
My king:
Sayang, pulang nanti mau di beli in apa?
^^^Me:^^^
^^^Seblak boleh👉👈🥺?^^^
My king:
Nggak, yang lain aja ya
^^^Me:^^^
^^^Tadi aja nanya mau makan apa😞^^^
My King:
Seblak nggak baik buat kamu, sayang. Yang lain aja ya.
^^^Me:^^^
^^^Terserah.^^^
My King:
Sayang
Jangan ngambek dong
Yang lain ya
Nasi goreng gimana?
Yang
^^^Me:^^^
^^^Iya^^^
My King:
Siap sayangnya Daren
Ngak usah nungin aku, di kamar aja
Pipi Fany bersemu merah membaca pesan terakhir dari Daren, hanya kata seperti itu, namun sangat berarti baginya.
Sembari menunggu kedatangan Daren, Fany memutuskan bermain ponsel di atas ranjang, dengan kepala bersandar di kepala dipan.
Lima belas menit telah berlalu. Atensi Fany teralihkan pada pintu kamar, di mana seorang pria tengah tersenyum hangat padanya, senyuman yang membuatnya selalu aman.
"Selamat malan sayang." ujar Daren.
Dia menghampiri Fany, mengecup kening gadis itu, kemudian beralih pada perutnya. "Cebongnya papi nggak rewelkan hari ini?" Daren mengecup sekilas perut Fany.
"Nggak kok papi." sahut Fany menirukan suara anak kecil.
Daren mengacak-acak rambut Fany gemas. "Aku mandi dulu ya."
Fany mengaguk. Setelah Daren masuk ke kamar mandi, Fany menyiapkan pakaian santai untuk suaminya. Kemudian ke dapur menyiapkan makan malam untuk Daren.
Dia tersentak saat seseorang memeluknya dari belakang. Bisa Fany rasakan hembusan nafas Daren di lehernya, bahkan sekali-kali pria itu mengesek-gesekkan hidung mancungnya di ceruk lehernya.
"Kak." sentak Fany.
"Udah di bilangin nggak usah, aku bisa nyiapin sendiri."
"Aku itu istri kamu kak, udah kewajiban aku ngelayanin kamu, lagian aku nggak capek kok. Bosan tau tinggal di rumah nggak ngapa-ngapain, mau kerja nggak di bolehin juga." keluh Fany.
Daren melepaskan pelukannya, duduk berhadapan dengan Fany. "Ya udah, tapi jangan cape-cape, kalau lelah istirahat jangan di paksain."
Mendegar itu, Fany berbinar bahagia akhirnya setelah di kurung berhari-hari dia bisa bebas juga.
"Iya, aku janji pulang tepat waktu." jawab Fany.
Daren menaikan sebelah alisnya. "Pulang tepat waktu? siapa yang ngizinin kamu keluar rumah?"
Fany cemberut, memanyungkan bibirnya. "Tadi katanya boleh."
"Aku ngizinin kamu, ngelayanin aku, tapi tidak untuk bekerja." tegas Daren.
"Tapi..."
"Udah makan jangan ngebantah!"
"Kak Daren bentak aku?" lirih Fany matanya sudah bekaca-kaca siap pecah kapan saja.
Daren mengusap wajahnya kasar, dia harus benar-benar sabar menghadapi mood Fany yang kadang tidak bisa di tebak. Bahkan tadi dia hanya menyuruh Fany makan dengan nada sedikit tinggi namun masih bisa di katakan normal, tapi di anggap bentakan oleh istrinya.
Daren berdiri, memutuskan duduk di samping ibu hamil itu. "Aku nggak bentak kamu sayang." ucap Daren selembut mungkin.
"Makan ya, keburu nasi gorengnya dingin!" Daren mengelus pipi Fany.
"Nggak mood lagi."
"Aku ada hadiah buat kamu, tapi makan dulu ya."
"Beneran?" yang tadinya sedih, kini di gantikan oleh senyuman.
"Iya sayang."
***
Daren memberikan kotak beludru berwarna hitam pada Fany. "Buka!" pintanya
Fany menerima kotak tersebut lalu membukanya, seketika senyumnya terbit melihat isi kotak itu. Kalung berlian, dengan pertama berbentuk bulan sabit di tengahnya bergambar bintang. Sunguh indah di pandangan mata.
"Cantik banget."
