
...Aku tidak berjanji akan selalu ada untukmu, namun aku akan selalu berusaha untuk selalu ada dan membahagiakanmu. Bukan lepas dari tanggung jawab, hanya saja janji itu harus di tepati, dan aku takut nggak bisa menapati janji itu. ...
...@Daren Danuwinarta...
Daren terus mengelus lembut lengan Fany, dan sekali-kali mencium. puncuk kepala wanita itu.
"Mau tidur atau lanjut baca lagi?"
Fany mendongak. "Kakak udah ngantuk ya?"
Daren tersenyum dan mengelengkan kepalanya. "Belum, kamu mau apa, hmmm?"
"Mau ituππ." malu Fany.
"Mau apa, Hmm. Bilang aja."
"Mau itu, ah aku malu." Fany menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Nggak usah malu, sama suami sendiri juga."
Cup
Setelah mencium bibir Daren, secepat kilat Fany menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suamianya, malu? tentu saja, malam ini ia terlalu agresif.
Daren diam mematung mendapat serangan tiba-tiba dari istri kecilnya, tidak nyangka aja gitu Fany akan memulai lebih dahulu. Senyum terbit di sudut bibi Daren.
"Yaudah ayo." Mengerti arti keinginan Fany.
"Love you my wife." bisik Daren di telinga Fany.
Diam, itulah yang di lakukan Fany, perutnya terasa di gelitik beribu kupu-kupu mendengar bisikan Daren yang begitu indah mengalung di telinganya.
Fany mendongak mencoba membalas tatapan teduh Daren yang begitu nyaman. "Love you my king." lirihnya.
"My king?" Daren menaikan alisnya.
"Iya My King. Seseorang yang sangat penting dalam hidupku layaknya seorang raja, dan pemimpin rumah tangga yang akan selalu aku hormati." jawab Fany yang mampu membuat detak jantung Daren bedetak tak semestinya.
"Ih kak Daren bisa baper juga." ledek Fany saat melihat rona wajah suaminya sedikit memerah.
"Ah biasa aja." elak Daren.
Daren menangkup kedua pipi Fany gemas. "Udah pandai gombal ya kamu, belajar dari mana, hmm?"
"Belajar sama mbak Google." cengir Fany. "Kerenkan aku." bangganya.
"Hmmm, sekarang kamu harus tanggung jawab buat anak orang baper."
"Siapa takut." tantang Fany melingkarkan tangannya di leher Daren.
"Malam ini aku nggak akan mengampunimu." bisik Daren dan mendorong tubuh Fany lalu menindihnya.
" It's okay."
***
Seperti rencana mereka semalam kini keduanya mengunjungi makam ibu Fany.
Ya setelah sarapan mereka langsung berangkat, karena besok harus pulang , berhubung Daren ada jadwal pemotretan di jakarta.
Fany berjongkok di samping makam ibunya di ikuti Daren di sampingnya. Gadis itu terus mengusap batu nisan sang ibu yang selama ini ia tunggu kehadirannya, ternyata telah pergi untuk selamanya tanpa sempat bertemu.
"Ibu maafin Fany ya sempat benci sama ibu, Fany sempat zeuson pada ibu, bahwa ibu nggak sayang sama Fany makanya ninggalin aku. Seperti yang ibu lihat, sekarang Fany bahagia bu, Fany juga udah ketemu sama Nathan, dia tumbuh jadi anak yang baik, dan tampan." Fany tekekeh walau air matanya terus mengalir.
"Oh iya Fany hampir lupa, Fany datang kesini nggak sendiri, Fany datang sama suami Fany. Ia aku udah nikah bu di umur aku masih muda. Tenang saja suami Fany baik terus pengertin kok, dia bisa buat Fany bahagia.
"Assalamualaikum Bu, kenalin aku menantu ibu, Daren, pria tampan yang sangat beruntung bisa menikahi putir ibu. Oh iya aku nggak sekedar tampan loh bu, aku juga di kenal banyak orang dan banyak uang. Ibu tenang ya disana, Fany biar sama aku aja. Tapi Daren nggak janji ya buat bahagiain dan selalu ada buat putri ibu.
Fany tertawa kecil mendengar celotehan suaminya yang kelewatan pede, ya walau semuanya benar. namun senyuman itu pudar saat mendengar penuturan terakhir suaminya. Wanita itu menoleh.
