Pendekar Pelukis Abadi

Pendekar Pelukis Abadi
75. Tangisan Jiu Rui


Huang Xinxin dan Huang Shangyue dengan mudah langsung tiba di Istana, tentu saja setelah melihat identitas mereka, langsung saja mereka dibiarkan masuk ke dalam Istana Timur.


Ketika tiba, mereka bertemu dengan pelayan Putra Mahkota dan Kasim Tua yang melayani Kaisar, mereka berdiri di depan pintu sembari membawa makanan untuk Jiu Rui.


"Kamu kembalilah dulu, aku mungkin akan lama disini." Ucap Huang Xinxin.


"Apakah kamu berencana untuk menginap disini ? Ini tidak akan baik untuk reputasimu. " Tanya Huang Shangyue.


Huang Xinxin tidak langsung menjawab dan tersenyum tipis pada Huang Shangyue lalu mengelus rambut gadis muda itu.


"Kembalilah, aku tidak akan menginap disini hanya saja mungkin agak lama. Aku takut bahwa kamu akan sakit karena menunggu disini. " Jawab Huang Xinxin.


Huang Shangyue tidak menjawab dan Huang Xinxin berjalan masuk , ketika dia masuk ke pekarangan, semua orang langsung menoleh padanya.


"Nona Huang, anda akhirnya datang. Putra Mahkota memiliki hubungan yang baik dengan anda. Lihat apakah bisa membujuk Putra Mahkota untuk makan atau tidak, sebelumnya dia kembali ke ruangannya dan tidak ingin makan sejak tadi pagi. " Ucap Kasim Tua.


"Aku akan mencoba untuk membujuknya, Tuan Kasim bisa kembali dan beristirahat. Bagaimanapun ini sudah larut, aku akan membujuknya dan menghiburnya. " Balas Huang Xinxin.


Kasim Tua itu menganggukkan kepalanya dan Huang Xinxin berjalan masuk, ketika dia membuka pintu, sebuah lemparan barang di arahkan padanya.


"Bukankah sudah aku bilang tidak ada yang boleh masuk ?!" Teriak Jiu Rui dengan suara yang serak.


"Apakah aku juga tidak boleh masuk ? Kamu sebagai generasi yang lebih muda, benar benar tidak sopan. " Ucap Huang Xinxin.


"Xinxin ? Kenapa kamu disini ? Aku pasti telah berhalusinasi. " Balas Jiu Rui dengan bingung.


Pada saat ini mereka berada di tengah kegelapan sampai sampai tidak bisa melihat satu sama lain, Huang Xinxin tidak langsung menjawab dan berjalan menuju lilin lalu menghidupkan korek.


Dia menghidupkan satu persatu lilin yang ada disana sehingga menjadi terang kembali. Terlihat wajah Jiu Rui yang tampak memerah seperti baru saja menangis.


"Aku tidak datang, kamu benar benar sedang berhalusinasi. " Ucap Huang Xinxin.


Jiu Rui berdiri dan memandangnya dengan tatapan rumit lalu berlari untuk memeluknya dengan sangat erat , sampai sampai Huang Xinxin tidak bisa bernafas dengan baik.


Jiu Rui menangis tanpa henti, seolah olah dia adalah bayi yang baru saja lahir.


"Menangislah jika kamu ingin, aku akan menemanimu disini. " Gumam Huang Xinxin dan mengelus kepala Jiu Rui.


"Aku mendengar semuanya bahwa kamu dan aku...... sebenarnya adalah keluarga. Aku berpikir, bagaimana takdir benar benar mempermainkan seseorang ? " Tanya Jiu Rui dengan sedih.


"Aku benar benar merasa putus asa, aku benar benar merasa kehilangan. " Lanjut Jiu Rui.


"Aku masih akan menjadi temanmu, selamanya akan menjadi temanmu. Apakah kamu bahagia sekarang ?" Tanya Huang Xinxin.


Sementara Huang Xinxin sendiri tidak akan terlalu terdampak, karena dia sendiri bukan Huang Xinxin itu sendiri. Dia hanya orang luar yang tidak memiliki keterikatan emosional yang dalam.


