
Pertama kalinya dalam hidup Daren bersujud pada seseorang apa lagi pada musuhnya sendiri. Itu semua dia lakukan demi istri dan juga calon anaknya.
"Kak jangan." bujuk Fany, dia tidak tega melihat Daren bersujud hanya demi dirinya.
"Aku nggak papa." jawab Daren tanpa mengalihkan tatapannya dari Andra takut-takut pria itu menarik pelatuk pistolnya.
Daren mengamati sekitar, belum ada tanda-tanda Deon dan para anak buahnya datang, dia harus mengulur waktu sebentar lagi.
"Mau lo apa, hm!" tanya Daren penuh tekanan.
Andra menyeringai. "Mau gue?" tunjuknya pada diri sendiri. "Gue pengen liat lo hancur karena kehilangan seseorang yang sangat lo sayangi, seperti apa yang lo lakuin sama gue!"
"Gue nggak pernah ganggu lo ban*sat!" geram Daren.
"Slow, jangan ngegas gitu dong, gue belum apa-apain istri lo, cuma tamparan beberapa kali saja!"
Tangan Daren tekepal, namun sekarang dia tidak berdaya, jika dia bangkit dari sujudnya kemudian menyerang Andra, itu tidak akan berhasil, karena sebelum dia sampai peluru itu akan meluncur ke tubuh Fany.
"Lo bilang nggak pernah ngusik hidup gue? cuih!" Andra meludah kesamping. "Lo udah bunuh adik gue bangsat!" amarah terpancar jelas di mata Andra
Tubuh Fany menegang mendegar pernyataan Andra, kenyataan apa yang baru saja dia dengar, ayah dari anaknya pembunuh?
Dia menatap Daren dengan tatapan yang sulit di artikan. "Pembunuh?" beo Fany berhasil mengalihkan perhatian Daren.
Daren mengeleng. "Aku bukan pembunuh, percaya sama aku, bahkan kenal adiknya pun tidak. " Jelas Daren saat melihat tatapan kecewa Fany.
"Lalu apa jika bukan pembunuh?" suara Andra mengintrupsi.
"Gue bukan pembunuh bren*sek, kenal adik lo saja gue nggak pernah!" geram Daren.
"Lo nggak kenal adik gue, tapi lo pasti kenal Andara model terkenal yang tiba-tiba menghilang setelah acara tahunan perusahaan Andra Jaya Grup!" mata Andra memerah.
"Andara?" beo Daren berusaha mengingat nama seseorang. Ya setelah acara tahunan Andra Jaya Grup, model itu tidak pernah terlihat lagi, tapi apa hubungannya dengan dirinya.
"Ya Andara, Gadis cantik yang menghampiri lo di atas panggung dan menyatakan perasaannya. Tapi yang lo lakukan malah membunuhnya!"
Sekarang Daren ingat, gadis mana yang di masuk Andra, gadis yang dengan beraninya mengungkapkan perasaan padanya di tengah keramaian. Tapi Daren tidak membunuhya dia hanya menolak gadis itu tepat di hadapan semua orang.
"Gue nggak bunuh dia bren*sek!" Geram Daren, dia tidak terima jika di tuduh pembunuh dan sekarang pria di hadapannya malah mempertaruhkan nyawa Fany.
"Lo yang bunuh dia, jika saja malam itu lo terima adik gue dan tidak mempermalukannya di depan umum, dia nggak bakal menyakiti dirinya sendiri dan harus koma berbulan-bulan di rumah sakit hingga meninggal beberapa bulan yang lalu!"
Brak
Andra menendang kursi di sampingnya.
"Gue ngaku salah karena mempermalukan dia, tapi tidak dengan membunuhnya. Dan sekarang masalah lo sama gue. Gue mohon bebasin Fany" Mohon Daren. "Atau bahkan lo mau bunuh gue, gue pasrah tapi sebelum itu lepasin Fany."
"Kak." lirih Fany dengan air mata berderai, dia tidak sanggu jika harus kehilangan Daren.
"Nggak papa."
"Gua nggak butuh nyawa lo, yang gue mau, liat lo segsara dengan kehilangan orang yang lu sayang, Lo harus rasain bagaimana sakitnya kehilangan seseorang seperti apa yang gue rasakan. Dan kandidat paling tetap adalah dia." Andra kembali menodongkan pistol kearah Fany.
Dor...dor!!
"Jangan!"
"Kak!"
"Daren!"
Tubuh Daren terkulai lemas dalam pelukan Fany, berbarengan dengan datangnya Deon dan para pengawal.
