My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 100


...Berawal dari ketidak sengajaan, di jalani dengan keseriusan, berakhir dengan kenyaman dan kebahagian....


...-Daren Danuwinarta-...


Satu bulan telah berlalu, seiring berjalannya waktu, kehidupan seseorang juga berubah. Karir yang hampir meredup kini kembali bersinar.


Namun sayangnya pemilik nama yang sedang bersinar itu kini masih terbaring di atas brangkar rumah sakit. Walau masa kritis telah berlalu, tapi dia harus mengalami koma selama berbulan-bulan.


Wanita itu mengengam tangan dingin suaminya, tangan yang selalu mengengam hangat tangannya kini tak berdaya.


"Sudah hampir dua bulan kakak tidur, kak Daren nggak niat gitu bangun liat aku? kakak nggak rindu ya sama Fany." Dia menghapus air matanya lalu mengantinya dengan senyuman.


"Bentar lagi Fany lahiran loh, Fany sangat berharap kakak ada di samping Fany saat lahiran nanti. Fany takut sendirian." curhatnya pada sang suami.


Fany mengeser duduknya, mengusap air mata yang keluar dari sudut mata suaminya padahal pria itu masih belum membuka matanya. "Kok kak Daren nangis sih?"


"Bilang sama Fany bagian mana yang sakit, nanti Fany cium biar cepat sembuh. Itu kan kata kak Daren dulu." Fany terus mengajak Daren berbicara walau tidak pernah ada respon dari Daren.


"Kakak tau nggak, ternyata banyak yang sayang sama kakak, keluarga dan teman-teman kak Daren datang jungukin kakak tadi. Mereka bilang benci sama kakak karena tidur terus katanya kakak pemalas." Fany tertawa kecil, mengingat betapa perhatiannya orang-orang terdekat Daren.


"Oh iya, nama kak Daren makin bersinar loh di dunia hiburan, mereka pengen liat kakak tampil lagi. Itu semua berkat Deon, dia mengumpulkan bukti dan juga membuat orang-orang yang terlibat menerima ganjarannya." Fany sesekali mencium tangan dingin Daren.


"Beberapa minggu yang lalu ada berita yang menayangkan mayat yang di temukan di tepi sungai, katanya mayat itu CEO Andra Jaya orang yang nembak kakak dulu. Ternyata karma masih berlalu ya kak, tapi kasian dia tubuhnya hancur mungkin termakan ikan atau air."


"Kenapa harus kasihan?"


Fany mendongak, ternyata di sana ada Deon berdiri di depan pintu dengan wajah Datarnya. "Deon?" beo Fany.


"Kenapa datang kesini malam-malam?" tanyanya.


"Cuma mau tau kondisi Daren."


"Masih sama." jawab Fany sendu.


Deon melirik jam di dinding "Tidur sana, entar sakit gue yang di amukin Daren, kalau butuh sesuatu gue ada di luar." ucapnya lalu menutup pintu kembali.


Benar sudah tengah malam, Fany memutuskan membaringka dirinya di samping Daren, walau tidak terlalu dekat, takut menyakiti tubuh suaminya.


Di pandanginya dalam-dalam wajah tampan pucat itu. "Fany mau tidur dulu kak, kalau misalnya kakak bangun, elus dan cium kening aku ya." ucapnya setelah itu menutup matanya.


***


Jam 7 pagi, Deon kembali masuk kedalam ruang rawat Daren, memastikan apakah pria itu baik-baik saja. Dia tersnyum tipis hampir tak terlihat, melihat sepasang manusia tengah tertidur lelap di atas ranjang bahkan tidak menyadari kedatangannya.


Yang satunya mungkin kelelahan, dan yang satunya lagi tidak tahu kapan akan bangun dari tidur panjangnya.


Deon megelengkan kepalanya, mengucek matanya, gini nih kalau bangun nggak cuci muka bawaannya halu mulu. Namun tetap saja berkali-kali dia mengucek matanya, tangan itu tatap bergera bebera detik kemudian mata itu ikut terbuka.


"Daren." lirih Deon tak percaya, dia segera memencet bel di samping tempat tidur untuk memanggil dokter. Kemudian mengitari tempat tidur berniat membanggunkan Fany, memberitahunya tentang kabar bahagia ini.


"Jangan." lirih Daren hampir tak terdengar, sembari mengelengkan kepalanya membuat Deon menghentikan pergerakannya. "Dia capek."


***


Dokter melepaskan semua alat-alat yang menempel di tubuh Daren setelah mematikan kondisi pria itu baik-baik saja.


"Ngapain masih di sini? sana pergi gue mau berudaan sama istri gue." ucapnya.


Gini nih kalau punya bos tidak tahu terimakasih, habis manis sepah di buang.


"Nggak tau terimakasih lo." sungut Deon kemudian melangkah pergi.


Bukannya berterimakasih, Daren malah melambaikan tangannya, mengusir Deon dari ruangan itu.


