My Husband Superstar

My Husband Superstar
Part 87


"Deon mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. "Jangan-jangan kak Fany hamil." ujarnya reflek membuat Daren menoleh kearahnya.


"Lo yakin?" Daren tak percaya.


"Iya, kata lo, Kak Fany itu mual-mual, terus moodnya sering berubah-uba kadang nangis tiba-tiba." jelas Deon tanpa ekspresi.


Daren menatap tak percaya pada Deon. "Sejak kapan lo ngerti tentang wanita?" dia menaikan alisnya.


"Gue pernah baca di internet."


"Oh gitu, jadi Fany hamil ya?" Daren menggangukkan kepalanya.


"HAMIl !!" teriak Daren saat sadar apa yang di katakan Deon. Raut kebahagian terpancar jelas di wajahnya. Itu artinya sebentar lagi dia akan menjadi ayah.


Deon menyunggikan senyum tipis, mengulurkan tangannya. "Selamat calon ayah."


"Gila, lo tadi senyum yon?" Daren tak kalah bahagianya melihat Deon tersenyum. Selama bersama Deon, ini pertama kalinya dia melihat pria itu tersenyum, hari ini patut di abadikan.


"Ini juga berkat lo."


Daren geleng-geleng tak percaya. "Akhirnya lo ada perkembangan Yon, tingkatkan!" ujarnya menepuk pundak Deon.


"Pasti kak, gue juga pengen jadi orang normal pada umumnya."


"Gue percaya sama lo." ujar Daren.


"Gue harus gimana ya yon?"


"Mending lo bawa kak Fany ke dokter deh, daripada nebak-nebak nggak jelas gini."


"Udah gue bujuk tapi nggak mau." Daren menghela nafas, istrinya benar-benar keras kepala.


Dia mengambil ponselya, menjelajahi mbah google mencari informasi tentang ibu Hamil, dia harus menjadi suami siaga untuk istri tercinta dan calon buah hatinya.


"Yon, tolong beliin, susu ibu hamil sama buah-buahan yang segar ya, lalu langsung antar aja kerumah."


"Siap." Deon memberi hormat, bangkit dari duduknya.


Sepeninggalan Deon, Daren menyadarkan tubuhnya, menutup matanya, ingin rasanya dia pulang memeluk istrinya, namun apalah dayanya masih ada tugas yang harus dia selesaikan.


Daren merasakan seseorang kembali duduk di sampingnya. "Lo belum pergi....Ngapain lo di sini?" Tatapan Daren berubah tajam, setelah mengetahui siapa yang duduk di sampingnya.


Pria itu cengegesan, mengusap tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Santai bro."


"Santai lo bilang? yang ada gue emosi liat wajah lo." geram Daren.


"Gue kesini bukan mau ribut, gue mau minta bantuan lo." jujur Radit.


"Gue nggak mau bantu lo." tolak Daren mentah-mentah.


"Gue janji nggak bakal ganggu Fany, kalau lo mau bantu gue dapatin Elina." bujuk Radit. Entah apa yang merasuki Radit hingga begitu tergila-gila pada Elina.


Daren menaikan sebelah alisnya. "Gue nggak jamin. Tapi sekali lagi lo dekatin Fany, gue patahin leher lo!" ancam Daren lalu bangkit dari duduknya. Duduk lama-lama bersama Radit membuatnya darah tinggi.


***


Akhirnya, setelah adengan bujuk-membujuk, Daren berhasil membawa Fany kerumah sakit, dan benar apa kata Deon, dia sebentar lagi akan menjadi ayah.


Sikap posesif Daren meningkat drastis. Dia tidak memperbolehkan Fany melakukan apapun, membuat sang istri kesal.


"Aku bisa jalan sendiri, nggak udah di gendong ih, aku hamil bukan lumpuh." gerutu Fany saat Daren tidak membiarkannya berjalan, dan malah mengendongnya sampai ke dalam apartemen.


"Aku nggak mau kamu lelah sayang." jawab Daren santai, mendudukkan Fany di sofa panjang.


"Tapi sikap kakak berlebihan." keluh Fany.


"Aku nggak suka di bantah, kamu tahu itu!"


"Iya, iya galak amat sih." Fany cemberut, hendak berdiri namun lagi-lagi di cegah oleh Daren.


"Udah di bilangin jangan banyak gerak."


Fany menghela nafas kasar, gini nih kalau punya suami posesif, apa-apa terbatas. Ya walau senang juga sih, berasa di perhatiian gitu.


"Cuma mau ambil minum di dapur kak."


"Biar aku aja." Daren bangkit dari duduknya, mengambil minum di dapur lalu memberikannya pada Fany.


"Makasih." ujar Fany sembari tersenyum.


