Ia ingin sekertaris Wanita. Padahal selama ini ia selalu memecat semua sekertaris Wanita yang bekerja dengannya.
Mendengar candaan Abas, Fadir dan Mely sama sama buang muka. Ada ada saja si abas ini pikir mereka berdua. Setelah beberapa lama, keduanya ingin pamit. Bela akan balik ke indonesia besok pagi pagi. Sedangkan Fadir masih tetap tinggal. Masih ada hal yang ingin ia bicarakan pada atasannya.
Setelah mengantar Bela kembali ke hotel. Fadir kembali lagi menuju rumah sakit. Ia hendak mengatakan sesuatu empat mata dengan Abas. Agar Mely tidak curiga, Abas meminta Mely membelika sesuatu untuknya di luar.
Sekarang di kamar hanya ada Abas dan Fadir, keduanya terlihat terlibat pembicaraan yang serius. Fadir memberikan beberapa lembar foto dan beberapa skrip pembicaraan lewat telpon. Itu adalah sebagian bukti dari pelaku kecelakaan yang menimpah Abas. Selama ini Fadir mencari dan mengumpulkan semua bukti untuk mencari dan menjerat pelaku kejahatan tersebut.
Fadir dan Abas belum tahu, Mama lebih cepat satu langkah didepan mereka. Karena saat ini, Penjahat tersebut sudah ada dalam gengamannya.
Bersambung