Tentang kabar bahwa Daren terbangun dari komanya belum ada yang tau kecuali Deon dan juga Dokter, bahkan wanita hamil di samping pria itu masih terlelap dalam tidurnya.


Daren mengubah posisi tidurnya menghadap Fany. Di pandanginya wajah cantik Fany, wajah yang selam ini dia rindukan, setiap malam dia selalu mendengar cerita istrinya, namun dia tak dapat meresponnya.


Hanya bisa mendegar tanpa bisa menenangkan istrinya sungguh mambuat hatinya sakit, dan yang bisa dia lakukan hanya menangis dalam tidurnya.


Dilakukannya apa yang di perintahkan Fany sebelum tidur, yaitu mengelus lembuat rambut wanitanya kemudian mencium kening Fany.


Sentuhan itu berhasil membuat tidur Fany terusik Bukannya berhenti dia malah mendekap tubuh Fany.


"Bangun sayang udah siang." bisiknya di telinga Fany.


Tangis Fany pecah, segitu rindunya kah dia dengan suaminya hingga terbawa mimpi, di pereraatnya pelukan itu, takut jika dia melepaskan bayangan itu akan pergi.


"Sakit sayang." rintih Daren.


"Kak, Fany rindu." tangis Fany pecah masih dengan mata tertutup.


Daren tertawa kecil melihat reaksi Fany. "Buka mata kamu, aku ada disini." bujuk Daren.


Perlahan lahan Fany membuka matanya dan hal pertama yang dia lihat adalah, lekaki tampan yang tengah tersenyum manis padanya.


Ini bukan mimpi kan?


Fany tidak mimpi kan?


Di cubitnya pipinya sendiri "Auw sakit." rintihnya.


"Lagian ngapain cubit pipi, hm." Daren mengelus lembut bekas cubitan itu di pipi Fany.


"Huaaaaaa Fany rindu, kenapa bangunnya baru sekarang." rengek Fany, dipeluknya kembali tubuh kekar di sampingnya.


"Maaf." ujar Daren.


"Nggak papa, yang penting kak Daren bangun lagi."


Fany tiba-tiba melepaskan pelukannya, menatap tubuh yang terbalut pakaian rumah sakit itu dari atas sampai bawah. "Kak Daren kapan bangunnya, kenapa semua alat-alat sudah di lepas?" cengo Fany baru menyadari itu sakin bahagianya.


"Tadi pagi."


"Aku akan mengabari sumua orang."Fany bangun dari tidurnya, berniat membagikan kabar bahagia ini pada orang-orang terdekat Daren.


Daren merebut ponsel Fany, menarik tubuh gembul wanita itu bersandar pada dada bidangnya. "Nggak usah di kabarin dulu, aku masih pengen berduaan sama kamu." ujarnya mengecup lembut surai milik Fany.


Fany tersenyum, pelukan seperti ini sangat dia rindukan.


"Kamu nggak marah lagikan sama aku?" tanya Daren hati-hati.


"Marah kenapa?"


"Maaf sikap aku dulu buat kamu sakit hati." ujar Daren penuh sesal.


"Buat apa aku marah. Bukannya itu semua kakak lakukan demi keselamatan aku?"


"Tahu dari mana?" Daren menaikkan satu alisnya.


Flashback On


Karena tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi nantinya, Deon menghampiri Fany yang sedang duduk termenung memandangi wajah pucat Daren.


"Boleh gue bicara?" izin Deon.


Fany mengalihkan atensinya menatap Deon. "Mau ngomong apa, ngomong aja kali, kayak siapa aja." santai Fany.


Deon melirik sofa di sudut ruangan. Fany yang mengertipun segera mengikuti Deon.


"Mau ngomong apa?" Ulang Fany.


"Bukannya mau ikut campur rumah tangga kalian tapi gue harus ngasih tau lo ini." Deon menjeda kalimatnya.


"Daren sangat cinta sama lo melebihi dirinya sendiri, soal sikap dia belakangan ini, itu semua dia lakukan karena terpaksa." jujur Deon.


"Terpaksa?" bingung Fany.


Deon menganguk dan melanjutkan ceritanya.


"Lo ingat pas lo jatuh di kamar mandi? di situ lo pasti merasa aneh dengan sikap Daren yang terlau posesif dan ngatur lo?"


"Iya gue sempat ngerasa gitu, tapi gue pikir dia kayak gitu emang kerena takut anaknya kenapa-napa."


"Hari itu, hari di mulainya seseorang ngacam Daren, orang misterius itu yang tak lain adalah Andra. Dia selalu mengirim foto lo di manapun lo berada dengan berbagai ancaman pada Daren. Satu ancaman yang membuat Daren khawatir adalah, Saat Andra mengamcanya akan membunuh lo dan juga anak lo jika Daren tidak menceraikan lo."


