PERNIKAHAN HANGAT

PERNIKAHAN HANGAT
Oase Di Gurun Pasir


Ngurah Rai Internasional Airport, Fadir sudah menginjakkan kedua kakinya di sebuah bandara yang berada di Bali. Meskipun besok adalah hari pernikahannya, ia menyempatkan ke Bali. Fadir ingin mencari fakta yang sesungguhnya. Ia ingin mengumpulkan bukti- bukti, apa benar Abas memiliki seorang anak di kota ini.


Sebelum berangkat, Fadir sudah cerita semua kepada calon istrinya. Semua ia ceritakan tanpa ada yang ia tutupi, mendengar penuturan dari Fadir membuat Bela shock berat. Ia sependapat dengan calon suaminya, untuk sementara menutupinya dari Mely. Sesunguhnya hati Bela ikut hancur ketika membayangkan apa yang menimpa sahabatnya kini.


Oleh karena itu ia begitu mendukung Fadir segera ke Bali untuk memeriksa kebenarannya. Walau pun pernikahan mereka ada di depan mata. Fadir berangkat ke Bali dengan penerbangan paling awal. Sehingga pagi-pagi sekali ia sudah melangkahkan kakinya di pulau dewata tersebut.


Pagi ini setelah selesai check in hotel, ia langsung menemui detective yang sudah ia hubungi sejak semalam. Pagi ini ia berencana menemui detective di sebuah kafe di tengah kota. Mobilnya kini melaju ke tempat yang telah mereka sepakati. Di sepanjang jalan entah berapa bule yang sudah ia temui.


Fadir kini berjalan kaki menuju kafe yang sudah disepakati bersama, mobil yang ia bawa sudah di parkir tidak jauh dari lokasi mereka bertemu. Begitu ia masuk, seseorang melambaikan tangannya dari dalam. Fadir langsung menuju ke tempat meja yang sudah berpenghuni itu.


"Rahajeng semeng," sapa detective tersebut pada Fadir. Ia adalah detective swasta orang Bali asli.


"Rahajeng semeng," sapa Fadir balik.


Setelah saling menyapa, keduanya berjabat tangan. Fadir sudah cukup lama mengenal pria yang duduk di hadapannya saat ini. Karena ia sering membantu Abas menangani beberapa kasus bisnisnya.


"Sudah lama tidak bertemu," ucap pria yang bernama Ageng tersebut.


"Iya sepertinya sudah lama sekali, berarti kami dalam kondisi aman tanpa ada bahaya yang mengancam," tukas Fadir, sorot matanya kali ini begitu tajam. Ia seperti menyimpan marah dalam wajahnya.


"Tenang, aku sudah berhasil mengumpulkan seluruh bukti. Aku meminta bantuan semua rekan-rekan ku dalam semalam. Kali ini kamu dapat pulang dengan lega. Ini akan membuat pak Abas lepas dari belengu perempuan yang bernama Evi," kata Ageng. Seorang detective kepercayaan Abas yang tinggal di Bali.


Agung menyerahkan amplop besar berwarna coklat, ia meletakkan amplop besar itu tepat di atas meja di depan Fadir. Dengan cepat Fadir langsung membuka amplop tersebut. Ia ingin segera tahu isi dalam amplop itu, Fadir ingin mengetahui kenyataan dibalik ini semua.


Alangkah marahnya Fadir, ia langsung mengepalkan jari-jarinya. Rasanya ia ingin marah kepada mantan kekasih Abas. Bagaimana tidak, anak yang dimaksud Abas tidak pernah ada. Dalam berkas yang ada di tangannya, Evi hanya memiliki satu putra. Itu pun hasil perkawinan dengan orang lain. Usianya pun sekitar 5 tahunan. Mana mungkin itu anak Abas, jika benar ia telah mengandung saat acara pernikahan yang telah batal. Maka usia anak tersebut harusnya sudah 12 tahun.


Evi benar-benar ingin menjebak bos sekaligus sahabatnya. Kalau tidak ingat besok akan segera menikah, sudah pasti Fadir akan mengejar mantan kekasih Abas. Sampai ke lubang semut pun akan ia kejar.


Setelah dapat menenangkan pikiranya yang penuh amarah, Fadir kini duduk dengan tenang kembali. Ia merasa berterima kasih pada Ageng, berkat bantuan detective tersebut masalah Abas kini menemui titik terang.


"Matur suksma," ucap Fadir seraya menjabat tangan Ageng. Ia berniat segera balik menuju ibu kota, karena Bela calon istrinya sudah pasti menunggu dirinya.


Ageng menyambut uluran tangan Fadir dan keduanya kini berpisah, Fadir terlebih dahulu meninggalkan kafe tersebut. Disusul Ageng yang berjalan di belakangnya.


Fadir langsung mengendarai mobilnya menuju hotel, ia langsung tancap gas. Sudah beberapa kali Abas dan Bela menghubungi dirinya. Setelah sampai kamar hotel, ia langsung menghubungi kekasihnya terlebih dahulu. Meski dalam misi pekerjaan, pacar tetap nomer satu. Apa lagi sebentar lagi ia akan melegalkan hubungannya dengan Bela. Fadir merasa lega, hari bahagianya akan tiba. Seperti tanpa beban, langkah kakinya serasa ringan.


Fadir merasa lega karena akhirnya kebusukan Evi kini telah terungkap. Maka ia bisa menikah dengan perasaan tanpa ada yang menganjal di dalam benakknya.


