
Fany menundukkan kepalanya, berharap semoga wanita di hadapannya tidak mengenalinya. Ia belum siap mendapat makian dan juga hinaan dari fans-fans Daren apa lagi tepat di hadapannya.
"Lo tau nggak, istri Daren tuh sabar baget. Udah di maki-maki sama fans-fans fanatik Daren tapi dia tidak membalas dan menuntut mereka. Gue kagum sama dia, dia cocok banget sama Daren." puji wanita itu.
Fany bernafas lega mendegar pujian dari wanita di hadapannya. Ia mengira akan di maki habis-habisan.
Wanita itu terus memperhatikan Fany yang masih setia menunduk dan tidak berani menatapnya. "Tunggu, lo mirip istirnya Daren deh, benarkan lo istrinya Daren? lo Fany kan?"
"Udah nggak usah mengelak lagi, lo pasti Fany."
Mau tidak mau, Fany mengangkat wajahnya, melepas masker yang sedari tadi menutupi sebagian wajahnya, lalu mengembangkan senyumnya.
"Hehehehe." Fany mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Daren datang meletakkan segelas jus jeruk di hadapan wanita itu. "Silahkan di nikmati jusnya nona."
Daren berbalik hendak pergi, namun langkahnya di cegah oleh seorang wanita. "Maaf boleh gue minta tanda tangannya, gue fans banget sama lo." ucapnya.
Bukannya menjawab, Daren malah menatap gadis mungil yang berstatus sebagai istrinya. Dengan senyuman Fany mengangukkan kepalanya.
"Di mana?"
Wanita itu mengulurkan tanganya, menunjuk lengan kemeja putihnya.
"Udah" ucap Daren.
"Bisa gue minta peluk?" tanyanya lagi.
Daren senyum miring, menarik gadis mungil di sampingnya, lalu mengamit pinggang gadis itu. "Sorry, istri gue cemburuan orangnya." ucapnya lalu mengecup singkat kening Fany di hadapan Fansnya. Seakan-akan memperjelas status gadis itu sebagai istrinya.
Bahagia? tentu saja Fany sangat bahagia. Siapa sih gadis yang tidak bahagia di akui dan di perlakuan dengan manis oleh suaminya di depan banyak orang, walau sedikit malu sih.
"Ran, tolong layani nona ini ya!" teriak Fany saat tangannya di tarik begitu saja oleh Daren.
"Ok." sahut Kirana mengacungkan jarinya membentuk huruf O.
***
Di dalam ruangan seorang gadis terus saja mengoceh, bukan tidak suka suaminya datang kebutik. Tapi itu bisa mengganggu konsentrasinya, apa lagi pria di hadapannya ini jahilnya minta ampun.
"Ngapain sih kak Daren kesini? apa susahnya istirahat di rumah, atau seenggaknya keluar gitu nongkrong sama kak Deon."
"Ingat, kak Daren bentar lagi balik syuting, jadi harus fress." celotehnya panjang lebar.
"Lagi pula hmmpttt"
Suara Fany tengelam berbarengan bibirnya yang di bungkam oleh Daren.
"Udah puas marahnya?" tanya Daren, ngelap bibir basah Fany dengan ibu jarinya.
"Tau ah." Fany berjalan ke meja kerjanya, bersandar di sana, memutar kursi kerjanya membelakangi Daren.
Daren hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Istri kecilnya. Ia harus ekstra sabar menghadapi mood dan sikap ke kanak-lanakan Fany. Tidak mudah memang, tapi itulah resiko mencintai gadis di bawah umur.
Daren duduk di atas meja kerja Fany. "Udah dong ngambeknya, aku kan cuma ingin nemenin kamu kerja, masa ia kamu marah?" bujuknya.
Dengan satu tarikan, kursi yang di duduki Fany kini menghadapnya. Daren bertumpu pada sandaran kursi mengunci pergerakan istrinya.
"Kenapa, hmm?" tanya Daren lembut.
Fany mengeleng.
"Lalu?" Daren menaikkan sebelah alisnnya.
"Aku curiga aja, kedatangan kak Daren hari ini berbarengan dengan banyaknya pelanggan yang datang. Apa jangan-jangan kak Daren yang nyewa mereka semua?" tuduh Fany.