Daren membalas senyum manis istrinya, mengacak-acak rambut Fany lalu duduk di samping gadis itu.


" Mau makan apa?"


"Kan udah makan sebelum pulang."


Fany hanya bisa tersenyum, menanggapi kelakuan Daren, membuka mulutnya menerima setiap suapan buah dari sang suami.


Setelah di rasa cukup, Daren membaringkan tubunya berbantalan paha Fany. Memiringkan kepalanya menghadapan perut rata sang istri. Mengecup beberapa kali perut rata yang terhalang kain itu.


"Jangan nakal kecebongnya papi, jangan nyusahin mami ya" ucapnya.


Fany tertawa kecil mendegar perkataan Deren, rasanya aneh mendengar Daren nyebut Papi Mami.


Daren mendongak menatap sang istri yang sedang asik cekikikan sendiri. "Kenapa?" tanyanya.


"Aneh aja dengar kak Daren manggil diri kakak Papi." jawabnya mengelus rambut Daren.


"Kan emang benar mami, iya kan cebong?" Daren kembali mengajak calon anaknya bicara.


"Nggak usah manggil aku mami, aneh tau nggak. Jangan ngadi-ngadi, itu anak kakak lo masa ia manggil kecebong."


"Iya kan memang benar, di dalam sini kecebong aku sedang berkembang biak jadi baby." jawab Daren ngasal.


"Terserah kak Daren dah, aku ngatuk mau tidur."


Mendegar itu, Daren bangun dari tidurnya, bersiap mengedong Fany masuk kedalam kamar.


"Mau ngapain?" Fany melotot matanya pada Daren.


"Mau gendong kamu." jawabnya acuh.


"Aku bisa sendiri kak, lagian cuma ke kamar aja masa ia capek." gerutu Fany bangkit dari duduknya, berjalan mendahului Daren.


Saat akan menapaki anak tangga, Daren buru-buru merangkul pundak Fany. "Kak, anak tangganya kurang dari sepuluh, nggak usah di papah, aku berasa orang sakit keras aja." Fany bisa gila, jika sikap Daren begini terus.


"Hmm, baiklah." Akhirnya Daren mangalah, melepaskan rangkulannya lalu berjalan ke arah dapur.


Dia kembali ke kamar, memegang satu gelas susu di tangannya. "Minum dulu susunya sebelum tidur sayang."


"Oh iya, makasih kak." Fany meminum susu hamil itu hingga tandas lalu kembali memberikannya pada Daren.


"Mau kemana?" cegah Fany saat melihat Daren melangkah keluar kamar.


"Mau ke dapur, nyimpen ini." Daren memperlihatkan gelas kosong di tangannya.


"Aku mau tidur." ucapnya manja.


"Ya udah tidur aja."


"Peluk." Fany merentangkan tangannya.


Ah manja sekali ibu hamil itu.


Daren berjalan mendekat, meletakka gelas kosong di atas nakas, membaringkan tubuhnya di samping Fany, merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah gadis itu di ceruk lehernya, mengelus dan sesekali mengecup puncak kepala Fany.


"Tidur yang nyeyak."


"Hmm."


***


Huek...huek...huek.


Tidur Daren terganggu saat mendengar suara bising di kamar mandi, dia menyipitkan matanya, meraba tempat di sampingnya namun tak menemukan sang istri.


Dia beralih melihat jam, 05 : 15 gila masih pagi sekali, buru-buru dia ke kamar mandi menyusul sang istri.


Daren mengurut pelan pundak Fany, sesekali dia ikut meringis melihat betapa tersiksanya gadis itu pagi-pagi buta seperti ini.


"Ada yang sakit, hm?" tanya Daren mengusap bekas air mata di pipi Fany akibat muntah-muntah.


Fany mengeleng lemah. Dia menahan tangan Daren yang hendak mengendongnya.


Huek...huek...huek.


Fany kembali muntah, walau hanya air bening yang keluar. Dia menepis tangan Daren. "Udah kak Daren keluar aja, nggak jiji apa liat aku muntah."


"Udah muntah aja, aku temenin." Daren kembali memegang lengan Fany, tubuh gadis itu benar-benar lemah.


Satu hal yang Daren takutkan, Dia takut Fany akan seperti ibunya saat melahirkannya dan dia tidak mau itu terjadi. Jadi untuk saat ini dia mulai mengantisipasi kesehatan calon baby dan juga istrinya.


...TBC...


...****************...


Ada yang nungguin bang Daren semalam nggak? heheh maaf ya author hilang ide, jadinya nggak up.


Cie yang bentar lagi jadi auntie online🤭


Yuk ramein di kolom komentar, kalau perlu spam komen dah.