
SELAMAT MENIKMATI MEMBACANYA GAES......
Setelah memukul kepalaku sampai aku pingsan lelaki sialan itu pergi meninggalkanku tergeletak di ruangan itu.
Saat sadar diriku sudah berada di klinik milik Ririn, wanita itu juga sedang cemas menunggu kesadaranku.
"Rin,dimana aku?". tanyaku sambil memegang kepalaku yang masih pusing.
"Mas, syukurlah kamu sadar,kamu ada di ruanganku sebaiknya kamu istirahat dulu pembengkakan pada kepalamu cukup parah". ucapnya sembari membawa semangkuk bubur.
"Apa Renata tau aku lagi dirawat?".
tanyaku melihat sekelilingku.
Ririn hanya menggeleng kepalanya sambil menyuap bubur itu padaku.
"Kamu kok bisa begini sih mas?,siapa yang menghajar kamu begini?".tanya Ririn sambil duduk di sebelahku.
Aku hanya diam tak merespon ucapan wanita itu, aku juga tak berniat memberitahu masalah ini padanya.
"Gak ada kok cuma salah paham aja." jawabku mengalihkan pandangannya.
"Oh ya sudah,kamu istirahat dulu tunggu aku mau ambil selimut dan bantal dulu di bawah." ujarnya sambil mencium keningku.
Aku mengangguk sebagai tanda setuju.
Setelah beberapa menit dia kembali dengan membawa bantal dan selimut yang dia letakkan di sofa santai tepat sebelah ranjangku.
"Kamu ngapain bawa itu ke sini?".tanyaku sambil melirik bantal dan selimut yang baru ia letakkan itu.
"Kenapa nanya sih mas tentu saja aku akan menemanimu sampai kamu sembuh jadi jangan khawatir, ini tugasku sebagai doktermu, jadi sekarang tidurlah."jawabnya sambil berbaring di sofa itu.
Sungguh aneh bukannya yang datang menemaniku saat ini adalah Renata tapi malah Ririn yang bersiaga.
Aku juga tak boleh terlalu egois saat ini karena Renata juga sedang mengandung kira kira masuk usia tujuh bulan.
"Rin kalau kamu mau kamu bisa tidur di sebelahku kok."ucapku sambil menyediakan tempat untuknya.
"Gak perlu mas,kamu tidur aja lagian kita juga belum halal nanti apa kata orang coba."jawabnya sambil memainkan ponsel di tangannya itu.
Aku berdiri dari kasurku berjalan menuju pintu ruangan itu lalu menguncinya.
Aku tak mempedulikan kata-katanya dan langsung saja aku menggendong tubuhnya dan membawa tubuh itu ke ranjang.
"Jangan macem macem deh mas, kamu mau ngapain?."ucapnya sembari menggenggam erat lenganku.
"Aku cuma mau kamu tidur di sampingku itu sudah cukup bagiku."jawabku singkat.
Malam itu kami berdua tidur dengan sangat nyenyak, aku terbangun dari tidurnya dan melihat Ririn menyembunyikan mukanya di bawah dada bidangku.dia bahkan memeluk tubuhku.
Andaikan dia yang menjadi istriku percayalah akanku nikmati tubuhnya malam ini.
Tapi aku masih bisa menahan diri walau ini menyiksa bagiku.
Aku mencintaimu mas...
Kata kata itu keluar dari mulut Ririn yang masih tertidur pulas, mungkin saja wanita itu sedang mengigau.
Dan aku menjawab.
Aku lebih mencintaimu lebih dari apapun, tetaplah berada di sampingku,Ririn.
Aku langsung memeluk tubuh wanita itu dan melanjutkan tidurku.
Malam ini adalah malam yang sangat indah bagiku bisa tidur satu ranjang dengan Ririn.
Pagi harinya....
Tok...tok...tok...
"Dokter, apa anda ada di dalam".ucap seorang lelaki sambil mengetuk pintu ruangan kami.
Dengan sigapnya wanita itu bangun dan mencuci mukanya dan langsung bersiap siap.
"Mas, lanjutkan tidurnya aku mau cek di luar dulu".ujarnya memberikanku kunci cadangan kamar ini.
"Iya kamu hati hati ya". jawabku sambil melanjutkan tidurku.
Aku benar benar bahagia saat ini, hatiku bercampur aduk dengan kebahagiaan yang begitu indah.
BERSAMBUNG.......