"Kamu suka?"
"Banget, makasih kak."
Daren ikut senyum melihat kebahagian terpancar di wajah Fany. Dia akan melakukan apapun untuk kebahagian gadis di hadapannya, apa lagi sekarang gadis itu sedang mengandung buah cinta mereka.
"Aku pasangin." Daren mengambil kalung itu, lalu memasangkannya pada leher indah Fany. Setelah itu ia mengecup leher Fany beberapa kali, bahkan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Fany menyadarkan kepalanya di dada bidang Daren, sembari memainkan ponselnya. Sementara Daren sibuk mengusap perut rata Fany dengan tangannya, belum lagi bibir dan kepalanya menyuduri ceruk leher sang istri.
"Ck, kak udah, geli tau." keluh Fany mendorong pelan kepala Daren agar menjauh dari lehernya. "Kak Daren bau, jangan cium-cium."
Daren mengerucutkan bibirnya, enak saja Fany mengatainya bau.
"Ya udah sana jangan dekat-dekat." Daren menggeser kepala Fany yang masih setia bersandar di dadanya.
Fany menahan tawanya, bukannya mengeser, dia malah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Fany. "Gitu aja ngabek, aku cuma bercanda kak."
"Candaanya nggak lucu." Daren masih ngambek.
Fany mendogak, menatap Daren, memastikan apakah suaminya benar-benar marah. Masa Ia hanya perkara bau suaminya ngambek, sensitif amat kalau gitu.
Dia mengelus rahang Daren. "Udah dong ngambeknya." bujuknya.
Bukannya lunak Daren malah memalingkan wajahnya.
Fany tak kehabisan akal, Dia membalikkan tubuhnya lalu duduk di pangkuan Daren, melingkarkan tangannya di leher sang suami.
"Sayang udah ya ngambeknya." bujuk Fany dengan suara manja dan mendesah.
Gila ingin rasanya Fany menenggelamkan dirinya di rawa-rawa mengingat betapa agresifnya dia.
"Udah ya." Fany mengecup bibir Daren sedikit lama.
Sudah cukup, Daren tidak sanggup lagi jika mendiamkan Fany lama-lama, dengan sigap dia menarik tengkuk gadisnya, lalu mencium rakus bibir milik istrinya.
Fany memukul-mukul Dada Daren saat merasa dia akan kehabisan nafas.
"Kamu yang mengodaku sayang." Daren senyum miring.
Gila, Fany baru saja membangunkan singa lapar, buru-buru dia menjauhkan tubuhnya, namun dengan sigap Daren melingkarkan tangannya di pingga ramping itu. "Boleh ya." ujarnya dengan suara serak.
"Tapi kata dokter jangan dulu."
"Aku mainya pelan sayang, janji." rengek Daren.
"Demi baby, puasa dulu ya, nggak lama kok." bujuk Fany, dia tahu menolak keinginan suami itu dosa, tapi dia juga takut akan janin di dalam kandungannya. Usianya masih sangat rentang, baru jalan lima minggu.
Mendegar perkataan Fany, seketika bahu Daren merosot, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Fany. Ah jadi dia harus puasa berapa lama lagi? seminggu aja udah nyiksa.
Fany mengelus rambut Daren. "Sabar papi, nggak lama kok." ucapnya dengan kekehen kecil.
"Susah mami." rengek Daren.
Daren mengesek-gesekkan hidung mancung di dalam ceruk Fany, membuat Fany merasakan gelenyar aneh di dalam tubuhnya.
"Manja bangat sih." Fany menangkup kedua pipi Daren, lalu menciumnya. "Yang lain ya."
"Manja sama istri sendiri emang salah, hm."
"Tidur ya, udah tengah malam." Bujuk Fany. Entahlah, yang hamil dirinya, namun yang manja suaminya.
Fany berasa mengurus baby, namun bedanya babynya ini besar terus manjanya cuma sama dia doang, di luar sana mah sangar terus cool, berbanding terbalik sama di rumah.
Daren ikut merebahkan dirinya di samping Fany, memeluk posesif pinggang gadis itu agar terus dekat dengannya. Mencari tempat ternyaman dalam pelukan Fany, membenamkan wajahnya di tempat favoritnya, yaitu sumber asi untuk babynya nanti.
...TBC...
Kagak tau author mau ngomong apa lagi.