
Huang Xinxin langsung mengadakan upacara dengan dia sebagai pemimpinnya, di depannya ada empat peti, ada satu milik Huang Shang Yue, yang lain adalah milik Huang Lixin, lalu Ming Yue dan Yue Zhang.
Walaupun sebelumnya dia dan Yue Zhang tidak dekat satu sama lain tapi Ming Yue pernah berkata bahwa Yue Zhang hidup hanya bersama dengannya dan tidak memiliki keluarga lagi yang mengurusnya maka Huang Xinxin akan membawanya bersama sama.
Huang Xinxin memejamkan mata dan merasa bahwa semua musuh luar sudah diselesaikan tapi musuh dari dalam masih belum diselesaikan bahkan terkesan tidak memiliki dampak sama sekali.
Rasa sakit menerpa seluruh tubuhnya, ini bukan sakit fisik yang bisa diobati oleh tabib melainkan sakit hati yang teramat dalam dan tidak akan ada yang bisa mengobati rasa sakit hatinya.
Pada saat ini, tidak ada satupun orang luar selain dia dan pelayan kediaman Huang yang mengirim kepergian empat orang ini. Dibawah keempat peti ini ada jerami yang akan dibakar.
"Aku berharap bahwa kalian semua tenang dan kalian akan bereinkarnasi lagi dengan nasib yang baik. " Ucap Huang Xinxin dengan lantang.
Beberapa pelayan yang masih muda tidak bisa menahan tangis mereka melihat Tuan mereka sudah pergi, Huang Lixin bukanlah orang yang sombong.
Dia juga sering membawakan hadiah bagi para pelayan yang ada di kediaman Huang. Dia sangat baik dan rendah hati, semua orang menyukainya dan sekarang dia sudah pergi.
Orang orang juga kasihan dengan Huang Xinxin yang memimpin upacara ini sendirian dengan nada yang datar tanpa emosi sedikitpun. Dia sampai ke titik dimana dia tidak bisa menangis lagi.
Dimana dia bahkan telah mulai melupakan dimana dia berada dan siapa dia, dia merasa bahwa dia telah kehilangan jati dirinya sendiri.
Huang Xinxin menyiramkan arak di sekitaran peti sebelum akhirnya bergantian oleh para pelayan dan dilanjutkan dengan menaburkan bunga di sekitar peti.
Pada akhirnya, Huang Xinxin berjalan ke depan dengan sebuah obor yang menyala dengan terang di tangannya.
Huang Xinxin berjalan ke depan dan melihat meraka untuk terakhir kalinya.
"Kalian semua, kita akan bertemu lagi di masa depan. Kalian berhutang padaku. " Ucap Huang Xinxin sebelum akhirnya menjatuhkan obor.
Api mulai menjalar dengan liar dan semula hanya membakar jerami sebelum akhirnya menyambar peti dengan liar.
Tangisan terdengar tapi Huang Xinxin tidak menangis atau menunjukkan emosi sedikitpun, dia berdiri disini dengan hampa.
Tidak ada satupun orang yang menemani atau menyemangatinya, karena dia tahu bahkan Zhou Man sekalipun pada saat ini masih sedang dalam keadaan yang sama hancurnya dengan dia.
Mereka berdiri disana sampai terbakar habis dan itu memerlukan waktu beberapa jam, tidak lama kemudian langit menjadi gelap dan hujan turun dengan sangat deras.
"Kalian semua, masuklah dulu. Jangan sampai menderita dan sakit. " Ucap Huang Xinxin.
"Nona, Tuan pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini. Tuan pasti akan ikut menderita jika melihatmu menyiksa diri sendiri seperti ini. " Balas seorang pelayan tua dengan kasihan.
"Tidak apa apa, aku sedang mendinginkan kepalaku disini. Aku tahu batasan ku sendiri, tolong tinggalkan aku sendirian. " Ucap Huang Xinxin dengan senyum tipis yang agak dipaksakan.
Pada akhirnya pelayan itu hanya bisa masuk ke rumah dengan perasaan sedih dan canggung.
