Pendekar Pelukis Abadi

Pendekar Pelukis Abadi
52. Rencana Baru


Pada saat ini, seluruh pasukan sedang mundur dan menunggu keputusan selanjutnya, Huang Xinxin mengambil air bersih untuk membersihkan luka Ming Yue yang memenuhi sekujur tubuh.


"Putri Huanxi, anda bisa kembali dan beristirahat terlebih dahulu, pekerjaan kotor seperti ini bisa serahkan padaku. " Ucap Yue Zhang dengan kaku.


"Walaupun aku tidak bisa dikatakan ahli tapi aku paham beberapa hal dasar untuk mengobati luka luar. Tuan Yue, anda juga terluka parah pada saat ini, tolong obati diri anda terlebih dahulu. " Balas Huang Xinxin tanpa menoleh.


Ming Yue memiliki tiga luka yang paling parah, satu di bagian perut, satu dipunggung dan yang lain di dada.


Ini sangat parah dan dalam, mungkin akan meninggalkan bekas, Huang Xinxin merasa ngilu hanya dengan membersihkan luka nya.


Tidak menyangka bahwa dengan luka separah ini sekalipun , seseorang tidak akan mati dan juga masih bisa berdiri untuk bertarung.


Tubuh Ming Yue juga di penuhi luka lama yang belum sembuh tapi sudah ditambah dengan luka baru, betapa kejamnya Kaisar.


Huang Xinxin menahan dirinya untuk marah tapi pada akhirnya dengan hati hati membersihkan luka Ming Yue.


Hanya dengan menyentuh sedikit saja membuat Ming Yue mengernyitkan dahinya dan tampak menahan sakit yang sangat mengerikan.


"Bertahanlah, ini tidak akan sakit lagi. " Ucap Huang Xinxin dengan lembut dan perlahan lahan Ming Yue menjadi tenang.


Huang Xinxin mengobati Ming Yue dengan hati hati dan mengoleskan obat sesuai dengan yang diketahui olehnya.


Seandainya ada alkohol maka akan lebih mudah untuk membersihkan luka milik Ming Yue, dia sendiri pernah mengikuti pelatihan untuk menangani luka terbuka.


Itu adalah hal yang cukup mudah, pertama tama harus dibasuh terlebih dahulu dengan air mengalir tapi disini tidak ada oleh karena itu menggunakan kain basah ini.


Kain basah ini berubah menjadi penuh darah, setiap kali Huang Xinxin membasuh nya di ember, itu selalu berubah menjadi lebih dan lebih pekat.


Setelah mengobati lukanya dengan salep, dia mengikat luka Ming Yue dan membersihkan bagian atas tubuh Ming Yue.


Sebenarnya ini, kali pertanyaan menyentuh tubuh pria secara langsung seperti ini sehingga dia merasa agak canggung.


Tapi, demi nyawa seseorang maka itu tidak masalah sama sekali terutama para tabib lain yang sudah sibuk dengan Prajurit Prajurit yang terluka parah juga.


Dia tidak bisa memikirkan hal hal kecil semacam itu jadi dia terus berusaha untuk tidak perduli pada hal hal kecil.


"Baiklah , sudah selesai. " Ucap Huang Xinxin.


"Jangan pergi...... kakak..... " Gumam Ming Yue dengan keringat yang mengalir deras di dahinya.


Huang Xinxin tersenyum tipis tapi senyum itu agak pahit pada saat yang sama. Bahkan ketika berada di ambang kematian sekalipun, yang di ingat oleh Ming Yue adalah Wang Ziqi.


Betapa beruntungnya Wang Ziqi karena memiliki seseorang yang sangat mencintainya seperti itu, entah perbuatan baik apa yang dilakukan oleh Wang Ziqi, bahkan ketika sudah beberapa tahun berlalu, rasa rindu dari Ming Yue masih tidak berubah sama sekali.


Huang Xinxin merasa kasihan pada Ming Yue yang pada saat ini menderita, anggap saja dia sedang berbaik hati pada hari ini.


"Baik, kakak akan menemanimu disini. " Ucap Huang Xinxin.


