
Disisi lain, Huang Xinxin dan Ming Yue yang sedang memikirkan rencana mereka selanjutnya tiba tiba dikejutkan oleh berita bahwa gerbang telah diserang oleh ribuan siluman, mereka tidak akan bisa menahan serangan ini.
Pasukan biasa mereka tidak akan bisa menahan siluman tanpa persiapan yang cukup, Huang Xinxin merasa cemas. Pada saat yang sama, dia harus menyelamatkan Ayahnya.
Huang Xinxin merasa seperti berjalan di atas es tipis, dimana dia bisa jatuh dan tenggelam kapan saja.
"Apa yang harus kita lakukan ?" Tanya Huang Xinxin.
"Mari berpencar, kamu pergilah untuk mencari Ayahmu, adikmu dan Yue Zhang sementara aku akan menangani hal ini. " Jawab Ming Yue.
Huang Xinxin yang mendengarkan ini membulatkan matanya dan menggelengkan kepalanya dengan keras, dia jelas jelas menolak ide ini.
Ini bukan hanya, bukan ide yang baik juga merupakan ide yang bisa saja membunuh Ming Yue. Huang Xinxin tahu betapa kuatnya siluman. Hanya dengan Ming Yue sendirian maka tidak akan bisa bertahan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu disini. " Ucap Huang Xinxin dengan sedih.
"Apakah kamu percaya padaku ? Selama kamu percaya dengan kemampuanku maka itu sudah cukup, karena aku berjanji bahwa tidak akan ada satupun siluman yang berhasil masuk melalui gerbang. " Balas Ming Yue.
"Kamu tidak tahu betapa kuatnya para siluman itu ! Bahkan dengan jimat jimat yang telah dibentuk sekalipun masih sulit untuk mengalahkan mereka !" Seru Huang Xinxin dengan khawatir.
Ming Yue tertawa ringan dan mengelus kepala Huang Xinxin dengan lembut dan penuh dengan kasih sayang.
"Tenang saja, serahkan hal ini padaku. Kamu harus mencari mereka dan membawa mereka kembali, baru kamu bisa bertarung dengan tenang. Ditambah lagi, jika kamu bisa membawa pulang Yue Zhang maka bisa dianggap itu akan sangat membantuku di medan perang. " Balas Ming Yue.
Huang Xinxin merasa cemas tapi memang benar apa yang dikatakan oleh Ming Yue, pada saat ini bahkan jika dia bertarung maka dia tidak akan bisa bertarung dengan sepenuh hati.
Huang Xinxin pada akhirnya memutuskan untuk pergi mencari Ayahnya, adiknya dan Yue Zhang. Dia bertekad untuk membawa ketiga orang itu pulang bersama dengannya dan itu adalah hal yang harus dilakukan olehnya dengan segala cara.
"Kalau begitu maka jaga dirimu baik baik, aku pasti akan mencari mereka dengan serius. Aku akan membawa pulang mereka semua. " Balas Huang Xinxin dan langsung menarik sebuah pedang lalu menunggangi kudanya untuk pergi dari pekarangan.
Tiba tiba raut wajah percaya diri Ming Yue telah menghilang. Bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan semua siluman itu ? Tapi, dia ingin mencoba untuk membuat Huang Xinxin menjadi lebih tenang.
Dengan kondisi hatinya pada saat ini, bahkan jika dia membantu di garis depan juga tidak akan membantu banyak hal terutama ketika dia bahkan tidak fokus akan apa yang dia lakukan pada saat ini.
Itu adalah hal yang berbahaya menurut Ming Yue terutama ketika berada di medan perang yang berbahaya. Huang Xinxin akan dengan mudah kehilangan nyawa jika dia dalam kondisi seperti ini berperang dan Ming Yue tidak ingin hal ini terjadi sehingga dia harus memikirkan hal lain.
Orang yang bisa memberikan mantra selain dirinya adalah Zhou Yan dan Wu Tang, sebelumnya ada Huang Lixin tapi kondisi Huang Lixin saat ini bahkan masih belum diketahui, bagaimana dia akan meminta bantuannya ?
