PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Bonus Chapter IV


Miko menatap aneh pada sang Kakak, karena penasaran ia pun mengikuti Mika. Diketuknya pintu kamar Mika yang terkunci dari dalam.


Tok tok tok


Tidak ada sahutan, Miko pun kembali mengetuk pintu kamar kakaknya lagi.


Tok Tok Tok


Di balik pintu Mika merutuki sikap kepo sang adik. Bila tidak mengingat Nathan ada di dalam kamar, sudah pasti ia akan keluar dan menghajar adiknya tersebut.


"Sebentar! Aku ambilin! teriak Mika dari dalam. Suaranya yang nyaring seperti toa masjid membuat Nathan menoleh ke arahnya.


"Ada apa sih, bukak Kak!" ganti Miko yang berteriak.


Rupanya Miko penasaran setengah mati, pasti ada yang kakaknya sembunyikan dari dalam kamar. Jiwa detective muda Miko mulai mencuat.


Duh, kepo banget sih Miko.


"Ada apa kok ribut-ribut?" Nathan bangkit dan mendekati Mika.


"Ada Miko! Sepertinya dia belum tahu kita udah nikah. Takut dia salah paham. Kamu sembunyi dulu." ucap Mika dengan memasang wajah paniknya.


"Mengapa aku harus sembunyi? Aneh kamu ini."


Nathan menyentuh pundak Mika, kemudian mengesernya sekit.


Kriettt


Nathan membuka pintu kamar. Begitu pintu terbuka perlahan kepala Miko menyembul dari luar.


Miko terperangah seper sekian detik, kemudian ketika alam bawah sadarnya sudah kembali.


BUKKK


Bogem mentah ke dua untuk wajah Nathan yang tampan.


"Mikoooo!" terika Mika mendorong tubuh adik laki-lakinya. Bagaimana bisa Miko menghajar suaminya?


"Ngapain kamu di kamar kakaku? Pria brengkes!" Miko yang emosi melihat ada pria di dalam kamar kakaknya, kembali akan melayangkan bogem mentahnya.


Sayang, sebuah tangan menghalangi aksinya. Itu adalah Abas, Ayahnya.


"Hentikan!"


"Tapi Yah... !" Miko tak bisa melepas Nathan begitu saja.


Mika yang melihat darah segar di ujung bibir suaminya mendadak kesal. Ia memukul dada adiknya. Bisa-bisanya Miko menghajar suaminya. Semalam Ayahnya, saat ini adiknya.


"Kak!" terika Miko yang menghentikan pukulan sang Kakak.


"Jahat sekali kamu sama suami Kakak!" ucap Mika dengan masih emosional.


"Suami?"


Miko menatap orang-orang di sekitarnya dengan bergantian. Apa ia tidak salah dengar? Bagaimana bisa pulang-pulang kakaknya berstatus istri orang?


Abas pun memegang pundak putranya. Ia menganggukkan kepala pelan, seakan memeberi jawaban Miko tentang siapa Nathan yang ia hajar barusan.


Dengan perasaan tak terima, Miko mendengus kesal.


"Minta maaf pada Nathan!" titah Mika pada sang adik.


Dengan berat hati, kata maaf keluar dari bibir Miko. Setelah mengucapkan kata maaf ia melengos masuk dalam kamarnya.


Di ujung lorong, Mely menatap keributan pagi hari di rumahnya dengan Nanar.


Karena kondisi sudah sedikit tenang, Mely pun kembali ke dapur. Melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda.


Abas sendiri langsung turun ke bawah, hati ini ia harus berangkat pagi-pagi karena ada meeting mendesak.


Setelah hanya ada mereka berdua, Mika langsung menarik tangan suaminya masuk dalam kamar.


"Duduklah, biar aku obati!"


Nathan menurut saja apa kata istrinya, sekilas ia tersenyum tipis. Dua orang sudah yang berhasil memukul wajahnya. Ia tidak mengira, siapa lagi berikutnya?