Huang Xinxin berlutut di depan abu itu selama beberapa jam di dalam hujan yang deras ini sampai sampai lututnya mati rasa, rusak sekalipun dia menunjukkan emosi tertentu.
Dia hanya berlutut dengan datar disana seolah olah dia sedang menjalani hukuman atau dia hanya sebuah boneka tanpa nyawa yang berdiri disana.
Huang Xinxin melihat perlahan lahan abu yang dibawa oleh hujan dan mengalir menghilang, pada akhirnya tidak menyisakan apapun padanya.
Huang Xinxin tidak mengatakan apapun tapi pikirannya sendiri kacau. Dia merasakan kemarahan dan sakit hati akan kepergian orang yang disayanginya, terutama alasan kematian mereka sama.
Yaitu karena Ibu Suri, Huang Xinxin berlutut disana dan berpikir berapa banyak orang yang menderita karena Ibu Suri.
Yang pertama adalah Dan Wei Hui, yang kedua adalah Huang Xinxin, yang ketiga adalah Ming Yue, yang keempat adalah Ming Xiu dan Lei Wanyi, yang kelima adalah Huang Lixin dan Huang Shang Yue.
Melihat betapa banyak korban ini masih belum menghitung keluarga Wang, dia memang membenci Wang Ziqi tapi pada saat yang sama dia kasihan pada Keluarga Wang yang seharusnya mampu untuk menjalani kehidupan mereka dengan damai dan aman tapi pada akhirnya harus meninggal karena kejahatan Ibu Suri.
Huang Xinxin menarik pedangnya dan menggunakan pedangnya sebagai tumpuan untuk berdiri. Dia memaksa dirinya sendiri untuk bangkit dari rasa sakit ini, dia berdiri menggunakan pedang itu dengan kedua kakinya yang mati rasa.
Huang Xinxin perlahan lahan menyeret pedangnya berjalan terseok seok ke depan, di sepanjang jalan kosong dengan orang orang karena semua orang menepi karena hujan yang sangat deras.
Tapi, Huang Xinxin berjalan sendirian ditengah tengah dengan pedang ditangannya yang diseret lalu dia berjalan dengan terseok seok, tatapannya tampak kosong.
Sejak awal, dia tidak ingin membunuh keluarga Kekaisaran tapi pada saat ini maka kondisi sudah tidak memungkinkannya lagi untuk diam. Dia akan segera membalas dendam bagi keluarganya dan kekasihnya.
Orang orang melihat Huang Xinxin yang berjalan di tengah hujan membawa pedang dan mengira bahwa dia orang gila, tapi Huang Xinxin tidak perduli dan dia berjalan menuju Istana, selangkah demi selangkah tapi pasti.
Huang Xinxin berjalan sendirian disini, sampai akhirnya dia bisa melihat Istana yang begitu megah dan indah. Dia merasa seolah olah bahwa jantungnya berpacu dengan kuat.
Dia berada di tengah tengah pilihan, sejak dia melangkah maju maka tidak akan ada jalan kembali bagi dirinya.
Huang Xinxin berhenti sejenak sebelum akhirnya memejamkan matanya dan mengingat bagaimana Ayahnya berjanji bahwa mereka akan kembali dengan adanya bantuan dari Keluarga Yue maka pasti akan aman. Tapi, nyatanya Keluarga Yue sama sekali tidak datang.
Huang Xinxin merasakan kebencian yang mengisi seluruh tenaga dan tekadnya, membayangkan bagaimana dia dan Ming Yue yang sudah berjuang bersama untuk mempertahankan tempat ini sementara mereka hidup dengan begitu nyaman disini.
Huang Xinxin merasakan kemarahan yang memenuhi seluruh saraf sarafnya sampai sampai membengkak ke titik dimana dia tidak bisa mengendalikan kemarahannya lagi.
Pada akhirnya, dia memilih untuk melangkah maju dan yakin bahwa dia tidak akan menyesal tindakannya, dia sudah yakin dengan keputusan yang dia buat kali ini.