
Hua Wang Zhang tidak menjawab dan hanya memeluk kakaknya dengan erat erat lalu Hua Yin tertawa dan menepuk nepuk punggung Hua Wang Zhang.
"Tidak biasanya kamu manja seperti ini, apakah kamu mendapatkan sebuah masalah ?" Tanya Hua Yin dengan lembut.
"Tidak, aku hanya merindukanmu. Aku ingin datang tapi aku ragu, aku takut akan penolakan. Hanya kamu yang menerima aku. " Jawab Hua Wang Zhang.
Xia Xinxin menatap ini sejenak dan merasa bahwa memang ada yang salah dengan mereka ini. Beberapa kali Xia Xinxin pergi ke rumah Hua Yin, Tuan dan Nyonya Hua tidak pernah membahas tentang Hua Wang Zhang ini.
Sementara dia sendiri tidak pernah mendengar sama sekali maka pasti ada yang salah dengan identitas Hua Wang Zhang ini, Xia Xinxin menyadari bahwa dirinya hanya orang luar dan memutuskan untuk mundur.
"Kalian berbicara saja dulu. " Ucap Xia Xinxin dan berjalan agak menjauh untuk memberikan ruang bagi kakak adik itu.
Xia Xinxin bisa merasakan tatapan yang tulus dari Hua Wang Zhang yang menunjukkan bahwa dia tidak datang dengan niat yang jahat melainkan benar benar serius untuk mengantar kepergian Hua Yin hari ini.
Xia Xinxin menunggu dengan damai sebelum akhirnya setelah lima menit, Hua Yin memanggilnya dan Xia Xinxin berjalan kali ini gantian Hua Wang Zhang yang menjauh.
"Kelak, ketika aku di luar negeri maka aku harus menitipkan dia untukmu. Dia adalah anak yang mandiri hanya saja aku melihat bahwa dia mungkin membutuhkan sedikit perhatian, jika kamu memiliki waktu luang maka kamu bisa mendatanginya. " Ucap Hua Yin.
"Aku tidak berniat untuk mempertanyakan hubungan kekeluargaan mu, bagaimanapun itu adalah hal yang bersifat pribadi , aku juga memahami hal ini hanya saja aku melihat bahwa kamu dan dia tampaknya ada sedikit masalah. " Ucap Xia Xinxin.
"Apakah kamu tahu kenapa aku tidak pernah menceritakan dia padamu ?" Tanya Hua Yin.
"Kenapa ?" Tanya Xia Xinxin.
"Karena aku juga baru mengenal dia empat tahun lalu, dia mengatakan bahwa dia ingin mencari Ibunya jadi aku bertanya siapa Ibunya dan dia menjawab itu adalah Ibuku. Ternyata itu adalah putra Ibuku yang secara diam diam lahirkan dan sekarang Ayahnya sudah tiada, hanya menyisakan dia seorang yang pada saat itu baru saja berusia 15 tahun. Sekarang dia sudah lulus dan sedang kuliah, dia memang tidak bisa memilih orang tuanya hanya saja ayah dan ibuku memutuskan untuk tidak membahasnya lagi. " Ucap Hua Yin dengan helaan nafas.
"Bagaimana mungkin itu menjadi salahnya ? Jadi sekarang dia tinggal sendirian ?" Tanya Xia Xinxin.
"Ya, dia tinggal di rumah peninggalan Ayahnya. Satu satunya hal yang dia inginkan semasa hidupnya adalah bertemu dengan Ibu yang tidak pernah dia ingat. Tapi ketika bertemu tapi ternyata tidak sesuai harapannya. " Jawab Hua Yin.
"Kalau begitu maka dia sangat menyedihkan. " Ucap Xia Xinxin.
"Benar, dia memang agak menyedihkan. Kamu tidak tahu bahwa dia sebenarnya kesepian tapi dia adalah orang yang tidak suka merepotkan orang lain jadi jika kamu tidak dekat dengannya maka kamu tidak akan pernah memahami isi hatinya, pada saat ini dia sama seperti dengan orang yang tidak memiliki keluarga lagi. " Ucap Hua Yin sembari menghela nafas.
"Masalah sepele ini serahkan saja padaku dan kamu bisa pergi dengan tenang, jangan sampai masalah ini sampai membebani pikiranmu. " Balas Xia Xinxin.
