
Waktu terus berjalan, seiring perubahan Daren yang semakin lama-semakin dingin dan tak tersentuh.
Perut Fany pun semakin besar, dengan umur kandungan jalan lima bulan. Setiap cek kandungan ke dokter, tak pernah sekalipun Daren menemaninya, bahkan Pria yang telihat cuek dan bermuka datarlah yang selalu menggantikan sosok Daren di hidup Fany.
Tak pernah tebayangkan oleh Fany hidupnya akan seperti ini, hamil tanpa suami di sampingnya sungguh menyiksannya. Ralat bukan tidak ada, namun dia bagai tak di anggap ada oleh pria itu.
Namun itu tak membuat Fany putus asa, dia yakin suatu hari nanti suaminya akan berubah hangat seperti dulu. Tidak ada yang tahu perang dingin antara mereka kecuali Deon. Fany sangat ahli menyembunyikan sakit hatinya pada orang-orang terdekatnya bahkan adiknya sekalipun.
Dengan langkah gontai, wanita berbadan dua itu berjalan menuju dapur. Hari mulai sore, membuatnya mau tidak mau harus menyiapkan makan malam untuk sang suami.
Jemari-jemari lentiknya memeriksa bahan-bahan di dalam kulkas yang ternyata sudah habis, bahkan susu hamil pun sudah tidak ada di sana.
Dia beralih meraih ponselnya yang tegeletak di atas meja pantry, dengan ragu menghubungi seseorang.
Beberapa panggilannya di tolak atau bahkan tidak di jawab, namun dia tak menyerah terus menelepon pria yang berstatus sebagai suaminya. Lama Fany menunggu hingga panggilan terhubung.
"Assalamualaikum, kak." lirih Fany sedikit gugup, takut mendengar bentakan dan kata-kata pedas pria itu.
"Waalaikumussalam." jawab Daren dingin.
"Pulang kerja, kak Daren bisa..."
"Nggak bisa aku sibuk." potong Daren.
"Tapi, bahan-bahan makanan udah habis."
"Punya tangan punya kaki kan? nggak usah nyusahin aku terus!"
Tut
Sambungan telfon putus sepihak, bukan-bukan Fany yang memutuskan melainkan Daren.
Fany memejamkan matanya, mencoba untuk bersabar, ini bukan yang pertama kalinya Dia mendapatkan semprotan pedas dari mulut suaminya. Dia sudah terbiasa, yang harus dia lakukan hanya bersabar, menuggu waktu yang entah kapan bisa mengembalikan Darennya yang dulu.
Setetes buliran bening berhasil membasahi pipi cubinya. Jika saja bukan karena anak yang ada dalam kandungannya, mungkin dia sudah menyerah untuk saat ini.
Fany menghela nafas kasar, menghapus kasar air matanya. Ini bukan dirinya, kenapa dia bisa selemah ini, dia seperti tidak mengenali dirinya sendiri. Bahkan untuk membantah perkataan suaminya dia sudah tidak mampu.
Stop, bukankah dulu hidupnya lebih pahit dari ini, kenapa dia begitu lemah.
Fany mengangguk mantap, merjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak boleh lemah seperti ini, yang hanya menangis jika mendapatkan perlakuan buruk dari Daren.
"Lo harus kuat Fany, setidaknya buat anak lo, lo nggak boleh sedih, jika lo sedih anak lo juga sedih." Fany mengepalkan tangannya mencoba menyemagati dirinya sendiri.
Mungkin bersikap acuh dengan sikap dingin Daren bisa membuatnya sedikit bisa mempertahankan rumah tangganya.
Dia melangkah menuju kamar, mengambil cardigan dan juga kunci mobil di atas nakas, beruntunglah Daren pernah mengajarinya mengendari mobil.
***
Menghirup udara sepuas mungkin, itu lah yang di lakukan gadis berpurut buncit itu, ini pertama kalinya Dia keluar rumah sendirian tanpa ada yang mengikuti, baik itu Deon atau siapapun.
Dirinya merasa sangat bebas, dengan langkah riang dia melangkah masuk ke dalam supermarket. Berbelanja apapun yang ia butuhkan, bahkan dengan sejenak Dia melupakan masalah rumah tanggannya.
Ternyata benar, mood terbaik bagi seorang perempuan adalah berbelanja.
Bruk
Fany tidak sengaja menabrak seseorang mambuat tubuhnya tehempas kelantai karena kurang keseimbangan.