"Tangkap Dia, jangan biarkan di lolos!" perintah Deon.
"Ah sial, kenapa lo yang harus kena ban*sat, gue nggak mau lo mati segampang itu!" teriak Andra.
Melihat Daren terkulai lemas dengan darah di sekitar dadanya, membuat hatinya sangat sakit.
Deon ikut duduk si sebelah kiri Daren setelah menelfon ambulance.
Fany mengusap keringat dingin di pelipis Daren. "Aku mohon bertahan kak, jangan tutup mata kakak." Air mata Fany membasahi pipi Daren.
Dengan tangan gemetar dan nafas tersengal-sengal Daren memegang pipi Fany, menghapus air mata yang mengalir tanpa henti di membasahi pipi cubi itu.
"Ak...aku ngg-ak papa." ucap Daren terbata-bata menahan sakit di sekujur tubuhnya apa lagi di bagian dada di mana peluru menembus masuk di sana.
"Jangan nangis sayangnya Daren." ucapnya hampir tak terdengar.
Fany memegang tangan Daren yang menempel di pipinya. "Fany nggak nangis, Fany yakin kak Daren kuat." ujar Fany menahan isakannya.
"Kak Daren nggak bakal ninggalin aku kan?"
"Jangan rindu ya, jaga anak kita." ujar Daren berusaha agar tetap terjaga.
Dia menatap Deon sebentar. "Bantu gue jagain Fany dan anak gue ya bro, gue percaya sama lo."
"Gue nggak mau jagain mereka, itu tanggung jawab lo jadi jangan kemana-mana." ujar Deon tanpa menatap Daren, dia tidak ingin Daren melihatnya menangis.
Daren tertawa kecil walau itu membuat dadanya semakin nyeri. "Lo nangis yon? banci lo yon." ledek Daren, sekali-kali menutup matanya karena sakit yang dia rasakan.
"Udah jangan ngomong terus, darah kakak semakin banyak." isak Fany, setiap Daren bicara darah semakin mengalir di dadanya.
"Aku cinta sama kamu Fany Palwinta, aku sayang sama kamu istriku, jangan rindu ya. Jangan nakal atau ceroboh, karena nggak bakal ada lagi yang negur kamu nanti" ujarnya sekali lagi menahan nafas saat rasa sakit mengerogoti tubuhnya.
"Nggak!" Fany mengeleng menghapus air matanya kasar. "Kak Daren nggak bakal kemana-mana, kak Daren nggak bakal ninggalin aku. Iya kan kak."
"Jangan nangis sayang, hati aku sakit liat kamu nangis, ikhlaskan aku pergi ya. Maaf."
Uhuk...uhuk...uhuk
Daren kembali terbatuk kali ini batuknya mengeluarkan darah. "Aku pergi." lirihnya sebelum matanya tertutup sempurna
Fany mengeleng, air matanya kembali berderai. "Kakkkkkkkk." teriak Fany memeluk tubuh Daren dengan erat. "Buka mata kakak, jangan tinggalin aku, aku janji nggak bakal ngebantah kak Daren. Kak Daren mau dengar aku bilang cinta kan sama kakak? bukan mata kakak, aku akan bilang sekarang!"
"Daren Danuwinarta, aku mencintaimu!"
"Yon tubuh kak Daren dingin, Yon. Kak Daren kedinginan, ambilin kak Daren selimut Yon." tangis Fany, mencium seluruh wajah Daren yang pucat.
Deon tak menyahut dia juga sangat terpukul melihat Daren tak berdaya dan berlumuran darah. Hanya Daren yang menggapnya ada saat semua orang memandangnya berbeda.
"Udah bercandanya kak, bercanda kakak nggak lucu. Kak bangun! siapa yang bakal marahin Fany kalau salah, siapa yang bakal jagain Fany kalau sakit. Hiks."
"Akkkhh." Rintih Fany saat merasakan sakit di bagian perutnya.
"Mana ambulance nya bren*sek!!" teriak Deon pada anak buahnya.
"Mereka baru saja tiba pak."
"Cepat angkat Pak Daren!" perintahnya.
Deon buru-buru mengendong Fany, saat melihat darah mengalir keluar membasahi dress putih wanita itu.
...TBC...
...****************...
Ada yang ikut mewek pas part ini?
Apa author aja yang kebawa suasana sampai nangis sambil nulis. Heheh mungkin karena author pernah ada di posisi Fany, eh malah curhat.
Jangan lupa ramain kolom komentar ya.