Pendekar Pelukis Abadi

Pendekar Pelukis Abadi
146. Kejayaan Dinasti Xia


Mereka masuk ke dalam dan diarahkan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang tampak seperti teater dan semua orang akan duduk disana. Kebetulan sekali bahwa sesi yang paling dekat dengan waktu mereka adalah pukul 12.00 dan film pendek ini akan ditayangkan selama setengah jam atau lebih sedikit.


"Ayo menonton sejarah ini !" Seru Xia Xinxin dengan antusias.


"Kamu yakin akan menonton ini dan tidak akan bosan ?" Tanya Hua Yin dengan ekspresi aneh ketika memandang Xia Xinxin.


"Hm, ayo pergi ! Apakah kamu tidak percaya denganku ?" Tanya Xia Xinxin berusaha untuk menggunakan jurus andalannya ketika Hua Yin mulai ragu dengannya.


"Baiklah, baiklah. Ayo kita tonton sejarah ini. " Ucap Hua Yin langsung setuju dan mereka mengambil kursi di tengah.


Teater ini tidak memiliki banyak kursi, paling banyak hanya ada 50 kursi dan awalnya hanya ada sekitar sepuluh orang termasuk mereka tapi semakin lama menjadi semakin banyak orang yang masuk sampai akhirnya penuh.


Ketika film akan dimulai, lampu mulai padam seluruhnya dan layar besar di depan mereka mulai hidup dan menunjukkan sebuah film yang berlatarkan Istana.


Menunjukkan sebuah Istana yang begitu megah yang begitu indah, tapi pada saat yang sama terasa tidak asing.


Di bagian atasnya tertulis bendera 'Jiu' yang menunjukkan bahwa ini adalah Dinasti Jiu. Xia Xinxin tidak bisa menahan dirinya untuk berdetak dengan keras.


Di film itu menunjukkan seorang pendekar wanita yang sangat pemberani dan melawan musuh sendirian, dengan sebuah pedang di tangannya, dia mampu untuk memukul mundur ribuan musuh.


Itu adalah seorang Kaisar wanita pertama dalam sejarah, Huang Xinxin !


"Nama Kaisar ini mirip dengan namamu. " Bisik Hua Yin.


"Ya."Balas Xia Xinxin dengan nada yang bergetar.


Ternyata, selama ini dia tidak sedang bermimpi. Lalu menunjukkan bahwa orang yang berperan sebagai Huang Xinxin itu melakukan upacara untuk kekasih, ayah dan adiknya serta para prajurit yang menjadi korban dari kejahatan Istana.


Xia Xinxin merasa bahwa air matanya tidak bisa ditahan, setetes air mata lolos ke bawah, untung saja semua orang fokus dengan film yang dibuat sangat seru ini.


Lalu, setelah itu dia ditemani dengan menteri kepercayaannya, Zhou Man untuk memberontak dan membunuh orang orang Istana.


Termasuk, teman baiknya sendiri, Jiu Rui bunuh diri di hadapannya.


"Menurutmu, apakah Huang Xinxin ini terlalu kejam ? Dia memaksa sahabatnya untuk bunuh diri di hadapannya dan mengambil kekuasaan orang lain, kenapa dia dianggap sebagai seorang pahlawan besar ?" Tanya Hua Yin dengan bingung.


"Karena , sejarah ditulis oleh pemenang. Dia adalah orang yang berhasil memenangkan perang, maka dia akan menjadi orang yang dianggap pahlawan. Selain itu, jika membaca ceritanya maka tidak ada satupun Keluarga Jiu yang layak untuk hidup kecuali, Jiu Rui. Tapi, seperti yang kamu katakan, hatinya sangat dingin. " Ucap Xia Xinxin dengan tenang.


"Kamu benar juga. Kalau begitu, apakah kamu bersedia untuk tunduk padanya jika kamu hidup di zaman itu ?" Tanya Hua Yin.


"Aku bersedia, aku bersedia untuk menemaninya." Jawab Xia Xinxin dengan makna ganda.


Sebagian besar diceritakan hanya tindakan garis besar tapi tidak diceritakan dengan jelas bagaimana kejahatan Keluarga Jiu, terutama kejahatan Dan Wei Yang.


Rasa sakit ketika dia melihat tubuh Huang lixin setelah dia kehilangan Ming Yue membuatnya kembali merasa sakit.


Tapi dia harus melihat ini sampai selesai dan dia menonton bagaimana Keluarga Ming Xin mulai memimpin dengan bijaksana sebelum akhirnya Dinasti Xia menjadi melemah dan bubar.


Itu bahkan setelah lewat 9 generasi, Ming Xin bisa dianggap melakukan tugasnya dengan baik dan mengajarkan didikan yang dia berikan kepada keturunannya.


Xia Xinxin tidak bisa merasa tidak puas. Berapa banyak Dinasti yang hancur hanya karena satu atau dua generasi ?


Bahkan Dinasti Jiu saja tidak selama itu dan hanya bertahan selama lima generasi, betapa menyedihkan nya. Dia bisa bertahan selama sembilan generasi bisa dianggap seperti Ming Xin yang melaksanakan tugas yang dia tinggalkan dengan baik.