Daren menghela nafas, jadi itu yang membuat istrinya mengamuk. "Itu semua di luar campur tangan aku, mereka datang atas kemauan mereka sendiri." jelas Daren semakin menundukan kepalanya, membuat Fany juga merosotkan tubuhnya.
"Benar?" Fany memastikan.
"Iya sayang." ucapnya lembut.
Fany semakin merosot, kala wajah Daren semakin menunduk. "Jangan gerak!" perintah Daren.
Cup
"Ih, kak ini di butik." protes Fany.
"Terus?"
"Nanti ada yang liat." jawabnya.
"Nggak akan, aku sudah kunci pintu tadi."
Daren kembali mel*mat bibir yang sudah menjadi candu baginya. Ciumannya semakin dalam kala mendapat respon dari sang istri.
Fany mulai terbuai, mengalungkan tangannya di leher Daren. Menikmati setiap ke*upan dari suaminya.
***
Sepasang kekasih tengah menikmati indahnya malam di bawah sinar bintang dan bulan yang bersinar sangat indah di langit.
Kruk...kruk...kruk.
Ah memalukan sekali perut Fany, di kedaan romantis seperti ini, kenapa perutnya malah bunyinya gede lagi.
Daren tersenyum dan pura-pura tidak mendegar suara purut istrinya.
"Suamiku, aku lapar." rengeknya.
Suamiku? Daren tidak salah dengarkan? istrinya barusan memanggilnya dengan sebutan suami tanpa ia minta. Ah rasanya sangat bahagia.
"Kamu udah ngakuin aku sebagai suamimu?" raut bahagia jelas tercetak di wajah Daren.
Lega rasanya Fany sudah menerimanya sebagai seorang suami. Ia masih ingat betul bagaimana permintaan istrinya saat ia mengungkapkan cintanya.
"Maaf, tapi tolong beri aku sedikit waktu agar terbiasa dengan semua ini. Aku hanya belum yakin dengan semuanya, aku merasa semuanya terlalu cepat. Tolong hargai keputusanku." itulah yang di katakan Fany saat itu.
"Lah emang kak Daren suami aku." jawabnya
"Ah sayang, jantungku berdebar, sepertinya aku baper deh." ucap Daren men dramatis, memegan dada kirinya.
"nggak usah lebay deh kak." Pipi Fany kembali merona.
"Suamiku!"
"Apa sayang?"
"Aku lapar." rengeknya.
***
Setelah makan malam, keduanya kembali kerumah. Karena merasa gerah, Fany bergegas masuk kedalam kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.
"Ah segarnya." Fany berjalan ke arah lemari hanya mengunakan haduk menutupi tubuhnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka menampilkan pria tampan ber rahang tegas.
Glek.
Pemandangan di hadapannya sungguh membuat iman seorang Daren goyah seketika. Melihat istrinya berdiri di hadapan cermin hanya di balut handuk yang mengekspos langsung, kaki jenjang, dan juga bahu mulus istrinya.
Hawa panas seketika memenuhi tubuh Daren, dengan langkah tegap Pria itu menghampiri Fany tanpa gadis itu sadari.
Grep
Daren memeluk tubuh ramping Fany dari belakang, mengecup ceruk leher Fany hingga meninggalkan tanda kepemilikan disana. Tidak sampai di situ saja, kini bibirnya menyusuri setiap punggung mulus istrinya.
"Kak."
Daren menghiraukan panggilan Fany, mengangkat tubuh gadis itu agar duduk di atas meja rias, membuat skinker Fany berjatuhan begitu saja.
"Aku... Hpmmmt."
Belum selesai dengan kalimatnya, Daren lebih dulu membungkam mulut Fany dengan bibirnya. Mengendong gadis itu seperti baby koala lalu menurunkannya di ranjang dengan perlahan tanpa melepaskan pangutan mereka.
Ciuman yang tadinya lembut, kini lebih menuntut membuat Fany kewalahan.
Namun sebelum melakukan hal lebih Daren menghentikan pangutannya, menatap lekat wajah Fany seakan meminta ijin.
Fany yang mengertipun hanya mengangguk pasrah, toh jika pun ia menolak, Daren akan melakukannya.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
TBC
Eh kepotong, nanti di lanjut di Part selanjutnya ya🙏😁
Jangan keroyok author ya👉👈😥
Jangan lupa, vote, komen, dan like kalian, karena itu mood boster banget untuk author.
...SELAMAT MEMBACA !!!...