
...Orang yang terlihat lemah, belum tentu lemah, mungkin saja di diam hanya untuk menghindari masalah. Namun tak selamanya mereka akan terus diam jika seseorang mengusik hidup dan ketenangannya....
...@Fany Palwinta...
Hah
Seorang gadis menghela nafas kasar setelah menemukan siapa pemilik akun asli itu.
"Gue nggak nyangka dia akan melakukan ini." ucap Kirana.
"Jadi benar pelakunya Nara?" tanya Rina tak percaya.
Fany senyum kecut. "Sudah gue duga."
"Jadi gimana rencana kalian?" tanya Wirawan.
Sontak semua teman-teman Fany menatapnya, meminta arahan dari gadis itu.
"Ran telfon dia, suruh kesini tanpa curiga sedikit pun." perintah Fany. Entah rencana apa lagi yang akan di lakukan gadis itu.
Ia sudah sangat geram dengan kelakuan wanita ular itu.
Kirana mengangukkan kepalanya. Ia segera menelfon Nara.
" Assalamualaikum lo dimana?" tanya Kirana setelah panggilan terhubung.
"......"
"Lo bisa nggak masuk sekarang, kita kewalahan melayani pelangan." pinta Kirana memelas.
"....."
"Lah, Fany kan nggak pernah masuk lagi setelah masalah itu, dan hanya lo satu-satunya yang kita harapin." Gila, Kirana jijik dengan perkatannya sendiri, ingin rasanya ia menampar wanita ular itu.
"......"
"Ok gue tunggu."
Tut
Kirana memutuskan sambungan telfonnya begitu saja. Senyuman terbit begitu saja di bibirnya, ia mengacungkan jempolnya. "Beres." ucapnya girang.
***
Nara sedari tadi menyunginkan senyumnya, ia merasa sangat bahagia karena kehadirannya begitu di harapkann dibutik.
Namun senyumnya tak bertahan lama, saat mendapati Fany dan juga orang suruhanya tengah berdiri di tengah-tengah teman-temannya.
Ingin kabur? sudah terlambat, pintu sudah di kunci oleh Rina, mau tidak mau, dirinya harus menghadapi Fany. Toh dia juga tidak takut, pada gadis lemah seperti Fany.
"Kemana aja lo selama ini, nggak masuk kerja?" tuding Kirana.
"Gue sibuk." jawab Nara, berjalan mendekat.
"Sibuk ngerecokin hidup orang lain ia?" sindir Rina.
"Maksud lo apaan sih Rin, lo kan tahu sendiri belakangan ini gue ikut casting." Nara berusaha bersikap santai.
Wirawan bedecih, merasa muak dengan sikap karyawanya itu. "Lo kenal dengan pria ini?" pria itu menendang kursi pemuda itu hingga maju mendekat ke arah Nara.
"Kenal? ya kali gue kenal sama gembel seperti dia." tunjuk Nara pada pemuda itu dengan senyuman angkuhnya.
"Bren*sek lo!" maki pemuda itu, ia tidak terima seseorang mengatainya gembel. "Lo yang nyuruh gue dan menjanjikan uang, dan sekarang lo pura-pura nggak kenal gue ia? Cih dasar wanita ja*ang!" teriaknya.
Fany tertawa kecil menyaksikan drama Nara. Gadis itu berjalan mendekat ke arah Nara. "Nggak usah sok drama lo, gue punya chat lo dengan dia."
Nara senyum mengejek. "Lo buta huruf atau gimana? jelas-jelas itu bukan akun gue." elaknya.
Tawa Fany pecah, menepuk-nepuk pundak Nara. "Permainan lo kurang mulus sayang, Lo belum lihai dalam memalsukan akun. Lain kali belajar sama ahlinya." ucapnya.
"Mau lo apa sebenarnya hah!" bentak Nara, lepas sudah emosi yang sedari tadi di tahannya.
"Ck, yang harusnya bertanya itu gue. SEBENARNYA MAU LO APA!!!"
"Lo mau hancurin karir kak Daren? atau mau hancurin hubungan gue ia? nggak segampang itu bambang."
"Gue nggak suka lo bahagia Fan!" ucap Nara dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Kenapa? gue salah apa sama lo?"
"Lo udah ngambil orang yang gua cinta Fan, lo udah ngerebut kak Daren dari gue!" teriaknya.
"Lo bukan cinta sama dia, lo itu hanya terobsesi!"
"Hah, ngaca lo, ngaca! lo itu nggak pantas sama Daren, lo itu hanya anak yatim piatu dan dari keluar kurang mampu!" hina Nara.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Nara, dan pelakunya tak lain adalah Fany.
"Gila lo Nar, gue nggak nyangka sama lo, sehat itu lo sama Fany." tuding Kirana.
Nara memegang pipinya yang memanas akibat tamparan Fany, ia menghiraukan perkataan Kirana dan menatap tajam ke arah Fany.