Tapi, Jiu Rui berbeda, Jiu Rui membuktikan bahwa apa yang ditulis dibuku tentang dirinya telah salah. Bahwa dia kejam dan berhati dingin tapi pada akhirnya, hatinya terlalu lembut sampai sampai mudah untuk mengikuti kata orang lain.


Buruk untuk mengatakannya, tapi sebenarnya menurut pendapatnya, orang seperti Jiu Rui tidak akan mampu menjadi seorang Kaisar. Dia tidak berniat jahat hanya saja Jiu Rui terlalu mudah dipengaruhi. Kecuali jika dia berubah di masa depan untuk menjadi orang yang lebih memiliki hati yang keras.


Orang orang mengatakan bahwa seseorang yang terlalu baik, tidak akan bisa menjadi Kaisar sementara orang yang terlalu berhati dingin juga tidak akan bisa menjadi Kaisar.


Menjadi Kaisar berarti memiliki sisi baik hati dan sisi hati dingin, sulit untuk mengemban tugas berat itu. Di atas tahkta itu, orang akan merasakan kesepian yang tanpa batas dan juga merasakan ketakutan bahkan di dalam tidurnya.


Takut bahwa suatu malam, akan ada yang datang untuk membunuhnya, baik itu adalah orang terdekatnya bahkan putranya sendiri bukanlah tidak mungkin.


"Seandainya bisa memilih maka aku ingin menjadi seorang pria biasa tanpa gelar Kaisar, aku tidak ingin menjadi Kaisar. " Ucap Jiu Rui dengan lemah.


"Apakah kamu sudah mempertimbangkannya dengan hati hati ? Ketika kamu melepaskan semua ini maka seluruh kehidupan mewah ini akan terlepas dari genggamanmu. " Balas Huang Xinxin.


"Apa gunanya ? Aku tidak merasa bahagia, semua orang mengekangku. Aku ingin hidup seperti burung yang bebas , terbang antar kerajaan tanpa ada yang menghalangi. " Ucap Jiu Rui dengan helaan nafas.


Tangisannya sudah berhenti hanya saja masih terdengar kesedihan yang mendalam dari suaranya. Hal ini menunjukkan bahwa dia masih merasa sakit atas hal yang menimpanya ini.


Jiu Rui melepaskan pelukannya dan memandang Huang Xinxin dengan tatapan yang begitu dalam seolah olah dia sangat serius pada saat ini.


Huang Xinxin tidak pernah melihat Jiu Rui begitu serius yang membuatnya merasa agak takut sekaligus khawatir pada Jiu Rui.


Jiu Rui pada saat ini agak tidak masuk akal, mungkinkah hanya karena mengetahui bahwa mereka masih memiliki hubungan darah yang dekat membuatnya merasa sangat terpukul seperti itu ?


Tangisan Jiu Rui yang tadi di dengarnya sangat menyakitkan untuk di dengar, seolah olah dia sudah lama memendam kesedihannya sendiri dan kali ini benar benar meledak tanpa bisa dikendalikan.


"Apakah kamu sama seperti semua orang itu yang menganggapku lemah karena menangis seperti ini ? Sejak muda, aku benci diriku sendiri karena tidak bisa mengendalikan air mataku. " Ucap Jiu Rui.


"Tidak, aku tidak menganggapmu lemah. Memangnya kenapa jika kamu menangis ? Apakah itu menandakan kekuatanmu ?" Tanya Huang Xinxin.


"Semua orang menganggap bahwa seorang Putra Mahkota seharusnya tidak pernah menangis , hanya kamu satu satunya yang mengatakan bahwa akan menemaniku ketika menangis. Kamu mengatakan bahwa aku boleh menangis sepuasnya, hanya kamu yang mengatakannya." Jawab Jiu Rui.


"Semua orang mengatakan bahwa aku harus berhenti ketika menangis, ketika orang menghinaku maka aku harus sabar, ketika mainan direbut maka orang orang mengatakan bahwa aku harus bersabar bahwa aku harus memiliki hati yang luas. " Lanjut Jiu Rui.


"Kamu tidak harus memberikan segala apa yang kamu miliki, kamu harus tahu apa yang ingin kamu lindungi dan apa yang telah menjadi milikmu. " Ucap Huang Xinxin.


Jiu Rui memandangnya dengan tatapan yang lebih dalam seolah olah ingin mengatakan sesuatu padanya dalam situasi yang ambigu ini.