"Auww." ringgis Fany memegang pinggangnya yang kesakitan.
"Maaf-maaf saya tidak sengaja." pria itu mengulurkan tangannya berniat membantu Fany berdiri. Membantu Fany berdiri dengan memeluk kedua lengannya.
Fany mendongak, seketika keningnya mengkerut, sepertinya dia pernah melihat pria di hadapannya tapi di mana?
"Fany, istrinya Daren bukan?" tebak pria bertopi hitam itu.
"Iya, siapa ya?"
Pria itu mengulurkan tangannya. "Kenalin nama saya Andra."
"Andra?" beo Fany.
"Reporter yang pernah maksa kamu di butik saat itu." Andra mengaruk tengkuknya.
"Ah iya saya ingat, reporter yang sempai bikin saya kesal kan? ck nggak nyangka bisa ketemu di sini."
"Sendiri aja, Daren mana?" Andra mengedarkan pandangannya namun tak menemukan sosok Daren.
"It...itu, kak Daren lagi sibuk, makanya saya belanja sendiri. Kalau begitu saya pamit pulang kak." Fany buru-buru pulang saat tersadar bahwa hari mulai gelap mungkin saja Daren sudah ada di rumah.
Andra senyum miring melihat kepergian Fany.
***
Akhirnya Fany sampai juga di depan apartemen dengan berbagai bahan makanan dan juga keperluan lainnya, dengan di bantu satpam yang berjaga di lobi.
Lelah itulah di rasakan Fany saat ini, mungkin karena terlalu banyak gerak. Dengan susah payah dia memindahkan bahan-bahan makanan tersebut kedapur lalu menyusunnya ke dalam kulkas. Hingga suara bariton berhasil mengalihkan atensinya.
"Jadi gini kelakuan kamu saat aku nggak ada?" suara dingin Daren mengintrupsi.
Fany sontak berdiri. "Kak Daren udah pulang?" dengan langkah ringan Fany mendekat, meraih tangan Daren untuk di ciumnya. Namun belum sempat dia mencium, tangannya sudah di hempaskan begitu saja.
"Gue nanya, lo budek apa gimana?" tekan Daren bersedekap dada bersandar di meja pantry.
"Gue-lo?" beo Fany, ada perasaan tak terima saat mendegar Daren mengganti nama panggilan bukan aku-kamu lagi.
"Nggak usah alay, nama panggilan aja lo permasalahin."
Tanpa menyahuti perkataan Daren, Fany melangkah meninggalkan Dapur, dia sudah muak mendegar ocehan Daren.
Namun langkahnya terhenti saat Daren mencekal pergelangan tangannya.
"Darimana?" Daren menaikkan sebelah alisnya.
"Kak Daren nggak liat aku dari belanja?" bukannya menjawab Fany malah melayangkan pertanyaan.
Daren tertawa sinis. "Gue tau itu cuma alasan lo aja agar bisa keluar rumah dan bertemu selingkuhan lo kan." tuduhnya.
"Siapa yang nyuruh lo keluar rumah hah!!!" bentak Daren.
Fany tersentak mendegar bentakan Daren, detik berikutnya dia membalas tatapan tajam Daren. "Nggak ada yang nyuruh aku keluar, aku keluar karena keinginan aku sendiri, agar tidak mati kelaparan di dalam rumah namun seperti penjara ini. Keluar adalah pilihan yang tepat saat meminta bantuan seseorang yang bahkan engang untuk membantu dan malah mengacuhkanku seperti orang asing!" tegas Fany, dengan nafas memburu.
Dia menghempaskan tangan Daren dengan kasar. Melangkah kakinya menuju kamar, tempat paling nyaman untuknya saat ini. Rasa nyeri di pinggangnya semakin sakit seiring tangisannya di dalam kamar itu.
Dia memukul-mukul kepalanya sendiri. "Bodoh-bodoh, ngapain lo nangis hanya karena pria brengsek seperti dia, mana janji lo yang nggak akan menangis lagi." maki Fany pada dirinya sendiri.
Melampiaskan kekesal dan kesedihan dengan menyiksa dirinya sendiri adalah pilihan yang tepat. Dia terus memukul kepalanya, menjambak rambutnya hingga puas. Bahkan dia melupakan saran dokter beberapa hari lalu agar tidak terlalu stres dan lelah karena janin dalam kandungannya terlalu lemah.
...TBC...
...****************...
Jangan lupa spam komen agar author semangat upnya,