Dia sendiri tahu bahwa tugas yang dia tinggalkan untuk Ming Xin pastilah tidak mudah untuk dijalankan tapi Ming Xin berhasil melakukannya. Itu semua karena dia yakin dan percaya pada kemampuan Ming Xin.


Dia tumbuh besar dijalanan sendirian dan hidup sebatang kara, suatu ketika Huang Xinxin melihatnya begitu menyedihkan dan mengingat Huang Shangyue, pada akhirnya Xia Xinxin membawanya ke Istana untuk dijadikan Kasim.


Awalnya, Huang Xinxin hanya ingin membawanya sebagai kasim agar anak yang kasihan itu memiliki tempat hidup dan makanan yang baik.


Tapi, seiring berjalannya waktu, Huang Xinxin menemukan bahwa anak ini sangat cerdas sehingga dia membawanya untuk berlatih kebajikan sebagai seorang Kaisar dan mengajarkannya banyak sekali tata cara untuk menjadi Kaisar seolah olah dia adalah Putra Mahkota.


Ming Xin bukan orang yang mudah sombong hanya dengan sedikit kemampuan, dia menganggap kata kata Huang Xinxin sebagai titah Kekaisaran maka dari itu dia akan melaksanakan apa saja yang dikatakan oleh Huang Xinxin dengan penuh rasa ikhlas bahkan jika Huang Xinxin memintanya melompat dari atas jurang.


Dengan tekad yang kuat dan hati yang jujur inilah baru bisa membuat Dinasti Xia menjadi Dinasti yang makmur.


Xia Xinxin tidak menyesal bahwa dulu dia memilih Ming Xin untuk menjadi penerusnya, dengan begini maka bisa dianggap dia membayar hutang yang dimiliki Istana pada Keluarga Ming.


Keluarga Ming meninggal secara tidak adil, semua itu karena Ming Xiu mengetahui rahasia dari Ibu Suri dan juga Jenderal Lei juga meninggal karena itu.


Seluruh Keluarga Ming mati demi Kekaisaran tapi pada saat yang sama yang memerintahkan mereka untuk mati juga adalah Kekaisaran.


Betapa menyakitkan nya itu, maka dari itu dia membuat kata-kata Huang terkubur dalam dalam bersama dengan kenangannya.


Biarlah keluarga Ming yang menguasai Dinasti alih alih memberinya nama Huang.


"Aneh, kenapa dia memberinya nama Ming Xin alih alih memberinya marga Huang ?" Tanya Hua Yin dengan bingung.


"Itu semua karena dia mengingat jasa dari Ming Yue, kekasihnya. " Jawab Xia Xinxin.


"Hm, tapi entah bagaimana ini terasa agak aneh. Tidak banyak orang yang berpikiran seperti orang ini. " Ucap Hua Yin dengan santai.


Setelah acara selesai, Xia Xinxin masih tidak tahu dengan penerus terakhir dari Dinasti Xia yang dikatakan akan hadir dalam acara festival kali ini.


Mereka semua keluar dan Xia Xinxin menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan matanya yang memerah.


"Hua Yin, aku pergi ke toilet sebentar. " Ucap Xia Xinxin dan langsung berlari ke papan dengan arah ke kiri untuk menunjukkan toilet.


Dia masuk ke dalam salah satu bilik dan mengambil tisu untuk menutupi mulutnya, dia meredam tangisannya sendiri dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sama sekali.


Air mata mengalir tanpa henti seperti anak sungai yang mengalir dengan deras, dia memegang dadanya sendiri dan merasa bahwa perasaannya bercampur aduk.


Antara rasa senang, rasa sedih dan rasa sakit yang masih dia ingat terakhir kali ketika dia memeluk Ming Yue di atas pangkuannya.


Setelah beberapa saat, dia merasa lebih tenang dengan hal ini dan menyeka airnya. Dia menenangkan ekspresinya sendiri agar tidak terlalu menunjukkan bahwa dia baru saja menangis.


Sesampainya di depan, dia membasuh wajah ya dan mengeringkannya dengan lembut dan berusaha untuk menutupi matanya yang memerah. Menurutnya, dengan begini maka dia akan menjadi lebih baik.


Hal ini pastilah tidak akan diketahui oleh orang lain. Dia berjalan keluar dan Hua Yin menunggunya di tempat yang tadi.


"Kenapa kamu agak lama ? Apakah kamu ingin beristirahat ?" Tanya Hua Yin dengan cemas.


"Tidak apa apa, santai saja. Aku baik baik saja dengan hal ini. Aku hanya sakit perut, maaf membuatmu menunggu lama. " Jawab Xia Xinxin terkekeh pelan.


"Baik, baik, tidak masalah. Ayo lihat, aku mendengar bahwa disana ada banyak sekali lukisan lukisan yang ditinggalkan dari Dinasti Xia. Aku mendengar bahwa itu adalah Dinasti dengan lukisan paling banyak. " Ucap Hua Yin menarik tangannya dengan antusias.


Xia Xinxin melirik ke arah lukisan lukisan ini dan tidak ada satupun lukisan yang bisa dikenali olehnya. Sampai akhirnya Xia Xinxin melirik ke sebuah lukisan yang paling besar dengan gambar seorang wanita yang membelakangi lukisan.