My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 21


"Assalamualaikum." ucap Elina memecah keheningan di meja makan.


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh." ucap mereka bertiga serempak.


Daren bangkit dari duduknya setelah mengetahui kedatangan Elina. "Gue udah selesai." ucapnya menghampiri Elina di ruang tamu.


Fany dan Nathan juga ikut bergabung dengan Elina dan Daren. "Nga mau makan dulu kak." tawarnya pada Elina.


"Aku sudah makan tadi." jawab Elina dengan senyumnya.


"Oh iya kak, perkenalkan ini Nathan adik aku." Fany memperkenalkan adiknya pada Elina.


"Nathan." ucapnya tanpa mengulurkan tangannya dan malah menyatukannya di depan dada, namun tatapannya penuh selidik melihat wanita seksi begitu akrab dengan kakak iparnya.


"Elina, manajernya Daren." Elina yang mengerti bahwa Nathan menghindari kontak langsung dengan lawan jenisnya, hanya mengikuti cara menyapa pria itu dengan menyatukan tanganya di depan dada persis seperti apa yang di lakukan pria itu, dan langsung menjelaskan posisinya saat menyadari tatapan menyelidik pria itu padanya.


"Kak bisa kita bicara sebentar !" pinta Nathan menarik kakaknya menjauh dari Daren dan Elina.


"Kak aku tinggal dulu ya." pamit Fany dan mengikuti adiknya yang menariknya entah kemana.


"Kak siapa wanita itu?" tanya Nathan dengan raut wajah tidak suka.


"Lu kan sudah dengar tadi, kak Elina itu manajernya kak Daren." Fany asal menjawab sembari membereskan bekas makan malam mereka.


Nathan mengaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Bagaimana kakaknya biasa saja melihat suaminya dengan wanita yang lumayan cantik dan juga seksi. Pria itu saja sebagai adik ipar tidak suka, masa ia Fany sebagai istrinya biasa aja.


"Emang kak Fany nga cemburu ngeliat kak Daren dekat dengan wanita? lihat wanita itu sangat cantik dan juga seksi, laki-laki mana yang tidak terpesona melihatnya." kesal Nathan memperhatikan interaksi kakak iparnya dengan Elina begitu dekat.


"Nga tuh, gue percaya sama kak Daren, dia nga akan tergoda." kilah Fany yang nyatanya sudah mengetahui bahwa suaminya mencintai manajernya, dan tidak ada rasa sakit yang ia rasakan. Bahkan ia merasa senang, dengan pria itu mencintai wanita lain, itu artinya tidak ada waktu bagi Daren untuk mengurusi hidupnya.


Nathan membuang nafas kasar. "Nga usah percaya diri gitu deh kak, jika di bandingkan dengan kak Elina, kak Fany itu tidak ada apa-apanya." ucapnya sangat kesal bahkan kini ia mulai membandingkan kakaknya dengan Elina, walau itu memang benar adanya.


"Lah, memang siapa yang bilang gue lebih cantik dari kak Elina? " Fany berhasil membuat Nathan sangat kesal.


Dengan sigap Nathan menarik tangan Fany menuju lantai dua dimana kamar Daren berada. "Sekarang masuklah kekamar, ganti baju kak Fany dan berdanda secantik mungkin !" perintahnya mendorong tubuh kakaknya masuk kedalam kamar Daren.


Fany menatap heran dengan sikap Nathan, Ia tidak mengerti kenapa pria itu menyuruhnya ganti baju padahal dia baru saja ganti baju. Dan lebih parahnya lagi, bagaimana dia bisa ganti baju jika Nathan terus mendorongnya masuk kedalam kamar Daren, sementara semua pakainnya ada di kamar sebelah di mana kamarnya berada.


"Ngapain gue ganti baju?" tanya Fany belum mengerti maksud Nathan.


"Nga apa-apa cepat ganti baju." Nathan kembali mendorong tubuh kakaknya masuk kedalam kamar Daren, namun gadis itu tetap bertahan di depan pintu enggan masuk ke dalam kamar singa.


"Ta...tapi.."


"Nga ada tapi-tapian." potong Nathan.


Gadis itu terpaksa menuruti perintah Nathan, Ia menutup pintu kamar dan menyender di balik pintu mengigit jari telunjuknya. Memikirkan apa yang harus di lakukannya di dalam kamar suaminya.


"Sudahlah ngapain juga gue ngikutin perintah bocah itu." gerutu Fany kembali membuka pintu mengintip berharap Nathan sudah tidak ada di depan kamar Daren.


