
Xia Xinxin berhenti sejenak dan menarik nafas dalam dalam lalu Hua Yin juga tidak bisa tersenyum lagi ketika mendengar ini. Dia sendiri tidak menyangka bahwa kisah dibaliknya sangat kelam hanya saja , bagaimana Xia Xinxin bisa mengetahuinya dengan begitu jelas ?
"Tahukah kamu bahwa puluhan ribu prajurit tewas di medan perang hanya untuk menjaga mereka sementara mereka ketakutan bahwa mereka akan kelaparan sehingga mereka tidak mengirimkan bantuan prajurit maupun bantuan makanan ? Tahukah kamu bahwa puluhan ribu prajurit di perbatasan kelaparan dan hanya memakan pasir untuk bertahan hidup ? Apakah kamu mengetahui itu ? Aku tidak tahu kenapa kamu bisa mengasihani Keluarga Jiu sementara mereka tidak pantas untuk itu !" Seru Xia Xinxin dengan dada yang bergerak naik turun karena amarahnya yang meledak.
"Tenangkan dirimu, kenapa kamu begitu marah ? Ini hanya sebuah pameran festival, kenapa kamu begitu terbawa perasaan ?" Tanya Hua Yin.
Xia Xinxin menggelengkan kepalanya dan menenangkan dirinya sendiri untuk hal ini , mungkin memang benar bahwa dia terlalu impulsif dalam hal ini.
Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan apa yang ada di dalam hatinya, pada saat ini dia hanya bisa menelan semua emosi yang bergejolak di dalam hatinya.
Xia Xinxin melirik ke sekitar dan melihat bahwa ada beberapa orang yang memandangnya dan merasa terganggu dengan keributan yang telah dia buat.
Xia Xinxin berdiri dan membungkuk ke arah mereka dengan sopan.
"Mohon maaf karena membuat keributan. " Ucap Xia Xinxin dengan menyesal.
Semua orang menggelengkan kepalanya dan memberikan isyarat agar dia kembali duduk. Xia Xinxin kembali duduk dan bersandar pada Hua Yin.
"Maafkan aku, aku memang bersalah dalam hal ini. Aku terlalu bersemangat, kamu tahu ketika aku membaca ceritanya, aku langsung merasa sangat emosional karena hal ini. " Ucap Xia Xinxin menghela nafasnya.
"Santai saja, aku memang merasa bahwa ini juga salahku. Aku berpikir mungkin ini salah satu efek dari obat obatan yang sedang kamu konsumsi pada saat ini. " Balas Hua Yin.
"Tampaknya seperti itu, hal ini mempengaruhi kondisi emosional ku menjadi tidak stabil. Aku berharap bahwa kamu tidak marah padaku. " Ucap Xia Xinxin dengan menyesal.
"Sudahlah, ayo fokus pada pertunjukkan yang akan segera dimulai. Aku tidak akan mempermasalahkan hal ini denganmu, aku seharusnya lebih perhatian padamu dan tidak mengajakmu untuk melihat sesuatu yang sangat emosional seperti ini. " Balas Hua Yin.
"Tidak apa apa, ayo kita tonton ini !" Ajak Xia Xinxin berusaha untuk tenang.
Tiba tiba musik berbunyi dan masuk selusin gadis cantik yang mempesona dengan pakaian tradisional berwarna putih dan merah muda.
Mereka membawa kipas dan mulai menari sesuai irama kecapi yang dimainkan, Xia Xinxin mendengarkan ini dan merasa bahwa hatinya menjadi semakin tenang setelah mendengar musik ini.
Ternyata, selama ini yang dia ingat bukanlah mimpi melainkan dia kembali ke masa lalu melalui Buku Pendekar Pelukis Abadi.
"Lihatlah para gadis ini memiliki pinggang yang begitu ramping dan kaki yang jenjang, hal ini membuatku iri. " Keluh Hua Yin sekaligus merasa kagum dengan gadis gadis cantik ini.
"Mereka tampaknya berlatih dengan keras, lihat pergelangan kaki mereka bahkan tampak sangat merah, juga ada beberapa luka yang disamarkan dengan bedak dibagian bawah gaun yang akan terlihat ketika mereka berputar. " Bisik Xia Xinxin.
Hua Yin yang tidak memperhatikan ini mulai memperhatikan hal ini dan menemukan bahwa apa yang dikatakan oleh Xia Xinxin sama sekali tidak salah.
"Benar, mereka tampaknya benar benar berusaha dengan keras untuk tampil sempurna. Aku tidak bisa membayangkan dengan kaki yang terluka seperti itu mereka masih bisa menunjukkan tarian yang begitu indah dan anggun bahkan harus tetap tersenyum ke arah penonton sembari menahan sakit. " Ucap Hua Yin merasa ngeri.
Bagaimanapun gerakan mereka menggunakan posisi berlutut dan juga menggunakan banyak gerakan kaki, mereka pasti jatuh berulang kali untuk menampilkan tarian ini.
"Mereka sangat baik. " Puji Xia Xinxin dan Hua Yin setuju dengan kata kata Xia Xinxin kali ini.
