
...Orang yang paling mencintaimu di dunia ini, hanyalah dirimu sendiri....
...-Sky Castle-...
Brak !!!
Pintu kamar terhepas begitu keras, menampilankan sosok pria berbadan tegap tegah menatap nyalang wanita di dalam sana.
Sontak Fany menoleh dan mendapati Daren tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Sangat tajam baru kali dia melihatnya. Apa gerangan yang membuat suaminya begitu marah pagi-pagi seperti ini.
Pletak
Daren melempar botol kecil kehadapan Fany. "Lo mau bunuh anak gue!" bentak Daren, matanya memerah menahan amarah.
Dengan tangan gemetar, Fany menunduk mengambil botol pil di dekat kakinya. Deg, Fany sungguh takut melihat botol pil itu, botol pil yang selama ini dia sembunyikan dari Daren akhirnya di temukan juga.
"Ma..maf." cicit Fany, tubuhnya bergetar menahan tangis.
"Lo tau obat apa yang lo konsumsi sekarang! Itu bisa membahayakan nyawa anak gue!" masih dengan amarahnya, tanpa sadar setitik air mata membasahi pipi Daren.
"Ma-af, aku nggak tahu itu bisa membahayakan anak kita." Tangis Fany pecah menyesali semua perbuatannya. Dia akui di salah. "Tapi aku nggak bisa tidur tanpa mengonsumsi pil tidur itu."
"Alah alasan! bilang saja lo mau bunuh anak gue!" Daren mendekat mencengkram kedua lengan Fany.
"CUKUP!!" teriak Fany menghempaskan cekalan Daren.
"Gue tau gue salah, tapi gue juga seorang ibu, nggak mungkin gue bunuh darah dangin gue sendiri. Gue juga terpaksa melakukan itu semua, hanya pil itu yang bisa buat gue tenang, walau hanya sesaat. Ini semua gara-gara lo!!" tekan Fany menujuk-nujuk dada Daren kasar.
"Lo yang buat gue jadi seperti ini, lo kira selama ini perlakuan lo nggak buat gue sakit hah!" Fany menepuk-nepuk dadanya. "Sakit, sakit banget. Sakit melihat lo beruah dingin, sakit lihat lo ciuman dengan wanita lain di luar sana di banding nemenin gue di rumah yang tengah ketakutan."
"Lo nuduh gue selingkuh tanpa ada bukti, tapi lo sendiri ngelakuin itu di belakang gue!" teriak Fany.
Fany senyum sinis. "Ternyata tebakan gue benar ya . Berapa lama kamu akan mencintaiku ? 1 bulan, 1 tahun? Bahkan sekarang belum genap satu tahun lo mencintai gue lo udah berpaling ke lain hati dan berlaku kasar sama gue. Mana janji lo yang Katanya cinta lo nggak ada habisnya bahkan sampai maut memisahkan kita!"
"Kalau lo bosan sama gue bilang! jangan nyakitin gue gini."
"Fany." tegur Daren.
"Diam!!"
"Biarkan gue bicara."
"Mungkin ini semua akhir dari kisah kita. Dari awal memang kita udah nggak ada ke cocokan, kita selalu berbeda pendapat tentang sesuatu, kalaupun ia sama, pasti salah satunya mengalah atau bertengkar dulu."
Fany menghapus air matanya kasar, berlutut di hadapan Daren walau sulit karena perutnya besar. Menyatukan telapak tangannya.
"Daren Danuwinarta, gue mohon sama lo, tolong jangan siksa gue kayak gini, lepasin gue, biarkan gue cari kebahagian gue sendiri." Fany menarik nafas dalam-dalam. "Gue mohon, ceraikan gue! dengan begitu lo bisa hidup dengan wanita yang lo cintai." mohon Fany.
Walau berat hati bercerai dengan Daren. Tapi itu adalah satu-satunya jalan agar dia tidak semakin sakit, melihat Daren dengan wanita lain.
Fany bangkit dari sujudnya dengan susah payah. menatap wajah kelewat datar Daren. Melangkah menuju lemari, mengeluarkan koper dan mengisinya dengan kebutuhan yang dia perlukan. Dia hanya membawa apa yang dia bawa ke apartemen ini dulu. Dia tidak mengambil barang yang bukan miliknya.