Baru saja akan melangkah keluar, suara bariton mengagetkannya. "Kak Fany belum ganti baju juga." Gerutu Nathan kembali mendorong kakaknya masuk kedalam kamar.


Fany cengegesan dan kembali menutup pintu, berfikir keras apa yang harus di pakainya di dalam kamar suaminya. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju lemari suaminya mencari pakaian yang cocok untuknya.


Fany mengacak-acak rambutnya merasa pusing dengan perintah adiknya. "Ngapain gue harus pusing-pusing, kan cuma di suruh ganti baju." gumamnya. Gadis itu menyeringai dan mengambil kemeja putih suaminya di dalam lemarinya. Ia memakai kemeja putih pria arogan itu yang sedikit kebesaran di tubuhnya.


Nathan memperhatikan Fany dari ujuang rambut sampai ujung kaki. Nathan geleng-geleng kepala melihat penampilan kakaknya yang tidak ada anggun-anggunnya sama sekali. Mana ada wanita anggung memakai kemeja kebesaran dengan celana jeans hitam, yang ada penampilannya amburadul.


"Baju apa yang kak Fany pakai ?" tanya Nathan.


"Ini....


Belum sempat Fany menjawab terdengar suara teriakan dari bawah. "Ngapain di situ? sini gabung sama kita !" panggil Elina setelah membicarakan tentang pekerjaan pada Daren. Walau pria itu sempat kesal padanya yang kembali memaksanya mengadakan pemotretan minggu depan untuk sampul album barunya yang akan rilis.


"Sudah kuduga permintaan maafmu ada maksud tertentu." sindir Daren setelah mengetahui niat terselubung Elina memberikannya sebuah sepatu.


"Sepertinya mood lu sedang buruk, ada apa ?" Elina tak mengubris perkataan Daren, dan malah melayangkan pertanyaan saat melihat Daren sedari tadi terlihat kusut seperti baju belum di setrika.


"Gue nga suka ada adik Fany di rumah ini." jujur Daren pada wanita yang di cintainya.


"Lah kenapa? diakan adik ipar kamu? dan sepertinya dia orang baik." jawab Elina membuat pria itu semakin kesal.


"Gue udah cape harus akting di luar rumah, masa gue juga harus akting di dalam rumah, kapan gue istilahnya coba." keluh Daren. Ia tidak sanggup lagi jika harus berlama-lama akting di depan Nathan, baginya rumah adalah tempat ternyaman untuk menjadi diri sendiri tanpa orang lain ketahui. Namun dengan kehadiran Nathan di rumahnya membuatnya tidak nyaman.


"Oke nanti gue yang urus." Elina menyanggupi permintaan Daren yang secara tidak langsung menyuruhnya untuk menyingkirkan Nathan dari rumahnya.


"Kenapa kak?" tanya Fany yang baru saja datang dengan Nathan, untung saja pembicaraan mereka sudah selesai, jadi gadis itu tidak sempat mendengarnya.


"Gue mau ngomongin tentang pemotretan Daren minggu depan, agensi meminta kamu turut serta dalam pemotretan sebagai istrinya. Anggap saja sebagai foto prewedding kalian, so kalian nga sempat foto prewedding kan ?" jelas Elina.


"Tapi kak...." Fany melirik suaminya, takut pria itu tidak setuju dengan permintaan Elina, bagaimanapun itu adalah urusan Daren, dan tentu saja Fany menunggu persetujuannya dulu.


"Kenapa harus berdua? gue kan bisa sendiri." ketus Daren.


"Itu permintaan angensi jadi menurutlah !" perintah Elina tak terbantahkan.


Entah sudah keberapa kalinya Daren menuruti semua perkataan manajernya. Selama menjadi idol, pria itu merasa hidupnya di dikte oleh wanita di sampingnya, namun ia tak mampu menolak karena rasa cintanya yang begitu besar pada wanita itu.


"Fiks nih manusia arogan bucin akut pada kak Elina, buktinya saja dia menjadi kucing di depan kak Elian, namun jika bersama denganku dia menjadi singa yang menyebalkan." Fany membatin.


"Wah sepertinya seru tuh, sesi fotonya." ucap Nathan antusias, tanpa mempedulikan raut wajah kesal kakak iparnya.


-


-


-


-


-


TBC


Terima kasih para Readers karena bersedia mengikuti cerita author.


jangan lupa meninggalkan jejak dengan cara like, komen, dan votenya. Oh iya jangan lupa tambahkan sebagai cerita favorit para readers agar mendapatkan notifikasi setiap up.


Komentar dan Vote kalian adalah semangatku😊🥰😁🙏