Plak
Nara manampar balik Fany, tanpa Fany bisa mencegahnya.
Fany senyum sinis, tamparan itu tak sebanding sakit hatinya saat Nara menghinya dan juga hinaan para orang di luar sana.
"Gua nggak akan minta lo minta maaf sama gue, gue hanya minta lo klarifikasi masalah ini, dan mengatakan bahwa semua yang lo katakan itu bohong!" perintah Fany.
"Nggak akan." tolak Nara.
"Gue tunggu klarifikasi lo malam ini, gue kasih lo waktu sampai jam sepuluh malam. Kalau lo nggak bertindak juga, gue akan laporin lo dengan tuduhan pencemaran nama baik. Dan tentu saja itu bisa memengaruhi karir lo dalam bidang hiburan." ancam Fany.
***
Jam sudah menunjukkan jam sebelas lewat sepuluh menit, namun suaminya belum juga pulang. Gadis itu tidak bisa duduk dengan tenang, Ia sangat khawatir dengan suaminya.
"Kamu kemana sih kak." gumam Fany.
Berkali-kali gadis itu menghubungi suaminya, namun ponsel suaminya tidak aktif dan berada di luar jangkauan.
Ceklek
Fany menolehkan kepalanya saat mendengar suara pintu terbuka. Tak lama kemudian munculah seorang pria dengan rahang tegas berjalan ke arahnya.
Fany bernafas lega saat melihat suaminya sudah ada di hadapannya. Ia menghampiri pria itu mencium pungung tangannya.
"Akhirnya kak Daren pulang juga." ucapnya.
Cup
Daren mencium kening istrinya. "Maaf ya membuatmu khawatir." ucapnya.
Fany menganggukkan kepalanya. "Kak Daren udah makan?"
"Kamu belum makan?" bukannya menjawab Daren malah melayangkan pertanyaan.
Fany menggelengkan kepalanya.
Daren tersenyum dan mengamit pinggang ramping istrinya. "Ya udah kita makan malam bareng aja, kebetulan aku juga belum makan." ajaknya.
Daren terus memperhatikan Fany yang tengah menyantap makanannya.
"Ck, lapar amat ya, sampai-sampai rambutnya aja ikut di makan." gerutu Daren sembari menyelipkan anak rambut Fany kebelakang telingannya, menguncirnya ala ekor kuda.
"Kan gini cantik." pujinya.
"Emang aku cantik." ucap Fany peda.
"Nyesel aku puji kamu." ucap Daren melanjutkan makannya.
Fany tertawa kecil.
***
Setelah makan malam, keduanya memutuskan untuk istirahat di dalam kamar, lagian sudah jam dua belas malam.
Ceklek
Daren keluar dari kamar mandi menggunakan pakainan santainya.
"Belum tidur?" tanya Daren dan hanya di jawab angukan oleh Fany.
Daren ikut duduk di samping istrinya yang tengah bersandar di kepala dipan.
"Sini!" panggil Daren menepuk-nepuk dadanya.
Dengan ragu Fany mendekat dan menyadarkan kepanya di dada bidang suaminya.
Daren memainkan rambut Fany dan sekali-kali menciumnya, aroma Vanila dari rambut dan tubuh istrinya sudah menjadi candu baginya.
Gadis itu mendongak menatap wajah tampan suaminya. "Kok ponsel kak Daren tadi nggak aktif?" tanyanya.
"Sengaja aku matiin pas rapat tadi, maaf ya." ucapnya.
"Gimana rapatnya?"
"Berjalan dengan lancar semuanya sudah selesai, lagian Nara juga sudah klarifikasi." jawab Daren, terus menatap wajah cantik istrinya.
"Ih jangan natap aku kayak gitu, aku malu kak." Fany salah tingkah dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Tunggu? itu pipi kamu kenapa, hmm?" Daren mengelus lembut pipi Fany yang sedikit memerah.
Fany gelagapan sendiri. "Eh ini, anu, aku... nggak sengaja garuk tadi." kilahnya.
"Lo nggak pintar bohong, kamu di tampar siapa, hmm?" tanya Daren saat melihat bekas tangan di pipi mulus istrinya.
"Nara." lirih Fany.
Gadis itu kembali mentap wajah suaminya, mengelus lembut rahang tegas suaminya saat di rasa pria itu tengah menahan emosi. "Udah nggak usah di pikiran, udah nggak sakit juga." ucapnya.
"Tapi..."
"Kita tidur aja yuk kak, aku udah ngantuk." ajak Fany.
Cup
Daren mengecup bibir Fany sekilas.
"Kak!"
"Good night sayang." bisik Daren di telinga Fany.
Bang Darennya siap bobo😊
-
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Hy authotr hadir lagi, beri semangat author, dengan cara ramaikan di kolom komentar, dan juga vote dan hadiah kalian. Hhahaha maksa kali kau thor😁
...SELAMAT MEMBACA !!!...