"Tentu saja tidak membebani, dia sekarang adalah seorang pemuda yang sedang berada di masa kejayaannya, hal buruk apa yang mungkin bisa dia terima? Hanya saja mungkin dia agak kesepian, lagipula aku sudah di Luar Negeri selama dua tahun belakangan ini. " Ucap Hua Yin.
"Aku mengerti, kamu pergilah. Jangan sampai terlambat, kelak harus lebih sering menghubungi terutama ketika kamu keluar malam. Jadi jika terjadi sesuatu padamu bahkan jika jauh, masih lebih baik daripada tidak tahu sama sekali. " Ucap Xia Xinxin dengan cemas.
"Aku tahu, aku sangat berterima kasih karena memiliki seorang sahabat sepertimu, tanpamu maka aku mungkin akan kesepian. " Balas Hua Yin.
"Apa yang sedang kamu bicarakan ? Kita adalah sahabat selama enam tahun, ini bukan waktu yang pendek tapi juga belum cukup panjang bagi kita berdua. Kita akan mengukir lebih banyak kenangan indah di masa depan. " Ucap Xia Xinxin dengan yakin.
"Baik, karena kamu sudah begitu yakin maka aku akan pergi dulu. Kamu masih kurang sehat, jaga dirimu baik baik, jangan sampai melukai dirimu sendiri. " Balas Hua Yin.
"Tenang saja, aku akan merawat diriku baik baik. Jaga dirimu dan jangan lupakan untuk mengatakan kapan kamu wisuda, aku akan pergi untuk melihatnya dan merayakannya bersama denganmu. " Ucap Xia Xinxin.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi dulu. Jangan lupa untuk beristirahat yang cukup, jika kamu merasa kesepian maka tinggalkan pesan untukku. Aku pasti akan membacanya dan menemanimu mengobrol. " Balas Hua Yin dengan senyum tulusnya.
Mereka saling berpelukan dan tidak tahu berapa lama lagi baru mereka akan bertemu satu sama lain lagi. Hua Yin pada akhirnya melepaskan pelukannya dan tersenyum semangat.
"Selamat tinggal !" Seru Hua Yin sebelum akhirnya berjalan menjauh.
Xia Xinxin melambaikan tangannya sembari tertawa sementara matanya sendiri memanas, setelah Hua Yin menjauh dan tidak terlihat lagi, setetes air mata menetes dari sudut matanya.
Dia buru buru menyekanya dan berusaha untuk memaksakan senyum, Hua Yin seharusnya akan selesai dalam setahun dan pada saat itu maka mereka, sahabat sejati akan bisa saling bertemu dan saling berkumpul lagi. Pada saat itu maka mereka akan bisa saling menjaga.
Xia Xinxin tidak bisa menangis di depan Hua Yin dan membuat Hua Yin tidak tenang, lebih baik dia terlihat tidak berperasaan dibandingkan membuat Hua Yin cemas padanya.
Xia Xinxin berbalik dan melihat Hua Wang Zhang yang dikatakan oleh Hua Yin. Pada saat ini pemuda itu tampak menundukkan kepalanya dengan lemah.
"Wang Zhang, Hua Yin telah mengatakan semuanya padaku. Apakah aku boleh memanggilmu Wang Zhang ?" Tanya Xia Xinxin dengan lembut.
"Sebenarnya namaku memang Wang Zhang hanya saja dia bersikeras bahwa aku dan dia sekeluarga sehingga harus menggunakan marga yang sama dengan begitu maka itulah, tapi sebenarnya namaku adalah Wang Zhang. " Jawab pemuda itu.
"Aku mendengar bahwa kamu tinggal sendirian, kelak aku pasti akan memperhatikanmu sebagaimana Hua Yin memperhatikanmu. Dia menitipkan mu padaku maka aku pasti akan menjagamu dengan baik. " Ucap Xia Xinxin.
Wang Zhang menatapnya dengan tatapan yang aneh seolah olah tidak percaya bahwa dirinya bisa menjaga pemuda itu, hal ini membuat Xia Xinxin terkekeh.
"Kelak kakakmu akan berada di luar negeri dan aku sebagai saudari kakakmu maka juga menjadi kakakmu juga. Aku berbeda dengan kakakmu yang menganggap bahwa saudara harus memiliki marga yang sama tapi menurutku , saudara adalah orang yang bisa menemani saat suka dan duka. " Ucap Xia Xinxin.