Mika keluar kamar mengambil kotak P3K. Begitu mendapat apa yang ia butuhkan, ia kembali masuk kamar. Ditatapnya Nathan yang diam terpaku.


"Apa sakit?" tanya Mika sembari mengoles salep pada bibir Nathan.


"Hanya luka kecil," Nathan tersenyum simpul.


"Maaf ya!"


Mika pun memeluk erat suaminya, ia masih tak rela semua orang menyakiti Nathan. Ia tahu mereka salah, tapi jika semua orang menghajar Nathan. Rasanya hatinya ikut sakit. Seolah ia juga merasakan sakit itu.


"Sudah, mandi sana. Bau asem!" seru Nathan sembari mengecup pucuk rambut Mika.


"Hehehe, iya. Aku mandi dulu."


Saat Mika mengambil handuk untuk mandi, Nathan juga ikut di belakangnya.


"Hey, apa yang kamu lakukan?" Mika terkejut saat akan menutup pintu ada Nathan di depannya.


"Aku juga mau mandi!"


Tidak peduli dengan reaksi Mika, Nathan langsung merangsek ke dalam kamar yang sama.


"Jangan gila deh."


"Kamu yang membuat aku gila!"


Cup, Nathan mencium bibir merah Mika yang polos tanpa lisptik.


Semakin lama semakin dalam, tiba-tiba ada hawa panas yang menjalar di dalam tubuh keduanya.


Sambil tak melepas tautan bibir mereka, Nathan menekan tombol shower.


Gemricik air dari shower jatuh membasahi keduanya. Mendinginkan rasa panas yang mereka rasakan saat ini.


Karena hampir kehabisan napas, Mika mencubit pinggang suaminya.


Barulah Nathan melepaskan bibirnya.


"Astaga, aku sampai gak bisa napas," keluh Mika.


"Sorry, you are so hot!"


"Aku bukan kompor!" Mika memukul dada bidang itu sembari terkekeh.


Nathan meraih tangan Mika yang terus dibenturkan di dadanya. Menatap jauh ke dalam mata Mika.


Dan sesuatu yang akan terjadi terjadilah. Di dalam kamar mandi, dibawah guyuran air yang mengalir. Nathan dan Mika mengarungi samudra cinta mereka.


Pagi yang dingin berubah panas, sepanas cinta mereka berdua yang mengelora.


Tok tok tok


Kembali lagi Mely mengetuk pintu kamar putrinya. Ia tak tahu ketukan tangannya menganggu dua sejoli yang sedang bermesraan di dalam.


"Mika, sarapan dulu, Sayang?"


Mika yang tengah asik, langsung mendorong tubuh suaminya.


"Sebentar,"


Mika langsung keluar kamar mandi dengan handuk kimono yang ia kenakan.


Cekrek


Mika membuka pintu kamarnya.


"Iya Ma,"


Mely menatap putrinya dari atas sampai bawah. Ia mengamati Mika dengan pandangan penuh selidik.


"Cepat turun, sarapan sudah siap!"


Begitu mengatakan itu, Mely langsung turun ke bawah. Dari wajahnya terlihat ia merasa jengkel. Rupanya ia masih tidak rela Mika bersama Nathan.


Hatinya menjadi plin-plan bila mengingat Bella dan Dirly. Ah, Mely galau karena gagalnya perjodohan putra-putri mereka.


Di tempat yang berbeda, di dalam kamar mandi. Nathan sedang menunggu Mika kembali.


"Honey!" teriak Nathan dari balik pintu.


"Iya." Mika berjalan sedikit cepat, setelah mengunci kamar ia langsung menyusul suaminya.


Rupanya mereka melanjutkan apa yang sempat tertunda. Ah, dasar anak muda.


Bersambung


Baca Bonus Chapter selanjutnya yaaa. Sehat selalu untuk para pembaca sekalian.