Ming Yue berubah menjadi lebih nyenyak dan tidur memeluk tangannya, setelah beberapa jam, tubuh Huang Xinxin langsung mati rasa karena berada dalam posisi yang sama untuk waktu yang lama.


"Tidak, pada saat ini pasukan orang bar bar belum mundur sepenuhnya. Jenderal Ming tidak bisa memimpin pasukan, aku hanya bisa memimpin pasukan ini untuk melawan musuh. " Jawab Huang Xinxin.


"Jika tidak ada Putri Huanxi maka takutnya kami akan..... " Yue Zhang tidak melanjutkan kata katanya hanya menghela nafas dengan pasrah.


"Ini sudah kewajibanku, kalian mengorbankan diri kalian sendiri untuk melindungi Kekaisaran ini maka aku akan berusaha untuk melindungi kalian. " Balas Huang Xinxin dengan senyum tipis.


"Putri Huanxi, bagaimana dengan rencana anda kedepannya ?" Tanya Yue Zhang.


"Ke depannya, kita telah menguasai benteng sepenuhnya dan musuh dipukul mundur 20 meter jauhnya. Aku ingin kita memperlengkap persenjataan dengan panah. " Jawab Huang Xinxin.


"Hanya saja, kita tidak memiliki pemanah yang cukup baik. " Ucap Yue Zhang.


"Apakah benar benar tidak ada pemanah sama sekali ?" Tanya Huang Xinxin sambil menaikkan alisnya.


"Ada, hanya saja tidak banyak. Paling tersisa 10 orang, kebanyakan pemanah kami tidak memiliki waktu untuk memanah sehingga mereka turun untuk bertarung jarak dekat dan pada akhirnya meninggal. " Jawab Yue Zhang dengan sedih.


"Kalau begitu maka sudah cukup, aku akan membantu kalian. Selama ada niat maka pasti akan menang. " Ucap Huang Xinxin dengan penuh tekad.


Huang Xinxin merasa bahwa tubuhnya agak tidak nyaman karena lelah selama beberapa hari belakangan ini tapi situasi benar benar mendesak.


Ketika malam hari tiba, Ming Yue masih belum sadar dan Huang Xinxin terpaksa menarik tangannya yang mati rasa dan naik ke atas benteng untuk melihat musuh yang sudah menunjukkan pergerakan.


Huang Xinxin melihat disini ada banyak anak panah hanya saja kebanyakan busur telah patah.


"Putri Huanxi, kami sudah melakukan pemeriksaan dan kira kira musuh berjumlah 600 sampai 700 orang sementara orang kita hanya tersisa 850 orang. " Ucap Yue Zhang.


"Kalau begitu..... kita hanya bisa berdoa pada peruntungan kita, apakah rencana baru ini akan memberikan hasil yang kita inginkan atau tidak. " Balas Huang Xinxin.


"Malam ini akan menjadi peperangan terakhir, Putri Huanxi jika situasinya mendesak maka pergilah terlebih dahulu dan bawa Ming Yue bersama denganmu. " Ucap Yue Zhang dengan serius.


Huang Xinxin tidak menjawab dan menatap Yue Zhang dengan tatapan rumit, tapi dia tidak akan membiarkan mereka kembali dengan kekalahan.


Perbatasan barat daya tidak boleh jatuh ke tangan musuh jika tidak maka akan ada lebih banyak korban, Huang Xinxin sudah melihat berapa banyak pengungsi karena peperangan ini.


Seandainya orang bar bar masuk ke pemukiman dan menjajah benda benda milik masyarakat maka pasti akan menyebabkan kekacauan besar dan pada saat itu, ingin menyesal saja sudah terlambat.


Huang Xinxin berjalan ke atas benteng dan menarik busur yang telah dibawanya sepanjang jalan.


"Kita pasti akan menang !" Teriak Huang Xinxin.


"Dengarkan arahan Putri Huanxi, kita pasti akan kembali ke Ibukota dengan kemuliaan !" Teriak Yue Zhang di atas kudanya.


Yue Zhang menunggu di balik gerbang sebelum akhirnya gerbang di angkat dan pasukan pemberani itu berlari keluar, sementara itu peperangan langsung pecah.


...----------------...


Bonus Up like 2,8 k : 1 / 3