Saat akan membuka pintu, dia menyempatkan menoleh. Menatap Daren yang belum bergeming di tempatnya. "Maaf gue nggak bisa nepatin janji gue untuk nggak ninggalin lo." ujarnya.
"Ah satu lagi, maaf juga karena nggak bisa nepatin janji, untuk tidak membenci lo." Fany tersenyum tipis lalu keluar dari kamar yang mungkin tidak pernah dia masuki lagi seumur hidupnya.
Bisa-bisanya Fany tersenyum padahal dirinya begitu rapuh. Bahkan lapar dalam perutnya ia biarkan begitu saja. Rencananya untuk sarapan bersama untuk terakhir kalinya gagal akibat kemarahan Daren pagi-pagi.
***
Fany menghembuskan nafas, memandangi rumah sederhana sudah lama tak dihuni. Rumah yang membawanya masuk kedalam kehidupan seorang Daren.
Langkah demi langkah Fany memasuki rumah tua itu, tidak seburuk dia bayangkan, ternyata rumah ini bersih masih lengkap dengan perabotnya walau tak selengkap di rumah Daren. Bisa di pastikan semua ini ulah Nathan, mengingat dia sering nginep di sini. Dan Fany bersyukur kali ini, karena Nathan tidak pulang kerumah.
Fany merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang tidak terlalu besar setelah sampai di dalam kamarnya, mencoba memejamkan matanya, tapi sulit, laparnya lebih mendomonasi.
"Anak mami lapar ya, sabar ya sayang, mami istirahat sebentar, mami lelah." Fany mengelus perutnya.
"Maafin mami ya, kalau buat kamu tersiksa di dalam sana akibat kecerobohan mami. Maafin mami juga karena ngejauhin kamu sama papi. Mami takut kalau dekat-dekat papi bakalan nyakitin kamu karena stres." tak terasa air mata kembali membahi pipi cubi Faby. Dia akui selama hamil dia menjadi sangat cengeng.
"Tapi jangan benci papi kamu ya sayang, dia baik, cuma sekarang lagi kumat aja. Cukup mami aja yang benci sama dia, dedek nggak boleh ikut-ikutan."
Fany kembali tersenyum saat merasakan tendangan pada perutnya, walau itu terasa sakit namun membuatnya bahagia. Seandainya Daren bisa merasakan itu pasti dia juga sangat bahagia. Ah jangankan merasakan menyentuhnya saja engang.
"Lapar banget ya sayang? ya udah ya mami telfon auntie Kirana buat beli makan, sekalian nemenin mami di rumah."
Tanpa menunggu lama Fany menelfon Kirana, tidak butuh waktu lama gadis itu menjawab telfonnya.
"Assalamualaikum Ran."
".........."
"Lo sibuk nggak?"
"........"
"Temenin gue di rumah ya, sekalian beliin gue makan sama bahan-bahan dapur."
"........"
"Bukan gue nggak tinggal di rumah kak Daren lagi, nanti gue kirim alamatnya."
"........"
"Ok."
***
Selang beberapa menit, akhirnya Kirana datang juga membawa beberapa bahan masakan, dan juga makanan siap lahap.
Selesai makan kini keduanya berbincang-bincang di ruang tamu.
"Lo bertengkar sama kak Daren?" selidik Kirana.
"Nggak, cuma kangen rumah aja." kilah Fany, dia belum siap menceritakan masalah rumah tangannya pada siapapun.
"Serius?"
"Iya Ran."
Kirana menepuk pundak Fany. "Gue tahu lo punya masalah, gua nggak maksa kok buat lo ceritain. Tapi kalau lo udah siap, gue siap jadi pendegar yang baik."
"Makasih ya Ran." Fany memaksakan senyumnya.
"Gue pamit ya, ada urusan soalnya." Pamit Kirana.
Fany mengantar Kirana sampai di depan pintu, setelah di rasa Kirana sudah menghilang dari pandangannya, dia kembali menutup pintu.
"Dari yang gue lihat mereka bertengkar, sekarang dia ada di rumahnya dulu."
"........"
"Gue siap kapan saja."
...TBC...
...****************...
Ramein kolom komentar ya, author lagi nggak mood, siapa tau komentar kalian bisa buat mood author balik lagi😁😊