"Loh kok kak Daren ngomong gitu, kak Daren mau pergi?"
Daren tersenyum dan mengelus lembut surai milik istrinya. "Nggak sayang. Aku kan pernah bilang aku nggak bisa janji selalu ada buat kamu. Tapi aku akan berusaha buat selalu ada untuk kamu dan selalu membahagiakan kamu." jawabnya.
"Ih sama aja."
"Beda sayang, kalau janji harus di tepati, dan aku takut nggak bisa nepatin janji aku." ucapnya lembut.
"Iya, iya, udah belum?"
"Udah." jawab Fany.
Fany kembali mengelus batu nisan ibunya. "Fany pulang dulu ya bu, nanti Fany kesini lagi sama Nathan." pamitnya lalu berdiri di ikuti Daren di belakangnya.
***
Hari yang benar-benar melelahkan, setelah dari pemakaman, Daren mengajak Fany ke Kebun Teh Sukawana. Pemandangan asri dan tertawa rapi, membuatnya sangat cantik. Sepi, sangat cocok untuk menengkan diri. Tak lupa keduanya mengabadikan vibes yang indah di pandang mata.
Dan sekarang keduanya berencana makan malam di salah satu restoran yang katanya bagus untuk wisatawan. Pinisi Resto, Restoran yang berbentuk perahu dengan suasana sekitarnya yang indah.
"Aku tunggu di bawah ya." pamit Daren setelah siap dengan pakaian casualnya.
"Hmmm." gumam Fany masih sibuk merias diri di depan cermin, ya walau hanya make up tipis. Setidaknya ia harus tampil cantik untuk kencan nya malam ini.
Setelah siap, Fany menyusul Daren yang sedang menggu di dalam mobilnya.
"Lama ya." tanyanya setelah menutup pintu mobil.
"Lumayan lama. Emang ya kalau nunggu perempun dandan itu butuh kesabaran." celoteh Daren memajukan tubuhnya memasang sabuk pengaman.
Fany memundurkan badannya. "Nggak ikhlas nunggu ya."
"Ikhlas."
"Terus ngapain protes tadi?"
"Pengen aja." jawabnya asal.
"Ih yaudah geser." risih Fany saat Daren belum juga merubah posisinya dan terus memandangnya.
"Ngapain liatin aku sampai segitu nya? ada yang salah ya sama riasan aku."
"Itu lipstiknya kenapa tebal benget, hapus gih atau kita nggak jadi pergi." titah Daren kembali ke tempat semula.
Jika di lihat, lipstik yang di pakai Fany nggak terlalu tebal dan normal-normal aja sih, ya tapi tahu sendirilah gimana posesifnya cowok satu itu.
"Nggak tebal kok."
"Hapus atau kita nggak jadi pergi." ancam Daren.
"Iya,iya." pasrah Fany mengambil tisu, mencoba menghapus lipstik di bibirnya, tapi nihil lipstiknya sudah kering dan susah di hapus.
"Udah kering susah hilangnya." keluh Fany. "Atau aku balik ke kamar dulu buat bersihinnya?"
"Kelamaan."
"Terus?" cengo Fany tidak tahu lagi mau apa, melawan, sudah nggak ada keberanian melihat wajah datar Daren.
"Aku aja yang hapus." final Daren.
Daren mendekatkan wajah. "Mau apa?" Fany menutup matanya.
"Mau hapus lipstik kamu pakai bibir aku." ucapnya tanpa dosa.
Dan benar saja, Daren ******* habis bibir tipis Fany, menyapu bersih bagian bibir yang terkena lipstik itu.
"Kamu dandan cantik untuk siapa?" tanya Daren setelah melepas pangutannya.
"Untuk kamu." jujur Fany.
"Yaudah dandanya kalau di kamar aja." ucapnya lalu melajukan mobilnya membelah jalan.
Bukannya marah, Fany malah mengembangkan senyumnya, ia suka Daren yang posesif seperti itu.
Ia mungkin terlau kegeeran, jika mengatakan suaminya itu takut kehilangannya dan merasa di istimewakan tapi itulah yang di rasakan Fany.
...****************...
...TBC...
...SELAMAT MEMBACA !!!...