"Aku setuju untuk hal itu, terkadang bahkan orang yang seharusnya dekat sekalipun akan melakukan penolakan. " Balas Wang Zhang mulai agak terbuka.
Xia Xinxin tahu bahwa ini merujuk pada Nyonya Hua yang seharusnya menjadi Ibu dari Wang Zhang dan seharusnya menjadi salah satu orang yang paling dekat dengannya, siapa yang menyangka bahkan Nyonya Hua bisa menolaknya juga.
Xia Xinxin bisa memahami perasaan Wang Zhang dan menghela nafas, ini tidak bisa dibantu oleh orang lain, hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk berdamai dengan masa lalu. Jika Wang Zhang sendiri bahkan tidak ingin berdamai dengan masa lalu maka tidak akan pernah bisa menyembuhkan diri sendiri dari hal ini.
Xia Xinxin memandang ke arah Wang Zhang dan merasa iba pada pemuda ini.
"Apakah kamu datang kemari sendirian ?" Tanya Xia Xinxin.
"Ya, aku datang sendirian dari tempat kerjaku. " Jawab Wang Zhang.
"Kamu naik kesini menggunakan apa ? Apakah membawa kendaraan sendiri ? Jika tidak maka aku saja yang mengantarmu dengan begitu maka akan lebih aman. " Balas Xia Xinxin.
"Aku dijemput oleh temanku, tidak perlu merepotkan Nona Xia. Hanya saja temanku ini tampaknya ingin mengatakan sesuatu pada Nona Xia. " Ucap Wang Zhang tiba tiba ingin tertawa.
"Temanmu ? Apakah aku mengenal dia ? Bukankah kamu lebih kecil dariku beberapa tahun ?" Tanya Xia Xinxin dengan bingung.
"Tidak, tidak, dia adalah rekan kerjaku sekaligus sahabat dan merupakan orang yang jauh lebih tua dariku. Usianya tidak bisa dibandingkan dengan diriku. " Jawab Wang Zhang.
"Dimana dia saat ini ?" Tanya Xia Xinxin merasa agak penasaran.
"Di depan , seharusnya sudah tidak jauh lagi. " Jawab Wang Zhang.
Xia Xinxin tidak menolak dan mengikuti Wang Zhang untuk berjalan sebelum akhirnya dia melihat sebuah wajah yang tidak asing dan dia ingin langsung menghindar.
Itu adalah Ming Yue yang sedang duduk dengan kacamata hitam dan tampak sombong ! Xia Xinxin langsung berhenti dan menatap pada Wang Zhang.
"Aku agak tidak enak badan, jika temanmu ingin bertemu maka kelak membuat perjanjian pertemuan saja dengan begitu maka bisa mencari tempat yang lebih layak. " Ucap Xia Xinxin sebelum akhirnya langsung kabur.
Tapi, Wang Zhang menahan tangannya dan menatap ke arah Xia Xinxin dengan tawa yang ditahan.
"Nona Xia, aku tidak berbohong padamu. Temanku ini memang mengenalmu dan sekarang dia ingin mengatakan sesuatu padamu. " Ucap Wang Zhang.
Xia Xinxin menoleh dan melihat bahwa Ming Yue sudah berdiri di hadapan Wang Zhang.
"Kalian saling berteman ?" Tanya Xia Xinxin agak terkejut.
"Ya, kami berteman satu sama lain. Harap Nona Xia tidak tersinggung untuk hal ini, bagaimanapun temanku ini bodoh dan lambat, datang kemari untuk meminta maaf secara langsung kepada Nona Xia atas sikap mabuknya kemarin. " Jawab Wang Zhang dengan tulus.
Xia Xinxin tidak marah lagi hanya saja terkejut ketika melihat takdir ini. Di masa lalu, Ming Yue dan Yue Zhang juga saling berteman dengan erat tapi kali ini mereka bertemu lagi dengan salah satu yang memiliki nama yang berbeda.
Agak lucu tapi memang ini adalah takdir mereka berdua yang tidak terpisahkan, di kehidupan lalu mereka terpisah dengan paksa oleh peperangan tapi kali ini maka tidak akan terjadi lagi perpisahan itu.
"Nona Xia ? Nona Xia !" Panggil Wang Zhang ketika melihat Xia Xinxin melamun.