Setelah menampilkan tiga lagu, mereka semua membentuk sebuah baris yang menghadap ke arah penonton dan saling menggandeng satu sama lain sementara yang bagian tengah memegang mic.
"Selamat siang semua, hari ini kami dari Kelompok Tari Teratai, meminta dukungan dari saudara sekalian untuk kemajuan kelompok kami, Terima kasih banyak !" Seru orang yang di tengah lalu bersama sama menundukkan kepala mereka.
Setelah itu mereka berlari ke bagian kanan panggung, lalu ada seseorang yang berjalan berkeliling membawa sebuah barcode untuk menyumbang kepada kelompok Tari tadi.
Xia Xinxin melihat ke akun banknya dan menemukan bahwa selama ini dia tidak menghasilkan uang tapi yang di rekeningnya terus bertambah.
Dia melihat riwayatnya dan menemukan bahwa setiap bulan selama dia koma, orang tuanya masih mengirimkan uang sebesar 12.500 Yuan setiap bulannya seolah olah dia masih sadar.
Xia Xinxin melihat bahwa para gadis itu tampak menyedihkan dan menambah kembali 500 Yuan lagi untuk mereka, anggap saja sebagai bentuk penghargaan darinya atas kerja keras mereka.
Setelah itu dia melirik ke saldo banknya yang masih memiliki beberapa juta Yuan, dia memiliki penghasilannya sendiri bahkan jika orang tuanya tidak mengirimkan uang.
Mereka duduk lagi dengan tenang, dan menunggu pertunjukkan selanjutnya yang menunjukkan seorang pria muda yang memainkan Guqin dengan cara yang sangat baik.
Mereka juga memberikan sumbangan pada akhir acara, Xia Xinxin tidak sabar dengan Penerus Keluarga Ming terakhir yang sudah disebut sebut sejak tadi.
Sejak melewati beberapa orang yang memberikan pertunjukkan, sekarang hanya memiliki dua orang lain untuk memberikan pertunjukkan.
Semua orang yang tampil disini sangat berbakat hanya saja setelah beberapa waktu berlalu maka itu agak membosankan, Xia Xinxin berusaha untuk menunjukkan bahwa dia masih sangat antusias kepada orang orang yang berani mencoba untuk tampil ini.
Ini adalah hal yang baik dan seharusnya Xia Xinxin berusaha untuk memberikan kesan yang baik pada mereka sebagaimana mereka berada di atas panggung ini.
"Xinxin, apakah kamu ingin pergi ?" Tanya Hua Yin.
"Tidak mau, apakah kamu ingin mencari makanan dan minuman ?" Tanya Xia Xinxin.
"Ya, aku lumayan lapar pada saat ini. Pemandu kita tadi jelas kelas melakukan penipuan pada orang lain di siang hari, hal ini benar benar menyebalkan. " Jawab Hua Yin.
"Ha ha ha, kalau begitu maka pergilah dan aku akan menjaga tempat duduk ini. Oh ya, tolong tukarkan sebuah teh susu dan roti untukku. " Ucap Xia Xinxin.
"Kenapa kamu tidak ikut denganku saja dan memilih makanannya sendiri ? Bagaimana jika aku memilih sesuatu yang tidak sesuai denganmu ?"Tanya Hua Yin.
"Tenang saja, aku percaya dengan pilihan yang kamu buat untukku. Aku yakin bahwa kamu pasti akan tahu, aku akan menjaga tempat duduk. Cepatlah, jangan sampai kita tidak berhasil melihat Penerus terakhir keluarga Ming setelah menunggu disini cukup lama. " Jawab Xia Xinxin dengan alasan yang kuat.
"Benar juga, kalau begitu maka tunggu aku diam diam disini. Jangan sampai ketika aku pulang dan kamu sudah menghilang. " Balas Hua Yin dengan ancaman.
"Tenang saja , aku bukan anak kecil yang akan hilang jika kamu mengalihkan pandangan. Cepat, sudah pertunjukkan terakhir !" Seru Xia Xinxin.
Hua Yin langsung berdiri dan izin dengan orang orang di sekitar sebelum akhirnya berlari pergi, pada saat yang sama Xia Xinxin menunggu dengan damai dan menonton pertunjukkan.
Dia memang menjaga kursi untuk Hua Yin, jika mereka semua pergi maka sulit untuk mendapatkan tempat duduk sebaik ini.
Sementara kursi di belakang mereka sudah penuh semua dan beberapa orang yang tidak mendapatkan tempat duduk akan berdiri.
Pertunjukkan terakhir pada akhirnya sudah selesai dan Hua Yin masih belum kembali juga sampai saat ini.
"Baiklah, akhirnya kita tiba di acara utama kita semua ! Kami akan segera mengundang tamu utama kita !" Seru pembawa acara.
Pada saat yang sama, Hua Yin kembali dengan makanan dan minuman di tangannya. Xia Xinxin mengambil makanan dan minuman itu lalu mengangkat kepalanya.
Dia terkejut dengan orang yang melangkah keluar dari balik panggung, tatapannya kebetulan sekali bertemu dengan orang itu. Tatapan yang begitu tajam dan dingin itu, bagaimana mungkin dia bisa melupakannya ?