"Hallo, bagaimana kak?" tanya Bela langsung pada pokok masalah.


"Kamu tenang sayang, anak yang di maksud Evi tidak pernah ada. Ia memang memiliki seorang putra, namun itu anak dari suaminya. Bukan dari Abas," ucap Fadir menerangkan kepada Bela.


"Syukurlah kalau begitu, semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan nasib Mely beserta calon bayinya. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana bila apa yang dikatakan Evi benar adanya," kata Bela, ia memikirkan hal terburuk yang mungkin bisa terjadi.


"Iya, yang penting sekarang semua sudah jelas. Ya sudah Aku mau menelepon Abas terlebih dahulu,"


"Eh bentar kak, kakak pulang kapan?" tanya Bela, ia cemas karena besok sudah hari pernikahan dirinya dan Fadir. Akan tetapi hari ini Fadir sang mempelai pria masih ada di pulau dewata.


"Hahaha... sabar sayang, penerbangan ku nanti siang. Sore nanti aku segera meluncur ke hatimu," gombal Fadir.


"Haduh Kakak, ditanya malah mengeluarkan jurus andalan. Iya sudah, langsung hubungi kak Abas. Aku tutup telponnya ya. Miss u,"


Sambungan telpon keduanya kini telah berakhir. Saat ini ia mencoba menghubungi Abas. Lama sekali Abas tidak menjawab telponnya. Entah Abas saat ini sedang apa.


Di sebuah apartmen milik Abas, Mely sedang menata beberapa perlengkapan bayi. Ia memasukkan semuanya kedalam sebuah tas besar. Bila sewaktu waktu melahirkan, maka tingal membawanya. Disela-sela menyiapkan keperluan saat melahirkan, ia mendengar dering ponsel milik Abas. Mely pun mencari sumber suara, didapatinya ponsel yang berdering berada tepat di bawah bantal Abas.


Ia langsung mengangkat telpon masuk tersebut, karena di layar terpapar nama sekertaris suaminya. Maka tidak masalah baginya untuk mengangkat pangilan tersebut, siapa tahu pangilan penting, pikirnya di dalam hati.


"Haloo... Iya kak Fadir, Kak Abas masih tidur,"


"Oh, ya sudah nanti saja aku telpon balik. Maaf menganggu," ucap Fadir.


"Baik kak, nanti kalau sudah bangun akan ku sampaikan kalau kak Fadir menelepon,"


Mely menaruh telpon gengam milik Abas di atas meja. Ia berjalan menuju ranjang di mana Abas sudah berbaring. Mely menatap wajah suaminya cukup lama. Saat ia akan pergi menjauhi ranjang, tangan Abas memegang baju tidur yang ia kenakan.


Ternyata Abas sudah bangun, Mely tersenyum ia malu ketahuan mencuri pandang cukup lama. Abas yang masih tampak kacau dengan masalah di kepalanya hanya tersenyum simpul, senyum yang ia paksa. Karena hatinya merasa bersalah pada istrinya.


"Tadi kak Fadir telepon," kata Mely.


Mendengar kata Fadir yang di ucapkan Mely istrinya, Abas langsung bangkit. Ia menyambar telpon gengam miliknya.


"Sebentar ya sayang, aku mau telpon Fadir dulu. Ada madalah serius yang harus di bicarakan,"


"Masalah apa?" Mely bertanya-tanya, masalah apa gerangan yang membuat wajah Abas suaminya mendadak menjadi serius seketika.


"Masalah bisnis," Abas berbohong pada istrinya, ia rasa tidak mungkin menceritakan masalah yang sebenarnya. Bila Mely sampai tahu bisa-bisa pecah perang dunia ke tiga.


Abas berjalan menuju balkon, ia mengintip ke belakang. Abas ingin memeriksa posisi Mely saat ini. Ia takut Mely mendengar apa yang nanti ia bicarakan berdua bersama Fadir. Melihat sekeliling yang ia rasa aman, Abas langsung menelepon Fadir sekertarisnya.


"Hallo, Fadir bagaimana hasilnya?" tanya Abas dengan perasaan harap-harap cemas. Bagaimana ia tidak cemas, ini menyangkut Masa depan rumah tangga dirinya dengan Mely.


"Evi bohong! Ia tidak memiliki anak selain anak laki laki yang berusia sekitar 5 tahun."


Mendengar jawaban singkat dari sekertarisnya, Abas seperti menemukan sebuah oase setelah berjalan mengelilingi padang pasir yang terik seharian. Ia seperti mendapatkan angin segar. Akhirnya masalahnya dapat teratasi. Ia sangat bahagia, karena sedari kemarin ia terus merasa bersalah pada sang istri.


Sekarang rasanya beban yang menancap di atas pundaknya telah hilang, langkahnya terasa sangat ringan. Setelah cukup lama bertelepon dengan Fadir, ia kini mencari sang istri. Ia ingin menemui bidadari yang tengah mengandung buah cinta mereka.


"Sayang.... Mely," panggilnya pada Mely yang tak kunjung mendapat sahutan.


"Mely sayang," panggil Abas sekali lagi.


Abas membuka pintu kamar sebelah, kamar yang ia siapkan untuk calon buah hati mereka.


"Sayang..."


Alangkah terkejutnya hati Abas, ia melihat Mely telah meringkuk kesakitan di pinggir ranjang bayi mereka.


Bersambung