Maka dari itu hanya bisa mengandalkan Keluarga Zhou dan dirinya untuk membuat jimat, Ming Yue tidak menunda lagi dan langsung menaiki kudanya untuk mencari Kediaman Zhou.
Pada saat ini ada Tuan Zhou dari Kediaman Zhou yang baru saja kembali, Zhou Yuan. Dia pasti memiliki lebih banyak pengalaman dibandingkan yang lainnya.
Jika bisa meminta bantuannya untuk membuat jimat maka hasil jimat yang dibentuk maka pastilah akan lebih baik dan lebih sempurna.
Terutama itu dibentuk oleh pengalaman selama puluhan tahun miliknya, bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan Ming Yue yang baru saja belajar akan hal ini.
Ming Yue mempelajari hal ini bahkan belum mencapai 10 tahun, bisa dikatakan dia masih kalah dengan Zhou Yan ataupun Zhou Yuan.
Ming Yue tiba disana dengan tepat waktu karena Zhou Man baru saja akan pergi untuk memeriksa serangan.
"Tuan Ming, kamu tiba disini. Aku baru saja akan mengunjungi mu setelah mencari tahu tentang informasi penyerangan ini. Kakekku merasa khawatir dengan tempat tinggalnya maka dari itu dia mengatakan, jika ada hal yang bisa dia bantu berkontribusi maka dia pasti akan memberikannya. " Ucap Zhou Man.
"Kebetulan sekali bahwa aku kemari memang ingin mencari Senior Zhou yang ahli dalam jimat, aku membutuhkan bantuannya. " Balas Ming Yue.
"Baiklah kalau begitu, aku pasti akan mengantarkan Tuan Ming untuk bertemu dengan kakekku. " Ucap Zhou Man.
Ming Yue menyetujui sebelum akhirnya berjalan masuk ke dalam kediaman Zhou dan pada akhirnya dia melihat sekeliling sebelum akhirnya menemukan sebuah ruangan yang sederhana dan misterius maka seharusnya ini adalah kamar dari Senior Zhou.
Zhou Yuan adalah orang yang hemat dan tidak menyukai kemewahan, dia memiliki kepribadian yang sederhana, benar benar berbeda jauh dengan para keturunannya ini.
Masing masing dari mereka suka untuk menghambur hamburkan uang sehingga mendapatkan ceramah dari Zhou Yan.
Karena Zhou Yan adalah orang yang takut pada leluhur maka dia menuruti dengan baik dan hanya melakukan pelanggaran secara diam diam. Zhou Man pada awalnya tidak mengerti dan menganggap bahwa itu adalah cinta bakti dari Ayahnya untuk kakeknya tapi semua itu salah ketika dia melanggar peraturan yang ada di Kediaman Zhou.
Pada biasanya maka Zhou Yan tidak akan berani untuk menghukum putra kesayangannya, Zhou Man sehingga membuat pemuda itu mengembangkan sikap yang liar dan tidak dapat diatur itu sampai akhirnya kakek buyutnya datang dengan satu tongkat kayu rotan.
Zhou Man tidak mampu mengidentifikasi senjata tersebut ternyata lebih berbahaya daripada pedang.
Ayahnya langsung berlari ketika melihat senjata itu dan memutuskan untuk berpura pura bahwa dia tidak pernah memiliki putra, Zhou Man tidak tahu seberapa sakit hanya saja dia berpikir bahwa itu sama dengan beberapa pukulan ringan dan seharusnya kakeknya tidak akan tega untuk memukulnya terlalu keras, karena itulah dia berani untuk menantang kakeknya.
Ketika sekali dipukul, itu semua terasa sangat sakit dan mereka semua merasa sangat tidak nyaman. Pada akhirnya, Zhou Man menyadari bahwa tongkat kayu kakeknya itu bahkan jauh lebih menyebabkan trauma dibandingkan tertusuk oleh pedang.