"Awalnya kita berencana ngirim lo ke Beijing melalui lomba yang lo ikuti itu, dengan begitu lo akan aman. Tapi dia mengetahui rencana kita dan menyabotase data kepesertaan makanya nama lo ada di urutan ke 11 atau 12 kalau nggak salah."


"Di situ Daren memutuskan untuk menjauh dan bersikap dingin sama lo agar lo mau ninggalin dia untuk sementara waktu hingga kita bisa menemukan orang misterius itu. Tapi dia tidak menyangka sikapnya membuat lo sakit hingga ingin meninggalkannya."


"Soal selingkuh itu lo udah tau kan?"


"Iya, itu murni jebakan dari Nara." ujar Fany lirih.


"Lo nggak tau gimana tersiksanya dia pas dengar lo telat makan atau minum obat tanpa dia bisa berbuat apa-apa. Jadi satu-satunya cara yaitu memberi lo perhatian lewat kata-katanya yang pedas. Dia selalu mengatakan itu untuk kebaikan anaknya, tapi percayalah dia hanya tidak ingin lo sakit. Dia sering curhat sama gue."


Deon mengambil ponsel Daren di saku jasnya kemudian memberikannya pada Fany. "Gue mewakili Daren mintaa maaf, karena belum bisa nepatin janji buat mencopot semua CCTV di rumah kalian."


Fany menerima ponsel Daren, kemudian memutar video di dalamnya. Tak terasa air mata Fany merembes keluar, saat melihat betapa hancurnya Daren saat itu.


Di dalam video itu, Daren menyiksa dirinya sendiri, mempar dan menjambak rambutnya saat melihat dirinya terbaring tak sadarkan diri di kamar tamu.


"Dia sangat hancur pas liat lo pingsan karena dirinya, dia menyakiti dirinya sendiri, itulah sebabnya malam itu dia pergi ke klub. Gue yang antar dia pulang malam itu, dan tentang bekas ciuman di lehernya, itu ulah Nara."


Fany tersenyum saat melihat Video di mana Daren memeluknya setelah dia terlelap, dan bangun lebih pagi darinya hanya untuk mengecup keningnya setelah itu melanjutkan tidurnya membelakangi Fany kembali.


Masih banyak lagi video di mana Daren menyiksa dirinya sendiri setelah membentak dan membuat Fany menangis.


Flashback off


"Aku nyimpen salah satu video yang di perlihatkan Deon"


"Video apa? kok di simpan?"


"Video pas kak Daren curi-curi kesempatan pas aku tidur. Katanya marah nggak mau dekat-dekat aku, tapi pas aku tidur malah peluk-peluk bahkan nyium aku." ledek Fany tawanya pecah. "Pantas aja sikap cueknya tahan lama, terus tidurnya nyenyak."


Karena yang Fany tahu Daren tidak akan bisa tidur jika tidak memeluknya, jadi dia merasa aneh pas Daren bersikap dingin padanya, tidurnya nyenyak-nyenyak aja, ternyata ada udang di balik bakwan.


Daren menjawil hidung Fany, merasa gemas dengan cara bicara wanita hamil itu. "Udah berani ledekin suami, hm."


"Ais kak, sakitkan hidung aku." cemberut Fany yang terlihat mengemaskan.


Cup, Daren mencium hidung Fany yang memerah akibat ulahnya. "Udah sembuh, hm?"


"Langsung." jawab Fany.


"Maaf ya kak karena aku kamu jadi begini." sesal Fany.


Daren mengeleng. "Ini buka salah kamu sayang, itu sudah kewajiban aku untuk menjagamu dan juga calon anak kita." ujar Daren mengelus perut buncit Fany.


"Aku sayang sama kak Daren." Fany memeluk erat Daren.


"Aku lebih sayang sama kamu." Daren tak mau kalah.


Daren mengurai pelukannya dan


Cup


Cup


Cup


Cup


Dia mencium seluruh wajah Fany tanpa ada satu yang terlewatkan membuat Fany tertawa geli.


"Kenapa berhenti?" tanya Fany kecewa.


"Kenapa? mau lebih?" goda Daren.


Bukannya menjawab, Fany malah mengalungkan tangannya di leher pria itu. Menyatukan bibirnya dengan bibir Daren.


Tak mau hilang kesempatan, Daren mengambil alih. Menarik tengkuk Fany agar ciumannya semakin dalam, mel*mat dan mengabsen setiap inci di dalam mulut Fany.


Daren melerai ciumannya menatap Fany dengan tatapan penuh cinta.


"I Love You."


"I Love You too."


Keduanya kembali berciuman, ciuman penuh cinta.


...END...


...****************...


Sepertinya ini part terpanjang yang author tulis dalam cerita MHS ini.


Author sangat berterimakasih pada para readers berkat support dari kalian Author bisa nyelesaikan cerita ini.


Jangan lupa kalian mampir di cerita author satu nya juga ya !



Dan nantikan cerita author yang lainnya juga ok👌